Bondowoso – Politik yang selama ini lekat dengan wajah-wajah senior perlahan mengalami pergeseran di Kabupaten Bondowoso. Di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ruang kaderisasi kini mulai dipenuhi energi anak muda. Seolah mematahkan anggapan bahwa panggung politik hanya milik “bapak-bapak”, generasi muda justru mulai mengambil peran strategis dalam struktur kepengurusan partai.
Perubahan itu terlihat usai pelantikan pengurus Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP di 23 kecamatan se-Kabupaten Bondowoso yang digelar di Aula Hotel Ijen View pada Sabtu (16/5/2026). Dalam kepengurusan baru tersebut, lebih dari 50 persen posisi diisi kalangan muda usia di bawah 35 tahun, termasuk generasi Z yang dinilai memiliki potensi besar sebagai kader masa depan partai.
Ketua DPC PDIP Bondowoso, Suning Sudrajad, menegaskan regenerasi menjadi langkah penting agar partai tetap relevan menghadapi dinamika politik mendatang. Menurutnya, dominasi kader muda bukan sekadar simbol pembaruan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang penguatan organisasi.
“Kurang lebih 50 persen lebih yang masuk usia Gen Z. Ini sumber generasi ke depan untuk pengkaderan PDI Perjuangan di Bondowoso,” ujar Suning Sudrajad.
Ia menjelaskan, sebagian besar kader muda yang kini masuk kepengurusan PAC berasal dari kalangan fresh graduate. Meski minim pengalaman politik praktis, mereka dianggap memiliki semangat tinggi, daya adaptasi cepat, serta kesiapan mengikuti jalur ideologi partai melalui proses pengkaderan formal yang berkelanjutan.
PDIP Bondowoso juga mulai mengombinasikan pengalaman kader senior dengan pendekatan komunikasi khas generasi muda. Jika sebelumnya aktivitas politik identik dengan pola konvensional, kini muncul ruang baru yang lebih dinamis melalui pemanfaatan media sosial, desain digital, hingga strategi komunikasi visual yang lebih dekat dengan generasi muda. Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan politik partai di tengah perubahan perilaku masyarakat.
Meski memberi ruang besar bagi Gen Z, nuansa religius tetap menjadi bagian penting dalam struktur kepengurusan. Sejumlah tokoh muda berlatar belakang pesantren seperti Ali Murtada, Ainul Yakin, hingga Soleh turut bergabung dalam kepengurusan PAC. Kehadiran mereka dinilai memperkuat basis sosial sekaligus menjadi jembatan komunikasi dengan kalangan pesantren di Bondowoso.
Tidak berhenti pada konsolidasi internal, PDIP Bondowoso juga mulai memasang target politik cukup ambisius untuk Pemilu mendatang. Partai berlambang banteng itu menargetkan perolehan delapan kursi di DPRD Bondowoso sebagai bagian dari penguatan posisi politik di tingkat daerah.
Dengan perpaduan pengalaman kader senior, energi Gen Z, serta sentuhan tokoh pesantren, PDIP Bondowoso tampaknya ingin mengirim pesan bahwa politik modern tidak lagi ditentukan usia semata. Di tengah perubahan zaman, kesiapan bergerak, kemampuan beradaptasi, dan kreativitas menjadi modal baru dalam membangun kekuatan politik.
