Jember – Pelayanan kesehatan tidak selalu harus menunggu warga datang ke puskesmas atau rumah sakit. Melalui program Home Care, Pemerintah Kabupaten Jember justru mendatangi warga yang mengalami keterbatasan akses, termasuk lansia yang tinggal seorang diri di sekitar kawasan hutan.
Salah satunya dialami Sami (72), warga Desa Curahnongko. Tinggal seorang diri di kawasan yang berada di sekitar hutan membuat akses menuju fasilitas kesehatan menjadi tantangan tersendiri.
Tim Dinas Kesehatan, Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Jember bersama Puskesmas Curahnongko kemudian mendatangi kediaman Sami untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Sami mengalami keluhan pada tulang belakang yang melengkung. Selain itu, kedua kakinya juga kerap terasa ngilu. Kondisi tersebut membuat pelayanan kesehatan secara langsung ke rumah menjadi penting untuk memastikan kondisi kesehatan warga tersebut dapat diperiksa.
Kehadiran tenaga kesehatan di rumah warga sekaligus menggambarkan konsep Home Care yang dikembangkan Pemkab Jember. Program ini tidak hanya berupa kunjungan rutin, tetapi diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing pasien.
Anggota Komisi D DPRD Jember, Ahmad Dhafir Syah, mengatakan Home Care memang ditujukan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan pendekatan pelayanan kesehatan secara langsung.
“Homecare adalah pemberian pelayanan keperawatan maupun medis dengan cara tenaga kesehatan mendatangi sasaran. Ada enam kriteria sasaran yang sudah di-launching,” kata Dhafir, Minggu (27/9/2026).
Enam kelompok sasaran tersebut yakni lansia dengan kartu keluarga tunggal yang membutuhkan perawatan, penyandang disabilitas, ibu hamil risiko tinggi, penderita penyakit kronis, keluarga dengan balita stunting, serta keluarga dengan kemiskinan ekstrem yang memiliki masalah kesehatan.
Dhafir menegaskan, masyarakat juga perlu memahami bahwa Home Care tidak berarti setiap pasien harus dikunjungi tenaga kesehatan setiap hari.
Setelah pemeriksaan awal, kondisi pasien akan dinilai untuk menentukan bentuk pelayanan selanjutnya. Pasien yang membutuhkan rawat inap akan dirujuk ke puskesmas atau salah satu dari tiga RSUD sesuai domisili.
Sementara pasien yang masih dapat menjalani rawat jalan akan mendapatkan obat untuk kebutuhan dua hingga tiga hari. Jika kondisinya membaik, kunjungan dapat dihentikan. Namun apabila belum membaik, tenaga kesehatan dapat kembali melakukan kunjungan berdasarkan rekam medis pasien.
“Jadi tidak harus setiap hari didatangi. Kalau sudah membaik tapi belum 100 persen, akan ada telemedicine dan obat diantar sampai rumah, tidak perlu ambil ke Puskesmas,” tegasnya.
Program tersebut didukung sekitar 1.200 tenaga kesehatan dari 50 puskesmas di Kabupaten Jember.
Lebih dari sekadar pemeriksaan medis, kunjungan Home Care juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengetahui persoalan sosial yang dihadapi keluarga pasien.
Jika dalam kunjungan ditemukan persoalan seperti kebutuhan jambanisasi atau bedah rumah, temuan tersebut dapat menjadi masukan bagi organisasi perangkat daerah terkait untuk ditindaklanjuti.
Bagi Sami, kedatangan tenaga kesehatan ke rumahnya memberikan kemudahan tersendiri. Ia tidak perlu menempuh perjalanan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Dengan sederhana, Sami menyampaikan rasa terima kasih atas pelayanan yang diterimanya.
“Maturnuwun Gus Bupati, Bapak Ibu maturnuwun kulo,” ucap Mbah Sami.
Kisah Sami menjadi salah satu gambaran bagaimana Home Care diarahkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga yang memiliki keterbatasan akses, bukan sekadar menambah jumlah kunjungan tenaga medis ke rumah.
