Malang – Membaca buku Dunia di Kepala Jingga karya Titik Qomariyah serasa membuka kembali album lama. Beragam cerita dari masa lalu hadir dalam bentuk cerpen, namun sejumlah peristiwa yang diangkat masih terasa relevan dengan kehidupan dan persoalan yang terjadi hingga kini.
Buku yang memuat 15 cerita pendek tersebut merangkum berbagai peristiwa di Tanah Air. Mulai dari trauma tragedi 1998, wabah flu burung pada 2005, alih fungsi lahan hutan kota Alambau menjadi kawasan perumahan elite, hingga kasus pembunuhan di Pasar Besar pada 2019, semuanya hadir dalam lembar-lembar cerita.
Menurut penulis Dunia di Kepala Jingga, Titik Qomariyah,Senin (14/9/2026),antologi cerpen tersebut merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis sejak 2003. Sebagian cerita sebelumnya telah tersebar di sejumlah media, di antaranya Jawa Pos, Surabaya News, Surabaya Post, Radar Malang, Malang Post, dan sejumlah media lainnya.
Tema yang diangkat cukup beragam, mulai dari lingkungan, perempuan, kemanusiaan hingga persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Latar belakang penulis sebagai jurnalis juga memberikan warna tersendiri. Hampir seluruh cerita berangkat dari peristiwa yang pernah terjadi pada masanya.
Bahkan, jejak sejumlah peristiwa tersebut masih dapat ditelusuri melalui mesin pencari Google.
Penulis asal Malang, Elwiq Pr, menyebut buku tersebut menarik dan dapat dikategorikan dalam genre ekologi feminim. Sebab, dalam sejumlah cerita terdapat gambaran tentang perjuangan perempuan, kemanusiaan, sekaligus persoalan kerusakan lingkungan.
“Seperti dalam cerpen Kupu Gajah, Senja, Bangau dan lainnya mengisahkan tentang kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang membuat punahnya kupu bersayap besar, karena habitatnya hilang. Begitu pula dengan hutan kota yang beralih fungsi dari daerah menyerap air menjadi perumahan. Menariknya, semuanya itu bukan fiksi. Jejaknya bisa dicari di internet,” katanya saat diskusi kecil beberapa waktu lalu.
Ia juga menyampaikan, buku terbitan Baranda tersebut bukan sekadar fiksi. Cerita yang disajikan berangkat dari kisah nyata yang tertunda dan kemudian diolah menjadi cerita pendek yang menarik untuk dibaca. Kumpulan cerpen itu sekaligus menjadi bentuk keresahan, protes, dan kepedulian penulis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Secara tidak langsung, buku tersebut juga menjadi catatan perjalanan Kota Malang, antara masa lalu dan kondisi sekarang. Mulai dari kisah hutan kota yang didirikan pemerintah Belanda hingga peristiwa pembunuhan di Pasar Besar yang sempat menggemparkan. Korbannya merupakan seorang tunawisma, sedangkan pelakunya seorang bernama S. Hingga kini, belum diketahui apakah yang bersangkutan masih menjalani hukuman atau telah bebas.
Sementara itu, dosen Universitas Islam Malang (Unisma), Ari Ambarwati, menyampaikan bahwa sastra anak dan sastra untuk orang dewasa hampir tidak memiliki sekat. Menurutnya, sastra anak sering kali tidak ditulis oleh anak-anak, melainkan orang dewasa. Bahkan, orang dewasa yang menulis cerita anak merasa lebih leluasa menyampaikan protes maupun gagasan tertentu melalui tokoh anak.
Hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat melalui tokoh Jingga yang terperosok di akar pohon dan kemudian melakukan perjalanan ke dunia binatang. Meski pertemuan tersebut hanya terjadi dalam mimpi, tetap terdapat pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca.
“Apa iya sastra anak hanya dibaca anak-anak, kan tidak. Justru orang dewasa juga membaca sastra anak, ada kerinduan, ada kemungkinan untuk membaca ulang cerita yang relate di masa lalu, entah itu tragedi atau hal lain yang ditemui masa sekarang. Apakah buku ini menjawab pertanyaan itu, silakan dibaca,” katanya saat ditemui di rumahnya akhir pekan lalu.
Dengan terbitnya buku tersebut, diharapkan semakin memperkaya literasi masyarakat dalam membaca berbagai peristiwa melalui buku. Sekaligus merayakan hari kunjungan perpustakaan yang jatuh pada 14 September.Kehadiran Dunia di Kepala Jingga juga menjadi momentum untuk mengajak pembaca menelusuri kembali lorong waktu melalui cerita-cerita yang pernah terjadi.
Bagi generasi yang mengalami langsung peristiwa tersebut, buku ini bisa menjadi pengingat. Sementara bagi generasi Z yang mungkin belum pernah mendengarnya, cerita-cerita di dalamnya dapat menjadi jendela untuk memahami berbagai peristiwa masa lalu.
Melalui lembar-lembar cerita Dunia di Kepala Jingga, pembaca diajak mengenang, memahami, sekaligus melihat kembali berbagai persoalan lingkungan, kemanusiaan dan sosial yang pernah terjadi. Sebuah bacaan yang tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga jejak peristiwa dan refleksi kehidupan.
Selamat merayakan Hari Literasi.
