Malam itu Kota Madinah begitu sunyi. Angin gurun berembus dingin, jalanan lengang, dan sebagian besar manusia telah tenggelam dalam tidurnya. Namun di tengah kesunyian itu, seorang lelaki berjalan menyusuri lorong-lorong kota bersama pengawalnya, Aslam. Lelaki itu bukan orang biasa.
Ia adalah Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه, pemimpin kaum muslimin yang namanya dikenal tegas, berani, dan disegani. Tetapi malam itu, Umar tidak keluar untuk menunjukkan kekuasaan. Ia tidak dikawal pasukan besar. Tidak ada kemewahan. Tidak ada singgasana.
Ia berjalan hanya dengan satu tujuan: memastikan rakyatnya baik-baik saja. Sebab Umar memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak pemimpin.
Pemimpin sejati bukanlah yang paling tinggi duduknya, melainkan yang paling dekat hatinya dengan penderitaan rakyat.
Di kejauhan, Umar melihat nyala api kecil yang berkedip pelan di tengah gelapnya malam. Cahaya itu tampak kesepian, seperti sedang bertahan hidup sendirian.
“Ke sana,” kata Umar kepada Aslam. Mereka pun mendekat.
Di balik cahaya api itu, tampak sebuah tenda sederhana. Seorang ibu duduk diam di depan panci yang mendidih. Wajahnya letih. Matanya sembab. Di sampingnya, beberapa anak kecil tertidur lemah sambil sesekali meringis dalam tidur.
Bukan tidur yang tenang. Tetapi tidur karena lelah menahan lapar. Umar mengucapkan salam dengan lembut.
“Assalamu’alaikum.”
Perempuan itu menjawab lirih tanpa menoleh.
“Wa’alaikumussalam.”
Ia tidak tahu bahwa lelaki di depannya adalah Amirul Mukminin, pemimpin seluruh kaum muslimin.
“Apa yang sedang ibu masak?” tanya Umar pelan.
Perempuan itu menjawab dengan suara datar, suara seseorang yang terlalu lelah untuk berharap.
“Lihat saja sendiri.”
Ketika Umar membuka tutup panci itu, dadanya langsung terasa sesak.
Tidak ada makanan. Tidak ada nasi. Tidak ada daging. Tidak ada gandum. Hanya batu-batu kecil yang direbus di dalam air.
Batu di Dalam Panci dan Air Mata Seorang Ibu
Umar terdiam. Tatapannya jatuh pada batu-batu di dalam panci itu. Tangannya gemetar. Hatinya seperti ditusuk sesuatu yang tidak terlihat.
“Mengapa ibu memasak batu?” tanyanya lirih.
Saat itulah perempuan itu tidak mampu lagi menahan kesedihannya. Air matanya jatuh satu demi satu.
“Sudah tiga hari kami belum makan,” katanya terbata-bata. “Ayah mereka sudah meninggal. Anak-anakku menangis kelaparan. Aku tidak punya apa-apa.”
Ia memandang anak-anak kecilnya yang tertidur lemah.
“Maka aku menyalakan api dan memasukkan batu ke dalam panci ini supaya mereka mengira aku sedang memasak makanan. Mudah-mudahan mereka tertidur sebelum sadar bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa.”
Subhanallah. Betapa berat menjadi seorang ibu. Kadang ia harus berpura-pura kuat saat hatinya sudah remuk. Kadang ia harus tersenyum ketika hidup sedang menghimpitnya dari segala arah. Dan kadang ia rela membohongi anak-anaknya sendiri demi menjaga harapan mereka tetap hidup satu malam lagi.
Namun ada satu kalimat perempuan itu yang menghantam Umar lebih keras daripada apa pun.
“Semoga keluhan kami sampai kepada Khalifah Umar.”
Kalimat itu membuat Umar menunduk. Sebab perempuan itu tidak tahu bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah Umar sendiri. Pemimpin yang selama ini dipercaya menjaga rakyatnya. Dan malam itu, Umar merasa gagal.
Pemimpin yang Memikul Gandum dengan Tangannya Sendiri
Tanpa banyak bicara, Umar segera bergegas menuju Baitul Mal, tempat penyimpanan kebutuhan kaum muslimin. Beliau mengambil gandum, minyak, dan beberapa bahan makanan lain. Lalu beliau memikul sendiri karung itu di pundaknya. Aslam yang melihat hal itu merasa tidak tega.
“Wahai Amirul Mukminin, biar saya saja yang membawanya,” kata Aslam.
Namun Umar menatapnya dalam-dalam lalu berkata,
“Apakah kamu mau memikul dosaku di hadapan Allah nanti?”
Aslam terdiam. Kalimat itu begitu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Umar memahami bahwa kepemimpinan bukan soal kehormatan semata. Kepemimpinan adalah pertanggungjawaban.
Jika ada rakyat yang kelaparan, maka pemimpinlah yang pertama kali harus merasa takut. Malam itu Umar memikul sendiri karung gandum hingga debu menempel di tubuhnya.
Tidak ada kamera. Tidak ada wartawan. Tidak ada panggung pencitraan. Yang ada hanyalah hati yang takut kepada Allah.
Ketika Khalifah Menjadi Tukang Masak
Sesampainya di tenda itu, Umar tidak hanya menyerahkan bahan makanan lalu pergi. Beliau justru duduk dan mulai memasak sendiri. Beliau menyalakan api, menuangkan gandum, mengaduk makanan, dan menunggu hingga matang.
Asap mengenai wajah dan janggutnya, tetapi beliau tidak peduli. Setelah makanan siap, Umar membangunkan anak-anak kecil itu satu per satu.
“Ayo makan,” katanya lembut.
Malam itu, anak-anak yang sebelumnya menangis kelaparan akhirnya bisa tersenyum. Dan Umar tidak langsung pergi. Beliau duduk memperhatikan mereka makan sampai kenyang. Karena beliau ingin memastikan bahwa malam itu tidak ada lagi anak yang tidur dalam keadaan lapar.
Subhanallah. Inilah gambaran pemimpin sejati. Bukan yang hanya pandai berbicara tentang rakyat. Bukan yang sibuk menjaga citra. Tetapi yang rela turun tangan ketika manusia lain membutuhkan pertolongan. Sebelum pergi, Umar bertanya kepada perempuan itu.
“Apa yang akan ibu lakukan besok?”
“Aku akan pergi mengadu kepada Khalifah Umar,” jawab perempuan itu.
Umar tersenyum kecil.
“Semoga besok ibu bertemu dengannya.”
Kepemimpinan Itu Amanah, Bukan Kesempatan Memperbesar Diri
Kisah Umar bin Khattab bukan sekadar cerita sejarah yang indah untuk dikenang. Ia adalah cermin. Cermin bagi siapa saja yang pernah diberi tanggung jawab. Karena pada hakikatnya, setiap manusia adalah pemimpin.
Ada yang memimpin negara. Ada yang memimpin perusahaan. Ada yang memimpin keluarga. Dan ada pula yang sedang memimpin dirinya sendiri agar tetap berjalan di jalan yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan besar atau kecil. Tetapi tentang bagaimana kita menjaga amanah yang Allah titipkan.
Hari ini banyak orang mengejar kekuasaan karena ingin dihormati. Padahal dalam Islam, jabatan justru adalah ujian yang berat. Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula hisabnya di hadapan Allah.
Empat Pondasi Pemimpin yang Diajarkan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa pemimpin yang baik memiliki empat sifat utama. Empat sifat ini seperti pondasi rumah. Jika satu saja runtuh, maka bangunan kepemimpinan akan mudah goyah.
- Siddiq (Jujur)
Kejujuran bukan hanya soal ucapan, tetapi juga niat dan tindakan. Pemimpin yang jujur tidak memanipulasi manusia demi kepentingannya sendiri. Ia tidak memakai topeng kebaikan untuk menyembunyikan ambisi pribadi. Karena tanpa kejujuran, kepercayaan akan hancur perlahan.
- Amanah (Bisa Dipercaya)
Amanah berarti menjaga tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Bukan bekerja hanya ketika dilihat manusia, tetapi tetap lurus meski tidak ada yang memuji. Pemimpin yang amanah sadar bahwa jabatan hanyalah titipan Allah, bukan milik pribadi.
- Tabligh (Menyampaikan Kebenaran)
Pemimpin sejati tidak takut berkata benar meski pahit. Ia tidak diam melihat kezaliman hanya demi mempertahankan popularitas. Karena kebenaran yang disembunyikan lambat laun akan berubah menjadi luka bagi banyak orang.
- Fathonah (Cerdas dan Bijaksana)
Kecerdasan bukan sekadar pintar berbicara. Fathonah berarti mampu mengambil keputusan dengan tenang, matang, dan penuh pertimbangan. Pemimpin yang cerdas tidak mudah diperalat oleh kepentingan sesaat.
Allah Mencintai Keadilan
Islam sangat menekankan pentingnya keadilan. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
Dan dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:
وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya:
“Berlaku adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Perhatikan kalimat itu. Allah tidak hanya memerintahkan keadilan. Tetapi Allah juga mencintai orang-orang yang berlaku adil. Betapa mulianya sifat ini. Naungan Istimewa untuk Pemimpin yang Adil
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Dan golongan pertama yang disebut adalah pemimpin yang adil.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ…
“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, pemimpin yang adil…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan…
Di hari ketika matahari begitu dekat. Ketika manusia tenggelam dalam ketakutan dan keringat. Ada satu golongan yang mendapat tempat teduh istimewa dari Allah. Dan yang pertama disebut adalah pemimpin yang adil.
Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling kuat. Tetapi yang paling adil.
Menjadi Pemimpin yang Dicintai Langit
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang kuat. Tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tetapi dunia sangat kekurangan pemimpin yang punya hati.
Pemimpin yang mendengar sebelum rakyat berteriak. Pemimpin yang takut kepada Allah lebih daripada takut kehilangan jabatan. Pemimpin yang rela berdebu demi memastikan tidak ada manusia yang tidur dalam keadaan lapar.
Dan itulah pelajaran terbesar dari Umar bin Khattab رضي الله عنه.
Jabatan tidak membuat beliau merasa tinggi. Justru jabatan membuat beliau semakin takut kepada Allah. Maka jika suatu hari kita diberi amanah memimpin, sekecil apa pun itu, jangan jadikan kekuasaan sebagai alat meninggikan diri.
Jadilah seperti Umar.
Yang menangis ketika rakyatnya lapar. Yang memikul gandum dengan tangannya sendiri. Yang lebih takut kepada hisab Allah daripada kehilangan kehormatan dunia. Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berakhir. Nama besar pun perlahan akan dilupakan.
Tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak akan pernah bisa dihindari. Semoga Allah menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil bagi negeri ini. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang ketika diberi amanah, tidak berubah menjadi zalim.
Aamiin.
Salah satu serial dalam buku Embun Hikmah Bersama Alm Ustadz Untung S.Pd,,“Wejangan Ringan, Penyejuk Hati dan Penguat Iman”,disusun oleh Riyawan S. Hut.
