Kukar – Malam di Warung Makan Tepian Pandan, Tenggarong, terasa seperti “ruang pulang” bagi kader, simpatisan, dan masyarakat yang hadir dalam refleksi 24 tahun Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Senin (27/4/2026) malam. Dalam suasana sederhana namun hangat, Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur, KH. Aus Hidayat Nur, mengajak seluruh elemen memperkuat ketahanan Indonesia bersama rakyat.
Kegiatan yang dikemas dalam agenda reses tersebut berlangsung sejak pukul 19.30 WITA hingga 22.30 WITA. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang hadir untuk berdiskusi, mengenang perjalanan panjang PKS, sekaligus menyegarkan kembali semangat perjuangan politik yang berakar dari masyarakat.
Aus Hidayat Nur menjelaskan, PKS tidak lahir secara tiba-tiba dalam panggung politik nasional. Menurutnya, partai tersebut memiliki akar panjang dari Gerakan Tarbiyah, gerakan dakwah yang tumbuh di kampus-kampus sejak era 1980-an. Gerakan itu kemudian menemukan momentum politik setelah Reformasi 1998 membuka ruang kebebasan berserikat dan berpartai.
“PKS lahir dari masjid kampus, dari anak-anak muda yang ingin Islam hadir sebagai rahmat untuk semua,” ungkap Aus.
Ia menyebut, Partai Keadilan (PK) berdiri pada 20 Juli 1998 sebagai cikal bakal PKS. Namun perjalanan awal tidak mudah. Pada Pemilu 1999, PK hanya meraih 1,36 persen suara nasional atau sekitar 1,43 juta suara, sehingga belum mampu melewati ambang batas parlemen saat itu.
“Saya ikut maju di 1999 dan kalah. Tapi dari situlah kita belajar untuk bangkit,” katanya.
Transformasi kemudian terjadi pada 20 April 2002, ketika PK berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Sejak saat itu, dukungan publik terus tumbuh. Aus memaparkan, suara PKS meningkat dari 1,36 persen pada 1999 menjadi 7,34 persen pada 2004, 7,89 persen pada 2009, 6,77 persen pada 2014, 8,21 persen pada 2019, hingga mencapai 8,42 persen pada Pemilu 2024 dengan 12.736.332 suara dan proyeksi 53 kursi DPR RI.
“Dari 1,36 persen, sekarang kita ada di 8,42 persen. Ini bukan sekadar angka, ini bukti kepercayaan rakyat,” tegas Aus.
Menurutnya, capaian tersebut bukan hasil kerja elite partai semata, melainkan buah kolaborasi kader, simpatisan, dan masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik melalui kerja nyata dan keberpihakan terhadap kebutuhan rakyat.
Dalam refleksi bertema “Bersama Rakyat Menguatkan Ketahanan Indonesia”, Aus menyoroti tiga agenda utama yang perlu diperkuat menuju 2029, yakni ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi. Ia menilai masyarakat kecil harus memiliki akses lebih luas terhadap permodalan, pasar, serta kebijakan yang berpihak pada kemandirian lokal.
Sebagai anggota DPR RI Komisi II, Aus juga menegaskan pentingnya tata kelola pemerintahan, otonomi daerah, dan perhatian terhadap Kalimantan Timur yang kini semakin strategis dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Menurutnya, pembangunan besar harus tetap memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
“Kita sudah 24 tahun berjalan. Sudah pernah jatuh, bangkit, dan menang. Tapi perjalanan ini belum selesai,” ujarnya.
Di akhir acara, Aus mengajak kader, simpatisan, dan masyarakat menatap Pemilu 2029 dengan semangat baru. Bukan semata mengejar kursi politik, melainkan memastikan aspirasi rakyat hadir dalam setiap kebijakan publik.
“Mari kita buat PKS lebih kuat, lebih dekat, dan lebih bermanfaat untuk rakyat,” pungkasnya.
Tepuk tangan peserta menutup malam refleksi tersebut. Dari sebuah warung makan di Tenggarong, pesan politik itu mengalir sederhana: perjuangan besar selalu bermula dari kedekatan dengan rakyat.
