Suatu sore saya duduk di beranda masjid. Langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun ke ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang tenang dan hangat. Angin bertiup pelan membawa aroma sajadah dan lantunan murattal dari pengeras suara kecil di sudut masjid.
Di tengah suasana itu, datang seorang kakek tua dengan langkah tertatih. Tangannya gemetar kecil saat membuka sandal. Jalannya pelan. Nafasnya terdengar berat. Tetapi matanya menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Beliau berjalan menuju tempat wudhu, membasuh wajahnya perlahan, lalu duduk bersandar di salah satu tiang masjid sambil menunggu adzan.
Bibirnya komat-kamit berdzikir. Saya mendekat dan bertanya pelan,
“Kakek, capek ya jalannya?”
Beliau tersenyum tipis.
“Capek, Nak. Tapi lebih capek hati ini kalau tidak sembahyang di masjid.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi entah mengapa, ia terasa menghantam sesuatu di dalam dada. Saya mulai berpikir…
Mengapa ada orang yang tubuhnya sudah lemah, tetapi jiwanya begitu kuat menuju Allah?
Dan mengapa kita yang masih sehat, masih muda, masih kuat berjalan dan berkendara, justru sering menunda sholat, terburu-buru mengerjakannya, bahkan kadang meninggalkannya tanpa rasa bersalah?
Mungkin masalahnya bukan pada kaki yang lelah. Tetapi pada hati yang mulai jauh.
Hidup Ini Bukan Sekadar Datang Lalu Pulang
Banyak orang menjalani hidup seperti rutinitas tanpa ujung.
Bangun pagi.
Bekerja.
Mengejar uang.
Pulang malam.
Tidur.
Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Kadang kita begitu sibuk menjalani hidup sampai lupa bertanya,
“Sebenarnya aku hidup untuk apa?”
Allah sudah mengingatkan pertanyaan itu dalam Al-Qur’an:
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)
Ayat ini seperti tamparan lembut bagi manusia yang terlalu tenggelam dalam dunia. Kita tidak diciptakan tanpa tujuan. Hidup ini bukan sekadar perjalanan singkat lalu selesai begitu saja.
Kalau hidup hanya tentang lahir, sekolah, bekerja, menikah, tua, lalu mati, apa bedanya manusia dengan sesuatu yang hanya datang dan pergi tanpa makna?
Tetapi Allah tidak menciptakan kita untuk kesia-siaan. Ada tujuan besar di balik setiap detak jantung kita. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Inilah jawaban dari seluruh kegelisahan manusia. Bahwa hidup bukan sekadar mencari dunia. Bukan sekadar mengejar pengakuan. Bukan sekadar mengumpulkan harta. Semua itu hanyalah kendaraan. Sedangkan tujuan akhirnya adalah Allah.
Sholat Itu Bukan Beban, Tapi Tempat Pulang
Di antara semua bentuk ibadah, ada satu ibadah yang paling intim antara hamba dan Rabb-nya. Itulah sholat. Sholat bukan sekadar gerakan berdiri, rukuk, lalu sujud. Ia adalah perjumpaan.
Ia adalah momen ketika seorang manusia meninggalkan hiruk-pikuk dunia lalu berdiri menghadap Tuhannya. Allah berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam sholat adalah lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Perhatikan baik-baik. Allah mengatakan bahwa sholat itu mencegah. Artinya, sholat bukan hanya kewajiban ritual. Tetapi ia adalah penjaga hati. Sholat seperti pagar yang melindungi manusia dari jatuh terlalu jauh ke dalam dosa.
Dalam rukuk kita belajar rendah hati. Dalam sujud kita belajar bahwa manusia setinggi apa pun tetap hanyalah hamba. Dan dalam doa-doa sholat, kita belajar bahwa ternyata tempat paling aman untuk menangis hanyalah di hadapan Allah.
Ketika Sholat Hanya Tinggal Gerakan
Hari ini banyak orang masih sholat.
- Tetapi mengapa hati tetap gelisah?
- Mengapa lisan masih mudah menyakiti?
- Mengapa maksiat masih terasa biasa?
Mungkin karena sholat kita belum benar-benar hidup. Kita berdiri, tetapi hati sibuk ke mana-mana. Lidah membaca ayat, tetapi pikiran masih memikirkan dunia. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
“Sholat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka sungguh ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa meruntuhkannya, maka sungguh ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Al-Baihaqi)
Bayangkan sebuah rumah tanpa tiang. Ia mungkin terlihat berdiri sebentar, tetapi perlahan akan roboh. Begitu pula hidup tanpa sholat. Mungkin manusia masih terlihat baik di mata dunia. Masih terlihat sukses. Masih terlihat bahagia. Tetapi tanpa hubungan yang kuat dengan Allah, hati perlahan akan kosong.
Amal Pertama yang Akan Ditanya
Ada satu hadis yang selalu membuat hati bergetar. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَوَّلُ مَا يُسْأَلُ بِهِ الْمَرْءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي عَمَلِهِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Jika sholatnya rusak, maka ia rugi dan gagal.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Subhanallah.
Ternyata yang pertama kali diperiksa bukan harta. Bukan jabatan. Bukan popularitas. Tetapi sholat. Karena sholat adalah tanda hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Bayangkan seorang pegawai yang rajin bekerja, datang paling pagi, pulang paling malam, tetapi tidak pernah mengisi absensi.
Pada akhir bulan, namanya tidak tercatat. Begitu pula manusia yang sibuk dengan banyak amal tetapi meninggalkan sholat. Sholat adalah bukti kehadiran kita di hadapan Allah setiap hari.
Dalam Sujud, Ada Tempat untuk Semua Luka
Allah berfirman dalam Surah Thaha:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)
Sholat bukan untuk kepentingan Allah. Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Kitalah yang membutuhkan sholat. Karena dunia ini terlalu bising. Terlalu melelahkan. Terlalu penuh luka dan kecewa. Dan sholat adalah tempat pulang paling tenang.
Dalam sujud, kita boleh menangis. Dalam doa, kita boleh mengeluh. Dalam tahajud, kita boleh mengatakan semua yang tidak bisa kita ceritakan kepada manusia. Betapa banyak orang yang terlihat kuat di siang hari, tetapi diam-diam hancur di malam hari. Dan betapa banyak hati yang kembali hidup hanya karena satu sujud yang tulus.
Kisah Lelaki Buta yang Tetap ke Masjid
Ada satu kisah yang sangat menyentuh. Suatu hari seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:
“Ya Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntunku ke masjid.”
Awalnya Nabi memberikan keringanan. Tetapi ketika lelaki itu berbalik pergi, Rasulullah memanggilnya kembali dan bertanya:
“Apakah engkau mendengar adzan?”
“Ya,” jawab lelaki itu.
Maka Rasulullah bersabda:
“Kalau begitu, penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim)
Lihatlah. Seorang yang tidak bisa melihat jalan pun tetap berusaha memenuhi panggilan sholat berjamaah. Lalu bagaimana dengan kita yang sehat? Yang punya kendaraan? Yang punya waktu untuk banyak hal dunia? Bukankah kita lebih pantas bersegera ketika adzan berkumandang?
Sholat dan Sabar: Dua Sayap untuk Bertahan
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Sabar dan sholat adalah dua sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Ketika hidup terasa berat, sholatlah yang menguatkan. Ketika hati penuh kecewa, sujudlah yang menenangkan. Ketika dunia terasa sempit, doa-doa dalam sholatlah yang membuat dada kembali lapang.
Karena tidak semua luka bisa disembuhkan manusia. Ada luka yang hanya sembuh ketika seorang hamba kembali mendekat kepada Allah. Jangan Sampai Kita Rindu Sujud Saat Semuanya Sudah Terlambat
Mungkin hari ini kita masih punya waktu. Masih mendengar adzan. Masih bisa berdiri dan sujud. Tetapi suatu hari nanti akan datang masa ketika manusia ingin kembali ke dunia hanya untuk satu rakaat saja.
Sayangnya, saat itu semuanya sudah terlambat. Karena itu jangan biarkan sholat hanya menjadi rutinitas. Jangan hanya menggerakkan tubuh sementara hati tetap jauh. Sholat adalah perjumpaan. Sholat adalah tempat pulang. Sholat adalah cara Allah menjaga hati kita agar tidak mati di tengah dunia yang semakin sibuk ini.
Maka sebelum matahari benar-benar tenggelam hari ini, sebelum adzan berikutnya berkumandang, coba tanyakan kepada diri sendiri,
“Sudahkah aku benar-benar berdiri menghadap-Nya… atau selama ini hanya sekadar bergerak?”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendirikan sholat dengan hati yang hidup, dengan sujud yang penuh rindu, dan dengan jiwa yang selalu ingin kembali kepada-Nya.
Aamiin.
Salah satu serial dalam buku Embun Hikmah Bersama Alm Ustadz Untung S.Pd,,“Wejangan Ringan, Penyejuk Hati dan Penguat Iman”,disusun oleh Riyawan S. Hut.
