Kukar – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Kutai Kartanegara, dinamika internal partai berlambang pohon beringin ini mulai menghangat. Ibarat arus sungai yang perlahan mengerucut, arah dukungan sementara masih mengalir kuat kepada satu nama, yakni Hasanuddin Mas’ud, yang hingga kini disebut paling dominan dalam bursa calon ketua.
Musda Golkar Kukar tinggal menunggu kepastian jadwal menyusul terbitnya Surat Keputusan (SK) kepengurusan DPD I Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur pada akhir Januari 2026. Dengan keluarnya SK tersebut, mekanisme organisasi mengharuskan Musda di tingkat kabupaten/kota segera digelar secara serentak. Proses ini menjadi penanda dimulainya regenerasi kepemimpinan partai di daerah.
Sekretaris Jenderal DPD II Partai Golkar Kukar, Johansyah, SE, M.Si, menjelaskan bahwa rencana Musda sebenarnya telah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Namun, kepastian pelaksanaan baru bisa ditetapkan setelah SK dari DPD I provinsi resmi diterbitkan.
“Rencana Musda itu sudah lama kami susun. Tapi secara formal memang harus menunggu SK dari DPD I. Alhamdulillah, di akhir Januari kemarin SK tersebut sudah keluar,” ujar Johansyah saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, setelah SK terbit, pihaknya langsung berkoordinasi dengan pengurus DPD I Partai Golkar Kalimantan Timur. Hasil koordinasi tersebut menyebutkan bahwa DPD I akan mengeluarkan surat edaran kepada seluruh DPD II di 10 kabupaten/kota se-Kalimantan Timur sebagai dasar pelaksanaan Musda secara serentak.
“Begitu surat edaran dari DPD I turun, saya sebagai Sekjen DPD II Golkar Kukar akan segera menggelar rapat koordinasi bersama pengurus untuk membahas teknis pelaksanaan Musda,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Johansyah juga meluruskan pemberitaan yang sempat menyebut dirinya ikut meramaikan bursa pencalonan Ketua DPD II Partai Golkar Kukar. Ia menegaskan tidak akan maju sebagai calon ketua.
“Saya perlu klarifikasi, bahwa saya tidak ikut dalam bursa pencalonan ketua. Golkar Kukar membuka ruang seluas-luasnya bagi kader terbaik untuk maju, tetapi saya fokus menjalankan tugas sebagai sekretaris,” tegasnya.
Perkiraan waktu pelaksanaan Musda sendiri berada pada bulan Maret atau April 2026. Menurut Johansyah, saat ini seluruh jajaran pengurus masih menunggu surat edaran resmi, meski arah dan tahapan sudah semakin jelas.
Terkait bursa calon ketua, Johansyah mengakui bahwa hingga kini nama Hasanuddin Mas’ud masih mendominasi. Hasanuddin yang juga menjabat Ketua DPD II Partai Golkar Kukar dinilai memiliki peluang besar untuk kembali memimpin. Meski demikian, peluang bagi kandidat lain tetap terbuka selama memenuhi mekanisme dan aturan partai.
“Setelah panitia Musda dibentuk, akan ada Steering Committee yang membuka pendaftaran calon ketua secara terbuka. Semua calon akan diverifikasi kelengkapan dan kelayakannya. Golkar adalah partai demokrasi, semua berjalan sesuai prosedur,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum terdengar nama lain yang secara resmi muncul sebagai penantang. Namun daftar final calon baru akan diketahui setelah pendaftaran resmi dibuka.
Johansyah berharap Musda kali ini mampu melahirkan kepengurusan yang solid dan progresif. Menurutnya, dinamika politik Kukar yang semakin kompleks menuntut Partai Golkar mengambil peran strategis dan konkret ke depan.
“Target kami ke depan, khususnya 2029, Golkar tidak hanya menjadi partai pengusung, tetapi mampu melahirkan figur calon bupati atau wakil bupati dari kader sendiri,” ujarnya.
Sebagai informasi, hak suara dalam Musda Golkar Kukar berasal dari 20 pimpinan kecamatan, ditambah satu suara gabungan dari pendiri dan sayap partai, serta satu suara dari DPD I provinsi, sehingga total berjumlah 22 suara. Setiap calon ketua wajib mengantongi dukungan minimal 30 persen dari total suara sebagai syarat pendaftaran.
