Malang – Ikan lele tidak lagi hanya identik dengan menu goreng biasa. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim pakar dari Universitas Brawijaya (UB) hadir membina para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Arjosari, Kota Malang, untuk mengolah lele menjadi aneka jajanan modern yang lezat, gurih, dan sarat gizi.
Program bertajuk “Akselerasi GEMARIKAN (Gerakan Makan Ikan) Melalui Penguatan Teknologi dan Diversifikasi Produk Olahan Lele untuk UMKM Berdaya Saing di Kelurahan Arjosari Kota Malang” ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Dwi Setijawati, M.Kes. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, berkolaborasi dengan Pusat Studi Pengembangan Pangan Lokal UB dan tim serta mahasiswa KKN-DM UB.
Menjawab Tantangan Pasokan dan Kejenuhan Pasar
Kelurahan Arjosari memiliki potensi besar dengan keberadaan UMKM pengolah lele yang didukung pasokan bahan baku dari pembudidaya lokal, PT ABL, sekitar 200 kilogram per hari.
Namun, potensi ini sebelumnya belum tergali maksimal. Masyarakat sering kali bosan dengan olahan lele konvensional, sementara UMKM menghadapi kendala alat produksi yang masih sederhana, minimnya inovasi menu olahan, serta keterbatasan izin usaha dan jangkauan pemasaran.
Melalui intervensi teknologi seperti penggunaan mesin pencacah (chopper), oven, dan pisau khusus membuat fillet, proses produksi kini menjadi jauh lebih cepat, bersih, dan efisien.

Sulap Lele Jadi 5 Produk Olahan Ciamik
Pendampingan ini fokus pada pelatihan praktis, mulai dari tata cara pengolahan ikan yang higienis, penerapan standar sanitasi, hingga pembuatan produk baru.
Terdapat lima varian olahan lele berprotein tinggi yang berhasil dikembangkan dan siap bersaing di pasaran:
- Stik Lele: Renyah dan cocok untuk camilan harian.
- Mendol Lele: Inovasi makanan khas Malang dengan bahan baku ikan.
- Lele Krispi: Balutan tepung renyah dengan rasa gurih yang disukai anak-anak.
- Basreng Lele: Bakso goreng renyah kaya protein.
- Rambak Kulit Lele: Kerupuk kulit lele yang gurih dan bernilai jual tinggi.
Langkah diversifikasi ini membuat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) lebih mudah diterima masyarakat luas. Ikan disajikan dalam bentuk kekinian yang praktis, bergizi tinggi, dan disukai semua kalangan.
Menariknya, olahan seperti stik lele dan mendol lele kini diproses dengan metode pemanggangan (oven) tanpa digoreng, sehingga bebas dari minyak tambahan. Secara medis, metode ini jauh lebih sehat terutama bagi kelompok usia di atas 40 tahun karena dapat mencegah pembentukan lemak trans dan akumulasi kalori berlebih.
Dengan begitu, asam lemak omega-3 alami dan protein tinggi pada ikan lele tetap terjaga utuh tanpa memicu risiko lonjakan kolesterol maupun gangguan kardiovaskular, ujar Prof. Dwi Setijawati.
Dorong Legalitas dan Perluas Pemasaran
Tidak hanya fokus pada dapur produksi, tim UB juga memberikan pendampingan menyeluruh pada aspek legalitas dan bisnis. Para pelaku UMKM dibimbing dalam pemahaman label pangan yang menarik, desain packaging yang menarik konsumen, pengurusan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), serta strategi pemasaran modern.
Produk olahan lele dari Kelurahan Arjosari diharapkan tidak lagi hanya dikenal dan dipasarkan di lingkungan sekolah maupun pasar lokal, tetapi mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki daya saing.
Ke depan, mendol lele panggang diharapkan dapat menjadi salah satu produk khas yang turut memperkenalkan potensi kuliner lokal. Dengan pertimbangan bahwa Kota Malang dan Batu merupakan daerah destinasi wisata, mendol lele berpeluang dikembangkan sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas yang dapat dibawa pulang wisatawan sekaligus menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat setempat dan UMKM Mabele Balearjosari Kota Malang.
