Kota Mojokerto – “Setiap detik berarti” ketika seseorang mengalami kondisi kegawatdaruratan. Kesadaran itu menjadi napas dalam pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang digelar Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Atrium Sunrise Mall, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini tidak hanya mengajak masyarakat menerapkan hidup sehat, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dasar untuk membantu menyelamatkan nyawa.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat memperoleh pembekalan bersama dr. Achmad Rizal Shahab mengenai cara mengenali tanda-tanda seseorang mengalami henti jantung. Peserta juga mempelajari langkah pertolongan pertama melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP), termasuk respons awal yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan seseorang.
Pelatihan dirancang agar peserta tidak berhenti pada pemahaman teori. Mereka juga mendapatkan pengalaman praktik sehingga dapat memahami tindakan awal yang harus dilakukan sebelum korban memperoleh penanganan lebih lanjut dari tenaga medis maupun layanan kegawatdaruratan.
Membuka kegiatan tersebut, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita menyampaikan bahwa kondisi darurat seperti serangan jantung mendadak membutuhkan respons cepat. Menurutnya, keberadaan layanan kegawatdaruratan perlu diimbangi dengan pengetahuan dasar masyarakat agar pertolongan awal dapat diberikan sedini mungkin.
“Karena itu Kota Mojokerto hadir dengan adanya PSC 119. Ada juga sinergi dengan PMI Kota Mojokerto yang memberikan layanan 24 jam terkait dengan kegawatdaruratan. Selain itu, di Balai Kota Mojokerto juga tersedia call center 112 yang selama 24 jam,” kata Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto.
Ia menjelaskan, penanganan kondisi darurat di Kota Mojokerto melibatkan berbagai unsur yang saling terhubung, mulai dari PSC, Polres Mojokerto Kota, pemadam kebakaran, PMI hingga instansi terkait lainnya. Kolaborasi itu ditujukan untuk mempermudah masyarakat memperoleh pertolongan ketika menghadapi situasi darurat.
“Kami ingin di kota yang kecil namun penuh dengan masyarakat yang hadir dari berbagai daerah ini, dalam hal urusan kesehatan, masyarakat bisa terlayani dengan baik. Kami juga menggunakan teknologi informasi agar masyarakat bisa mengaksesnya dengan lebih cepat,” tuturnya.
Menurut Ning Ita, pelayanan kegawatdaruratan menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di tengah tingginya mobilitas perkotaan. Karena itu, akses pelayanan diharapkan dapat dirasakan tidak hanya oleh warga yang menetap di Kota Mojokerto, tetapi juga masyarakat dari luar daerah yang bekerja maupun menjalankan aktivitas di kota tersebut.
Di samping kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, Ning Ita menilai peningkatan kualitas kesehatan perlu berjalan bersama pembangunan kualitas hidup masyarakat. Dalam sambutannya, ia menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Mojokerto telah mencapai 82,35 dan masuk kategori sangat tinggi. Indeks tersebut mencakup komponen kesehatan, pendidikan, dan standar hidup masyarakat.
“Dari indeks kesehatan, kita upayakan bagaimana usia harapan hidup masyarakat Kota Mojokerto terus mengalami peningkatan. Warga Kota Mojokerto harus berumur panjang tapi sehat. Bukan berumur panjang tapi banyak yang terkena penyakit,” tegasnya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan lainnya. Upaya promotif dan preventif, kolaborasi lintas pihak, serta keterlibatan masyarakat perlu diperkuat agar kesehatan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
“Mari kita terapkan pola hidup bersih dan sehat. Kesehatan kita di masa yang akan datang ditentukan dari pola hidup kita sehari-hari sejak saat ini,” tuturnya.
Melalui pelatihan BHD, masyarakat diharapkan mempunyai dua bekal sekaligus, yakni kesadaran menjaga kondisi tubuh dan kemampuan mengambil tindakan awal ketika menjumpai seseorang dalam kondisi darurat. Pengetahuan mengenai RJP menjadi penting karena pertolongan pertama yang cepat dapat menjadi bagian dari respons sebelum layanan medis tiba.
“Ketika kita membudayakan hidup sehat, maka insyaallah usia harapan hidup kita bisa panjang dan kita bisa menua dengan sehat, terbebas dari segala penyakit,” pungkasnya.
Pelatihan BHD menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Mojo Health Fest 2026 yang diselenggarakan Dinkes PPKB Kota Mojokerto. Rangkaian kegiatan kesehatan tersebut juga menghadirkan Seminar Kesehatan bertajuk “Safe Running Happy Finishing” serta kegiatan lari “Run for Your Life”.
Melalui rangkaian Mojo Health Fest 2026, Pemerintah Kota Mojokerto mendorong masyarakat membangun budaya hidup sehat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat. Bekal pengetahuan dan keterampilan BHD diharapkan membuat semakin banyak warga mampu memberikan respons awal secara cepat dan tepat ketika kondisi mengancam nyawa terjadi di lingkungan sekitar.
