Mojokerto – Meja makan bisa menjadi “ruang belajar” yang tak kalah penting dari kelas. Konsep prasmanan dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Garuda Trowulan mendapat apresiasi dari Mayjen (Purn.) R. Gautama Wiranegara. Pembina Pondok Pesantren Segoro Agung itu menilai pola pelayanan tersebut bukan sekadar cara menyajikan makanan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kedisiplinan, kesetiakawanan dan kebersamaan di antara para siswa.
Gautama menyampaikan apresiasi terhadap pilot project prasmanan MBG yang diterapkan SPPG Garuda Trowulan di lingkungan MTs Tahfidzul Qur’an Segoro Agung, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Menurutnya, mekanisme makan bersama dengan pola prasmanan memiliki dimensi pendidikan yang kuat karena anak-anak secara langsung berhadapan dengan kebiasaan mengantre, menunggu giliran, menghormati teman serta membangun rasa kebersamaan saat menikmati makanan.
“Luar biasa Mas , prasmanan SPPG Garuda Trowulan sbg Pilot Project dan memang dr situlah akan terbentuk kedisiplinan , kesetiakawanan dan kebersamaan.”
Pernyataan tersebut disampaikan Gautama melalui pesan pribadi pada Selasa (6/10/2026). Apresiasi itu sekaligus menunjukkan bahwa pola prasmanan dapat dipandang lebih luas dari sekadar teknis pembagian menu MBG. Ada proses pembiasaan yang dapat tumbuh dari meja makan, terutama ketika anak-anak diberi ruang untuk memahami bahwa mereka menjadi bagian dari komunitas dan harus memperhatikan hak orang lain.
Dalam praktiknya, konsep prasmanan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar tertib ketika mengambil makanan. Mereka tidak hanya menerima hidangan, tetapi juga berhadapan dengan pilihan dan tanggung jawab. Dari proses sederhana tersebut, nilai kejujuran dapat diperkenalkan melalui kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan, sedangkan kedisiplinan tumbuh saat anak mengikuti aturan serta menunggu giliran dengan tertib.
Kebersamaan juga menjadi nilai penting dalam konsep tersebut. Aktivitas makan yang berlangsung bersama-sama dapat membentuk suasana sosial yang mendorong anak saling menghargai. Kesetiakawanan tidak selalu harus diajarkan melalui teori, tetapi bisa dilatih melalui kebiasaan sederhana, termasuk tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan serta memberikan kesempatan kepada teman lain memperoleh hak yang sama.
Penerapan prasmanan dalam Program MBG di SPPG Garuda Trowulan sebelumnya juga mendapat perhatian dari KH Bimo Agus Sunarno. Gagasan yang dikembangkan menempatkan kegiatan makan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Artinya, pemenuhan kebutuhan gizi berjalan beriringan dengan upaya menumbuhkan kebiasaan positif pada anak sejak usia sekolah.
SPPG Garuda Trowulan yang berada di kawasan Trowulan diharapkan dapat memperlihatkan bagaimana pelaksanaan program pemenuhan gizi bisa dikembangkan dengan pendekatan edukatif. Model prasmanan menjadi ruang bagi siswa untuk menjalani proses belajar secara nyata, bukan melalui ceramah, melainkan melalui perilaku sehari-hari yang dilakukan berulang kali.
Bagi dunia pendidikan, pola pembiasaan semacam ini memiliki arti penting. Karakter disiplin, jujur, bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama tidak terbentuk secara instan. Nilai tersebut membutuhkan ruang praktik agar menjadi kebiasaan. Sekolah maupun pesantren memiliki kesempatan besar menanamkannya melalui aktivitas rutin yang dekat dengan kehidupan anak, termasuk pada saat makan bersama.
Pilot project MBG prasmanan juga membuka perspektif bahwa keberhasilan program makanan bergizi dapat dilihat tidak hanya dari makanan yang sampai kepada penerima manfaat. Cara makanan diberikan, suasana saat anak makan, hingga kebiasaan yang dibangun selama proses tersebut dapat menjadi bagian dari manfaat program.
Apresiasi Gautama memperkuat pesan bahwa meja makan dapat menjadi titik awal pendidikan sosial bagi anak. Ketika pemenuhan gizi dipadukan dengan disiplin, kejujuran, kesetiakawanan dan kebersamaan, MBG prasmanan SPPG Garuda Trowulan tidak sekadar menghadirkan makanan bagi siswa, tetapi juga membawa misi membangun kebiasaan baik sebagai bekal kehidupan mereka di masa mendatang.
