Malang – Dari peta desa hingga ember berisi ikan dan sayuran, inovasi sederhana menjadi jembatan untuk menggali potensi lokal. Kelompok 35 Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Bakti Akademisi untuk Negeri (BAHARI) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menjalankan program pemetaan wilayah sekaligus sosialisasi dan pelatihan Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) di Desa Pandanrejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung di Desa Pandanrejo pada Ahad (9/8/2026) tersebut difokuskan pada dua program utama. Mahasiswa melakukan pemetaan untuk memperbarui informasi mengenai wilayah dan mengidentifikasi berbagai potensi desa yang masih dapat dikembangkan. Pada saat bersamaan, masyarakat mendapat pengenalan mengenai Budikdamber sebagai alternatif budidaya ikan dan tanaman yang dapat dilakukan di lingkungan rumah dengan memanfaatkan ruang terbatas.
Pemetaan wilayah dilakukan sebagai salah satu langkah awal untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi Desa Pandanrejo. Melalui pengumpulan dan penyusunan informasi, mahasiswa berupaya menghasilkan data wilayah yang dapat mempermudah masyarakat maupun pendatang dalam mengenali lingkungan desa, sekaligus menjadi referensi bagi pengembangan potensi lokal pada masa mendatang.
“Untuk pemetaan sudah dilakukan pembaruan yang cukup bagus, dan dampak ke depannya mungkin bermanfaat sebagai acuan untuk orang yang datang di Desa Pandanrejo,” kata Yosep Suwanto, salah satu staf Pemerintah Desa Pandanrejo.
Keberadaan pemetaan yang lebih mutakhir diharapkan bukan hanya membantu orientasi wilayah, tetapi juga mendukung pemerintah desa dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, instansi, maupun pihak lain yang berkunjung. Data tersebut juga berpotensi menjadi pijakan awal untuk mengenali titik-titik yang memiliki peluang pengembangan sesuai kebutuhan desa.

Selain pemetaan, Kelompok 35 PKM-Bahari FPIK UB juga melibatkan anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta ibu-ibu kader Desa Pandanrejo dalam sosialisasi dan pelatihan Budikdamber. Program ini mengenalkan metode pemeliharaan ikan dan tanaman dalam satu sistem sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga tanpa membutuhkan lahan luas.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai prinsip dasar Budikdamber, pemilihan jenis ikan dan tanaman, tahapan pembuatan wadah, hingga cara melakukan pemeliharaan sampai masa panen. Pengetahuan itu diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan pekarangan atau ruang terbatas untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri.
“Program kerja dari Adik Adik UB yaitu Budikdamber ini cukup bermanfaat di Desa Pandanrejo. Selain menambah ekonomi keluarga, bermanfaat juga untuk mencegah stunting yang ada di desa ini dengan adanya hasil Budikdamber tersebut seperti ikan serta sayurannya yang juga bermanfaat,” ungkap Kasiati selaku Ketua Kader Posyandu Desa Pandanrejo.
Pemanfaatan Budikdamber dinilai membuka peluang bagi keluarga untuk memperoleh sumber ikan dan sayuran dari lingkungan rumah sendiri. Apabila dikembangkan secara konsisten, hasil budidaya juga berpeluang memberikan nilai ekonomi tambahan dan menjadi alternatif kegiatan produktif bagi masyarakat.
Ketua RW 1 Desa Pandanrejo, Sigit Winardi, juga menilai pemetaan wilayah maupun Budikdamber sama-sama memiliki manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Desa Pandanrejo ini desa yang kecil sehingga ada beberapa tempat yang masih sulit dijangkau, dalam pemetaan ini cukup membantu untuk masyarakat serta tamu baik dari instansi atau kantor yang berkunjung dan mendapatkan informasi terkait desa ini. Program Budikdamber yang juga cukup membantu mensukseskan UMKM serta sebagai terobosan baru bagi perekonomian warga desa,” kata Sigit.
Rangkaian program tersebut turut memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Budikdamber mendukung SDG 2 atau Zero Hunger melalui pemanfaatan ruang untuk penyediaan pangan rumah tangga. Sementara pemetaan wilayah sejalan dengan SDG 11 atau Sustainable Cities and Communities, sedangkan kerja sama mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat mencerminkan semangat SDG 17 atau Partnerships for the Goals.
Kolaborasi antara mahasiswa dan warga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. Selain membawa pengetahuan dari lingkungan akademik ke tengah masyarakat, kegiatan ini juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dan karakteristik desa secara langsung sehingga program yang dijalankan dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.
Melalui pemetaan dan pengenalan Budikdamber, Kelompok 35 PKM-Bahari FPIK UB berharap Desa Pandanrejo memiliki informasi wilayah yang semakin baik sekaligus alternatif kegiatan produktif yang dapat diterapkan secara mandiri. Keberlanjutan program di tangan masyarakat diharapkan mampu memperkuat pemanfaatan potensi desa, ketahanan pangan keluarga, serta peluang peningkatan ekonomi warga.
