Jember.– Peta politik Jawa Timur mulai menarik perhatian terhadap sosok Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait. Selain memimpin pemerintahan di salah satu kabupaten dengan jumlah penduduk besar di Jawa Timur, Gus Fawait dinilai memiliki sejumlah modal yang relevan untuk dibaca dalam dinamika kepemimpinan di tingkat provinsi.
Peneliti Utama PAR Strategy Center Ahmad Deni Rofiqi menyebut sedikitnya ada lima modal yang melekat pada Gus Fawait. Kelimanya meliputi latar belakang santri, usia relatif muda, hubungan dengan pemerintah pusat, kapasitas akademik, serta pengalaman memimpin pemerintahan daerah.
Namun, Deni mengingatkan bahwa modal tersebut bukan tiket otomatis menuju dukungan politik. Seluruhnya masih harus dibuktikan melalui kinerja, rekam jejak, kualitas kebijakan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Kalau kita melihat Gus Fawait dalam perspektif politik Jawa Timur, ada sejumlah modal yang perlu dibaca secara objektif. Modal tersebut bukan jaminan elektoral, tetapi dapat menjadi faktor yang membentuk ruang politik seseorang,” kata Deni.
1. Latar Santri dan Kedekatan dengan Basis Pesantren.Menurut Deni, latar belakang santri menjadi salah satu modal sosial yang dimiliki Gus Fawait .Jawa Timur dikenal memiliki jaringan pesantren dan komunitas keagamaan yang kuat. Karena itu, pengalaman pendidikan agama serta hubungan dengan lingkungan pesantren dinilai menjadi bagian dari modal komunikasi sosial.
Meski demikian, Deni menilai latar belakang tersebut tidak dapat dipandang sebagai jaminan dukungan politik.
“Identitas sosial dan keagamaan dapat menjadi modal komunikasi. Akan tetapi, modal tersebut tetap perlu dibuktikan melalui kerja pemerintahan dan hubungan yang konsisten dengan masyarakat,” ujarnya.
Artinya, modal sosial tersebut baru memiliki bobot lebih jauh apabila berjalan beriringan dengan rekam jejak dan kebijakan yang dapat diterima masyarakat.
2. Usia Muda Membawa Isu Regenerasi.Modal kedua adalah usia.Gus Fawait termasuk kepala daerah dari generasi muda di Jawa Timur. Deni melihat kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi munculnya pendekatan baru dalam pemerintahan.Perubahan teknologi, karakter generasi muda, hingga perubahan kebutuhan masyarakat menuntut pemerintah untuk terus beradaptasi.
“Anak muda memiliki ruang untuk menawarkan perspektif baru. Akan tetapi, usia harus diikuti kapasitas, pengalaman, dan kemampuan mengelola pemerintahan,” kata Deni.
Dengan demikian, faktor usia menurutnya perlu dibaca bersama kemampuan Gus Fawait dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan publik.
3. Hubungan dengan Pemerintah Pusat.Modal berikutnya adalah hubungan dengan pemerintah pusat.Deni menilai koneksi pusat-daerah dapat menjadi instrumen penting dalam memperjuangkan kepentingan pembangunan daerah. Namun, kedekatan politik menurutnya tidak cukup jika tidak menghasilkan manfaat konkret.
“Hubungan dengan pusat harus diterjemahkan menjadi manfaat yang terukur bagi masyarakat. Bukan hanya kedekatan politik, melainkan kemampuan melakukan negosiasi kebijakan dan memastikan program berjalan,” ujarnya.
Kemampuan mengakses program pusat, dukungan anggaran, maupun membangun kerja sama lintas kementerian menjadi indikator yang menurutnya lebih relevan untuk dilihat.
4. Kapasitas Akademik Harus Terlihat dalam Kebijakan.Deni juga menyoroti latar belakang akademik Gus Fawait.Menurut dia, kapasitas pendidikan akan memiliki arti strategis apabila dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan publik yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Karena itu, berbagai agenda Pemkab Jember menjadi bagian yang dapat diamati untuk melihat bagaimana gagasan tersebut diterapkan dalam pemerintahan.Di antaranya pengentasan kemiskinan, UHC, Home Care, beasiswa, hingga peningkatan PAD.
“Kalau ingin membaca modal Gus Fawait dalam konteks Jawa Timur, kita tidak cukup melihat latar belakang pendidikannya. Kita juga perlu melihat bagaimana kapasitas tersebut diterjemahkan dalam kebijakan, terutama dalam menjawab persoalan kemiskinan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penguatan fiskal daerah,” jelas Deni.
Ia menekankan, keberhasilan program pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diluncurkan. Capaian, keberlanjutan, ketepatan sasaran, dan dampak terhadap masyarakat juga harus menjadi ukuran.
“Program pemerintah harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Apakah kemiskinan berkurang, apakah masyarakat lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan, apakah akses pendidikan meningkat, dan apakah penguatan PAD menghasilkan ruang fiskal yang lebih sehat. Semua itu perlu dibaca melalui data dan evaluasi,” katanya.
5. Pengalaman Memimpin Jember Jadi Rekam Jejak.Modal terakhir adalah pengalaman pemerintahan.Sebagai Bupati Jember, Gus Fawait berhadapan langsung dengan berbagai persoalan birokrasi, anggaran, pelayanan publik, pembangunan, serta kebutuhan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi rekam jejak yang dapat diamati publik.Namun, Deni memberikan catatan bahwa kompleksitas pemerintahan kabupaten dan provinsi berbeda.Jawa Timur memiliki wilayah yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta persoalan pembangunan dan fiskal yang lebih kompleks.
“Pengalaman pemerintahan daerah merupakan modal yang penting, tetapi kapasitas memimpin provinsi harus dilihat dari kemampuan mengelola persoalan yang lebih luas,” ujarnya.
Bukan Sekadar Nama, Kinerja yang Akan Diuji.Deni kemudian menempatkan kelima modal tersebut sebagai titik awal untuk membaca perjalanan politik Gus Fawait.
Menurutnya, dinamika politik Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh identitas, usia, maupun hubungan politik. Kinerja pemerintahan, konsistensi kebijakan, komunikasi dengan masyarakat, serta manfaat pembangunan menjadi bagian yang akan membentuk penilaian publik.
“Modal politik adalah titik awal untuk dianalisis. Pada akhirnya, masyarakat akan melihat bagaimana seorang pemimpin bekerja, kebijakan apa yang dihasilkan, dan sejauh mana kebijakan itu memberikan manfaat,” tegasnya.
Nama Gus Fawait sebelumnya disebut masuk dalam lima besar figur potensial untuk Pilkada Jawa Timur berdasarkan survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).
Menanggapi munculnya namanya dalam pembicaraan politik Jawa Timur, Gus Fawait menyatakan tetap fokus menjalankan pembangunan di Jember. Sementara terkait persoalan pencalonan, ia menyerahkannya kepada kewenangan pimpinan partai di tingkat pusat.
Dengan posisi tersebut, dinamika mengenai Gus Fawait di tingkat Jawa Timur masih akan sangat bergantung pada perjalanan pemerintahan di Jember, perkembangan komunikasi politik, serta bagaimana masyarakat membaca rekam jejak dan kebijakan yang dijalankannya.
