Pagi 28 September 2026 terasa sedikit berbeda di Tenggarong. Saya sengaja memperlambat kendaraan ketika melewati Jalan Diponegoro. Bendera merah, kuning, dan hijau terlihat menghiasi sejumlah sudut jalan. Spanduk ucapan ulang tahun kota terpasang di berbagai tempat. Dari arah warung dekat Museum Mulawarman, aroma kopi bahkan ikut menyelinap ke jalan.
Hari ini Tenggarong genap berusia 244 tahun. Angka yang panjang. Bahkan mungkin lebih panjang dari usia sebagian besar bangunan dan generasi yang sekarang tinggal di kota ini.
Namun, ulang tahun sebuah kota seharusnya tidak berhenti pada ucapan selamat, pesta, atau unggahan media sosial. Ada hal lain yang jauh lebih penting, yakni melihat kembali bagaimana kota ini tumbuh dan ke mana arahnya setelah 244 tahun.
Bagi saya, Tenggarong bukan sekadar titik di peta Kalimantan Timur. Di sinilah banyak kenangan tumbuh. Ada Tepian Mahakam, Kedaton Kutai Kartanegara, pasar, sekolah, warung kopi, jalan-jalan yang dulu terasa sepi, hingga sudut kota yang sekarang berubah menjadi tempat nongkrong anak muda.
Dulu, Tepian Mahakam terasa paling ramai ketika Erau berlangsung. Sekarang, hampir setiap sore ada saja kehidupan di sana. Anak muda duduk mengobrol, pedagang kecil mencari pelanggan, keluarga menikmati senja, sementara aliran Mahakam terus berjalan seperti tidak pernah peduli dengan perubahan zaman.
Tenggarong memang berubah. Pertanyaannya, apakah perubahan itu sudah dirasakan semua orang?
Tenggarong di Usia 244 Tahun: Ekonomi Bergerak, Tapi Siapa yang Menikmatinya?
Ada satu hal yang sulit dibantah, Tenggarong bukan kota yang sedang diam. Aktivitas perdagangan terus berjalan. Warung makan bermunculan. Minimarket semakin mudah ditemukan. Usaha jasa, kuliner, hingga bisnis berbasis digital mulai menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Data BPS yang menjadi rujukan dalam pembahasan kondisi Tenggarong mencatat pada 2024 terdapat kelompok pertokoan, pasar permanen, pasar tanpa bangunan, minimarket, restoran dan rumah makan, serta perbankan yang beroperasi di wilayah ini.
Bagi saya, angka-angka tersebut menunjukkan sesuatu yang sederhana, uang terus berputar di Tenggarong. Tetapi di sinilah rapor kota mulai menjadi lebih menarik untuk dibaca. Sebuah kota bisa terlihat ramai tanpa semua warganya otomatis menjadi sejahtera.
Toko baru bisa berdiri. Restoran bisa penuh. Pusat perbelanjaan bisa ramai. Namun, di sisi lain, masih ada keluarga yang harus menghitung uang belanja sampai akhir bulan.
Data kemiskinan juga mengingatkan bahwa persoalan kesejahteraan belum selesai. Pendataan Dinas Sosial Kutai Kartanegara pada 2025 mencatat angka kemiskinan Tenggarong sekitar 9,86 persen. Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik.
Di balik persentase itu ada keluarga, pekerja informal, pedagang kecil, buruh, dan orang-orang yang mungkin setiap pagi membuka pintu rumah dengan pertanyaan yang sama: hari ini harus mendapatkan penghasilan berapa?
Saya pernah mendengar keluhan serupa dari pelaku usaha kecil di sekitar kawasan Kedaton. Persaingan semakin ketat. Selera konsumen berubah cepat. Warung tradisional harus berhadapan dengan bisnis waralaba dan tempat makan yang menawarkan konsep lebih modern.
“Orang sekarang cari yang kekinian,” begitu kira-kira keluhannya.
Kalimat sederhana, tetapi menggambarkan perubahan perilaku konsumen dengan cukup jelas.
Karena itu, tantangan Tenggarong ke depan bukan hanya bagaimana mendatangkan lebih banyak investasi. Tantangannya adalah memastikan pelaku usaha lokal juga memiliki kesempatan untuk tumbuh. Apalagi posisi Tenggarong kini semakin menarik ketika pembangunan Ibu Kota Nusantara terus berjalan.
Kita memang tidak bisa mengatakan bahwa Tenggarong otomatis akan mendapatkan seluruh dampak ekonomi IKN. Namun, arus manusia, barang, jasa, dan peluang di Kalimantan Timur jelas mengalami perubahan. Pertanyaannya bukan sekadar apakah Tenggarong akan terkena dampak pembangunan IKN.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa siap warga Tenggarong mengambil peluang tersebut?
Sekolah, Rumah Sakit, Air Bersih: Rapor Pelayanan Publik Belum Boleh Berhenti di Angka
Kalau bicara pendidikan, Tenggarong sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat. Ada puluhan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan sederajat, hingga perguruan tinggi. Keberadaan Universitas Kutai Kartanegara juga membuat anak-anak muda memiliki pilihan untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus selalu meninggalkan daerah.
Tetapi sekolah yang tersedia hanyalah satu bagian dari cerita. Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kualitas guru, fasilitas, akses teknologi, kemampuan keluarga membiayai pendidikan, dan kesempatan anak muda mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Begitu pula dengan sektor kesehatan. Tenggarong memiliki fasilitas kesehatan dan apotek yang cukup membantu kebutuhan masyarakat. Untuk keluhan kesehatan sehari-hari, warga tidak selalu harus pergi jauh ke luar daerah.
Namun, pelayanan publik pada akhirnya bukan hanya soal jumlah fasilitas. Yang dirasakan warga adalah hal-hal sederhana.
Apakah antreannya panjang? Apakah tenaga medis cukup? Apakah obat tersedia? Apakah masyarakat bisa mendapatkan pelayanan ketika benar-benar membutuhkan?
Begitu juga dengan air bersih. Air sering kali baru terasa penting ketika keran tiba-tiba tidak mengeluarkan apa-apa.
Jaringan Perumda Tirta Mahakam menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Cakupan pelayanan yang pernah mencapai sekitar 94,25 persen penduduk menunjukkan bahwa sebagian besar warga telah mendapatkan akses jaringan.
Tetapi pekerjaan rumahnya belum selesai. Air harus tersedia secara konsisten. Kualitasnya harus dijaga. Gangguan distribusi perlu diminimalkan. Sebab, bagi masyarakat, keberhasilan layanan air bukan sekadar angka persentase.
Ukuran sederhananya adalah ketika seseorang membuka keran dan air benar-benar mengalir. Persoalan lain adalah sanitasi.
Di tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara, akses sanitasi layak masih belum mencapai seluruh rumah tangga. Ini mengingatkan kita bahwa kota yang sehat tidak cukup hanya memiliki taman yang bagus dan jalan yang bersih.
Ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan rumah masing-masing: toilet, saluran pembuangan, pengelolaan limbah, dan kebersihan lingkungan.
Hal yang sama berlaku untuk banjir. Data resmi bisa menunjukkan kondisi tertentu pada periode tertentu. Namun, pengalaman warga juga merupakan bagian dari cerita kota. Ketika hujan deras turun dan beberapa ruas jalan tergenang, warga tidak akan bertanya berapa statistik tahunan banjir. Mereka hanya ingin tahu satu hal.
“Besok jalan ini masih bisa dilewati atau tidak?”
Dari Mitra Kukar sampai Adipura: Tenggarong Pernah Berjaya, Lalu Apa yang Terjadi?
Ada bagian dari sejarah Tenggarong yang mungkin paling mudah membuat generasi lama tersenyum, yakni sepak bola. Nama Mitra Kukar pernah begitu lekat dengan kota ini. Julukan Naga Mekes bukan sekadar nama klub. Ia menjadi identitas yang dibawa suporter ke stadion.
Stadion pernah dipenuhi suara Mitmania. Mitra Kukar bahkan berhasil memenangkan Piala Jenderal Sudirman 2015. Nama-nama pemain seperti Danny Guthrie dan Mohamed Sissoko juga pernah menghiasi skuad klub tersebut.
Masa itu terasa seperti salah satu periode ketika sepak bola benar-benar menjadi hiburan bersama. Sekarang situasinya berbeda. Mitra Kukar mengalami masa vakum dan perjalanan panjang hingga harus kembali berjuang dari level bawah. Stadion yang dulu riuh tidak selalu memiliki atmosfer yang sama.
Tetapi sepak bola Tenggarong belum benar-benar selesai. Kemunculan klub dan komunitas sepak bola baru seperti Persikukar dan MSA FC Kukar menjadi tanda bahwa semangat itu masih ada. Mungkin bentuknya berbeda. Mungkin jalannya lebih panjang.
Namun, sesuatu yang pernah menjadi kebanggaan tidak harus selalu kembali dengan cara yang sama.
Begitu pula dengan cerita Adipura. Tenggarong pernah meraih Piala Adipura pada 1994, 1995, 1996, dan 2014.
Bagi generasi yang pernah merasakan masa itu, penghargaan tersebut tentu memiliki kenangan tersendiri. Tetapi penghargaan kebersihan sebenarnya bukan tujuan akhir. Kota bersih bukan karena ingin mendapatkan piala.
Kota bersih karena warganya terbiasa tidak membuang sampah sembarangan. Karena selokan tidak dijadikan tempat pembuangan. Karena pedagang menjaga lingkungan sekitar. Karena anak-anak belajar bahwa menjaga kota bukan hanya tugas petugas kebersihan.
Mungkin inilah yang perlu kita ingat kembali. Sebuah kota tidak bisa bergantung pada penghargaan untuk disebut baik.
Anak Muda, Tepian Mahakam, dan Pertanyaan Besar: Tenggarong Mau Dibawa ke Mana?
Untungnya, cerita Tenggarong tidak hanya berisi masalah. Ada energi baru yang muncul dari anak-anak muda. Mereka membuat konten tentang sejarah Kutai dengan gaya yang lebih ringan. Ada komunitas fotografi. Ada pelaku UMKM yang memasarkan produknya lewat media sosial. Ada anak muda yang mencoba membuka usaha meskipun harus bersaing dengan pasar yang semakin cepat berubah.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat dalam forum resmi. Tetapi mereka adalah bagian penting dari masa depan kota.
Tenggarong juga masih memiliki ruang publik yang membuat kota ini terasa manusiawi. Ada Taman Kota Raja, Taman Tanjong, Taman Ulin, Waduk Panji Sukarame, hingga Pulau Kumala.
Tempat-tempat tersebut bukan sekadar objek wisata. Di sanalah warga bertemu. Anak-anak bermain. Orang tua mengajak keluarga berjalan-jalan. Anak muda mencari tempat untuk ngobrol. Pedagang kecil mencoba mendapatkan penghasilan.
Dan tentu saja, ada Tepian Mahakam. Sungai yang sejak dulu menjadi bagian dari kehidupan Tenggarong.
Mungkin justru di tempat-tempat sederhana seperti inilah kita bisa melihat wajah asli kota. Bukan dari gedung pemerintahan. Bukan dari baliho. Bukan pula dari slogan pembangunan. Tetapi dari bagaimana warga menggunakan ruang kotanya.
Karena itu, memasuki usia 244 tahun, saya ingin melihat Tenggarong seperti sebuah rapor. Ada nilai yang patut disyukuri.
Ekonomi bergerak. Fasilitas pendidikan tersedia. Pelayanan kesehatan terus berkembang. Ruang publik masih hidup. Anak muda mulai berani menciptakan peluang.
Tetapi ada pula kolom yang masih perlu diisi.
Kemiskinan belum sepenuhnya selesai. Sanitasi masih membutuhkan perhatian. Kualitas layanan dasar harus terus dijaga. Pelaku usaha kecil membutuhkan ruang yang lebih besar. Keamanan harus dirawat. Kebersihan kota perlu kembali menjadi kebiasaan bersama.
Dan yang paling penting, pembangunan tidak boleh hanya terlihat dari perubahan fisik. Kota yang benar-benar berkembang adalah kota yang membuat warganya merasa memiliki masa depan.
IKN mungkin akan terus tumbuh. Kalimantan Timur akan terus berubah. Teknologi akan mengubah cara orang bekerja, berjualan, belajar, bahkan bersosialisasi.
Tenggarong tidak mungkin bersembunyi dari semua perubahan itu. Namun, Tenggarong juga tidak harus kehilangan jati dirinya.
Justru di sinilah tantangannya.
Bagaimana menjadi kota yang modern tanpa kehilangan sejarah? Bagaimana membuka diri terhadap investasi tanpa membuat usaha kecil tersingkir? Bagaimana menarik wisatawan tanpa menjadikan budaya sekadar pajangan? Bagaimana membuat anak muda punya alasan untuk pulang setelah menyelesaikan pendidikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak gedung baru yang berdiri.
Karena pada akhirnya, kota bukan hanya tentang bangunan. Kota adalah tentang manusia yang tinggal di dalamnya.
Tentang tukang parkir yang berharap rezekinya semakin baik. Tentang pedagang kecil yang ingin usahanya bertahan. Tentang anak sekolah yang bermimpi kuliah. Tentang anak muda yang ingin membangun masa depan tanpa harus selalu pergi. Tentang orang tua yang ingin melihat kotanya tetap nyaman ditinggali.
Jadi, selamat ulang tahun ke-244, Tenggarong.
Semoga kita tidak hanya pandai merayakan usia, tetapi juga berani membaca rapor sendiri. Kalau ada nilai bagus, mari kita pertahankan. Kalau ada nilai merah, jangan disembunyikan.
Sebab, kota yang kita cintai bukan kota yang selalu terlihat sempurna. Kota yang kita cintai adalah kota yang mau mengakui kekurangannya, belajar dari masa lalu, dan terus berusaha menjadi lebih baik.
Dirgahayu Tenggarong ke-244.
Semoga Mahakam tetap mengalir, sejarah tetap hidup, anak-anak muda tetap punya ruang untuk bermimpi, dan setiap warga punya kesempatan yang sama untuk menikmati masa depan kota ini.
Bukan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan bagaimana Tenggarong tumbuh.
