TANGERANG SELATAN – Pembelajaran tentang pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Dosen juga perlu hadir langsung di sekolah untuk melihat, mengalami, dan merefleksikan bagaimana pembelajaran berlangsung dalam konteks nyata. Semangat inilah yang melandasi pelaksanaan Program Dosen ke Sekolah (PDS) oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Sampoerna Academy BSD pada 9 Februari hingga 9 Maret 2026.
Program ini diikuti oleh tiga dosen PGSD FIP UNJ, yaitu Venna Puspita Sari, S.Pd., M.A., Dessy Norma Juita, M.Pd., dan Anastasya Artha Uli, M.Psi., dengan didampingi oleh Prof. Dr. M. Syarif Sumantri, M.Pd.
Kehadiran tim dosen PGSD FIP UNJ disambut oleh National Principal Sampoerna Academy BSD, Juninarita, bersama jajaran sekolah. Pertemuan awal tersebut menjadi pintu masuk bagi para dosen untuk mengenal lebih dekat ekosistem pendidikan yang dikembangkan di Sampoerna Academy BSD sebelum terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Juninarita menyambut positif pelaksanaan Program Dosen ke Sekolah dan berharap kegiatan semacam ini dapat memperkuat hubungan antara sekolah dan perguruan tinggi, khususnya dalam mempersiapkan calon guru agar semakin memahami kebutuhan sekolah dengan lingkungan pendidikan berstandar internasional.
“Kami senang menerima kunjungan dan kehadiran dosen melalui program seperti ini. Harapannya, pengalaman yang diperoleh selama berada di sekolah dapat menjadi masukan bagi kampus dalam mempersiapkan mahasiswa calon guru, tidak hanya dari sisi pedagogik, tetapi juga agar memiliki kesiapan untuk berkarier di Satuan Pendidikan Kerja Sama atau SPK,” ujar Juninarita, National Principal Sampoerna Academy BSD.
Mengenal Kurikulum dan Ekosistem Sekolah
Pada tahap awal program, para dosen diperkenalkan dengan kurikulum yang digunakan di sekolah serta berbagai program yang dikembangkan oleh Sampoerna Academy BSD. Pengenalan ini menjadi bagian penting sebelum dosen melakukan observasi karena memberikan konteks mengenai tujuan pembelajaran, lingkungan belajar, serta karakteristik pendidikan yang dikembangkan sekolah.

Berdasarkan informasi pada laman resminya, Sampoerna Academy BSD mengintegrasikan Cambridge International Curriculum dan sumber daya pembelajaran STEAM dalam pengalaman belajar siswa. Kampus BSD melayani jenjang pendidikan mulai dari Playgroup dan Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
Lingkungan pembelajaran juga didukung oleh berbagai fasilitas, antara lain ruang kelas yang terintegrasi dengan teknologi, perpustakaan, laboratorium sains, fasilitas olahraga, serta studio seni dan musik. Fasilitas tersebut mendukung beragam aktivitas akademik, STEAM, olahraga, seni, dan pengembangan pengalaman belajar siswa.
Bagi tim dosen PGSD UNJ, pengenalan terhadap kurikulum, program, dan lingkungan sekolah memberikan perspektif mengenai kompetensi yang perlu dipersiapkan oleh lembaga pendidikan tenaga kependidikan agar calon guru mampu beradaptasi dengan beragam konteks sekolah, termasuk Satuan Pendidikan Kerja Sama.

Dari Mengenal Sekolah hingga Mengobservasi Ruang Kelas
Setelah memperoleh gambaran mengenai kurikulum dan berbagai program sekolah, dosen diajak melihat lebih dekat pelaksanaan program dan lingkungan belajar yang tersedia. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan observasi pembelajaran secara langsung di kelas.
Para dosen mengamati model dan strategi pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa, penggunaan media dan teknologi, pengelolaan kelas, serta pelaksanaan asesmen. Dengan demikian, dosen tidak hanya memperoleh informasi mengenai kurikulum pada tataran konsep, tetapi juga dapat melihat bagaimana kurikulum tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman belajar di ruang kelas.
Hasil observasi menunjukkan kuatnya pembelajaran yang berpusat pada siswa, pembelajaran berbasis proyek STEAM dan inkuiri, integrasi teknologi, serta penguatan kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Dalam pembelajaran, guru lebih banyak mengambil peran sebagai fasilitator dan coach yang memberikan ruang kepada siswa untuk mengeksplorasi, bertanya, berdiskusi, dan membangun pemahamannya.
Pada kelas rendah atau lower primary, tim dosen menemukan pembelajaran yang bersifat tematik-integratif dengan penggunaan benda konkret, storytelling, visual aids, dan diskusi kelompok kecil. Sementara itu, pada kelas tinggi atau upper primary, siswa terbiasa terlibat dalam pembelajaran berbasis proyek, diskusi kritis dan analitis, presentasi, serta peer feedback.

Belajar Bersama Guru dalam Lingkungan Pembelajaran Internasional
Program Dosen ke Sekolah tidak berhenti pada kegiatan observasi. Dosen juga memperoleh kesempatan untuk belajar dan berdialog bersama para guru, termasuk guru asing, sehingga memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai praktik pembelajaran dalam lingkungan pendidikan internasional.
Melalui interaksi tersebut, dosen dapat melihat bagaimana guru membangun komunikasi dengan siswa, memberikan instruksi, mengembangkan pertanyaan, memfasilitasi diskusi, serta menciptakan pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif siswa. Pengalaman ini juga memberikan gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan seorang guru untuk bekerja dalam lingkungan sekolah yang multikultural dan berorientasi global.
Dialog dengan guru turut mengungkap sejumlah tantangan, antara lain mengakomodasi kemampuan siswa yang beragam, mengembangkan diferensiasi pembelajaran, merancang asesmen yang sesuai, serta mengelola berbagai kebutuhan pembelajaran. Guru juga menyampaikan kebutuhan pengembangan profesional pada bidang assessment for learning dan social-emotional learning.
Bagi dosen, pengalaman belajar bersama guru menghadirkan perspektif praktisi secara langsung sekaligus menjadi bahan refleksi untuk memperkaya pendidikan calon guru di perguruan tinggi, termasuk mempersiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dan berkarier pada lingkungan Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).
Dari Mengobservasi Menjadi Mengalami
Setelah mengenal kurikulum, melihat berbagai program sekolah, mengobservasi pembelajaran, dan berdialog dengan guru, rangkaian PDS dilanjutkan dengan praktik mengajar langsung di kelas rendah dan kelas tinggi.
Pada kelas rendah, praktik pembelajaran menggunakan pendekatan Inquiry-Based Learning melalui ice breaking, eksplorasi dan eksperimen sederhana, diskusi kelompok, serta refleksi bersama. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi yang sederhana, penggunaan media konkret, serta kemampuan guru dalam menjaga keterlibatan siswa selama pembelajaran.
Pada kelas tinggi, praktik dilakukan melalui pendekatan Problem-Based Learning dengan pemberian studi kasus, diskusi kelompok, presentasi solusi, dan peer assessment. Siswa menunjukkan kemampuan berdiskusi secara dinamis dan mengembangkan argumen logis. Pengalaman tersebut sekaligus memberikan refleksi mengenai pentingnya pertanyaan tingkat tinggi atau HOTS dan fasilitasi diskusi yang terstruktur.
Membawa Pengalaman Sekolah Kembali ke Kampus
Program Dosen ke Sekolah pada akhirnya menghadirkan perjalanan belajar yang utuh bagi dosen: mengenal kurikulum, memahami program dan ekosistem sekolah, mengobservasi pembelajaran, berdialog dengan guru, hingga mengalami langsung praktik mengajar di ruang kelas.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi dosen untuk melihat lebih dekat keterhubungan antara teori pendidikan yang dikembangkan di perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam praktik pendidikan.
Bagi PGSD FIP UNJ, pengalaman dari sekolah dapat menjadi bahan refleksi dalam mempersiapkan mahasiswa sebagai calon guru yang tidak hanya menguasai kompetensi pedagogik, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu menerapkan pembelajaran berbasis STEAM, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta siap menghadapi keberagaman konteks sekolah.
Melalui Program Dosen ke Sekolah, perjalanan dari kampus ke ruang kelas pada akhirnya menjadi perjalanan belajar dua arah. Dosen membawa perspektif akademik ke sekolah, sekaligus membawa kembali pengalaman autentik dari ruang kelas ke kampus. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pendidikan calon guru PGSD UNJ agar semakin adaptif, berwawasan global, dan siap mengembangkan karier pada beragam konteks pendidikan, termasuk Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).
