Kesadaran bersama menjadi fondasi penting bagi perjuangan politik yang berkelanjutan. Demokrasi tidak hanya hadir melalui pemilu atau pergantian kekuasaan. Demokrasi juga harus hidup dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Kedaulatan politik akan sulit tercapai apabila masyarakat masih bergantung sepenuhnya pada mekanisme pasar yang tidak selalu berpihak kepada rakyat.
Perubahan cara pandang terhadap ekonomi menjadi tantangan besar saat ini. Modernitas telah mempersempit pengertian ekonomi menjadi sekadar aktivitas jual beli dan transaksi uang. Padahal, istilah ekonomi berasal dari oikos-nomos yang bermakna tata kelola rumah tangga sebagai dasar pengorganisasian kehidupan sosial. Pergeseran makna tersebut membuat hubungan antarwarga semakin transaksional dan mengikis semangat gotong royong.
Dalam praktik masyarakat tradisional, pemenuhan kebutuhan hidup tidak selalu bergantung pada uang. Sistem subsistensi dan kerja sama permanen pernah menjadi bagian penting kehidupan warga. Pada sektor pertanian, hasil panen pada awalnya ditujukan untuk kebutuhan keluarga. Jika terdapat kelebihan produksi, hasil tersebut dibagikan kepada tetangga sebelum dijual.
Perubahan orientasi mulai terjadi sejak masa kolonial. Produksi pertanian diarahkan untuk pasar dan keuntungan. Dampaknya terasa hingga kini. Banyak petani justru tidak menikmati hasil panennya sendiri. Petani padi pun harus membeli beras dengan harga pasar. Kondisi tersebut membuat kehidupan petani semakin rentan terhadap fluktuasi harga.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, masyarakat dapat mengembangkan pertanian multikultur. Pangan tidak hanya bertumpu pada beras. Kekayaan lokal seperti jagung, singkong, uwi, gembili, dan talas dapat kembali diperkenalkan sebagai sumber karbohidrat alternatif. Selain meningkatkan kualitas gizi, langkah ini juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah membangun koperasi gudang panen. Kehadiran gudang bersama memungkinkan petani tidak terburu-buru menjual hasil panennya. Sistem penyimpanan, pengeringan, administrasi, hingga penggilingan dapat dikelola secara kolektif.
Selain itu, sistem resi mandiri dapat menjadi solusi bagi kebutuhan dana tunai petani. Gabah yang tersimpan di gudang koperasi dapat menjadi jaminan pinjaman melalui bank koperasi. Sistem ini bukan semata untuk mengejar harga tinggi, tetapi mengatur distribusi hasil produksi agar tetap seimbang dengan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, ekonomi kerakyatan bukan sekadar soal keuntungan. Ekonomi merupakan ruang membangun solidaritas, kemandirian, dan martabat bersama. Ketika masyarakat mampu mengorganisir kebutuhan hidupnya secara kolektif, demokrasi ekonomi akan tumbuh seiring dengan menguatnya demokrasi politik.
