Sangatta – Dalam balutan semarak malam di Kawasan Bukit Pelangi, harapan besar untuk masa depan pendidikan Kalimantan Timur dilontarkan tegas oleh Wakil Gubernur, Seno Aji. Acara penutupan Pekan Pemuda KNPI Kutai Timur yang berlangsung Sabtu (15/11/2025) berubah menjadi panggung harapan, ketika Seno menyatakan bahwa seluruh mahasiswa di Kaltim tidak perlu lagi khawatir soal biaya kuliah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, menurut Seno, akan menanggung biaya kuliah atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi seluruh mahasiswa, mulai dari semester awal hingga lulus. Program ini mulai diberlakukan pada awal tahun 2026, dan ditujukan untuk mendorong pemerataan akses pendidikan tinggi, khususnya di daerah seperti Kutai Timur.
“Bapak-ibu tidak perlu khawatir lagi soal UKT anak-anak kita. Sesuai program pemerintah provinsi Kalimantan Timur, seluruh mahasiswa se-Kalimantan Timur, termasuk di Kutai Timur, bisa kuliah tanpa membayar UKT,” ungkap Seno Aji di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi acara.
Seno menambahkan bahwa fasilitas pembiayaan ini sudah mulai disalurkan ke berbagai perguruan tinggi di Kaltim, baik negeri maupun swasta. Ia menegaskan program ini berlaku untuk delapan semester atau masa kuliah normal, sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya soal angka dan anggaran, tetapi investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi unggul Kaltim yang siap bersaing, terutama menjelang era Ibu Kota Nusantara (IKN). Kutai Timur, yang kini aktif sebagai simpul gerakan kepemudaan, diharapkan dapat melahirkan pemuda-pemudi berpendidikan yang bisa menjadi lokomotif pembangunan daerah.
Di tengah suasana penutupan yang meriah, pernyataan Seno disambut hangat oleh masyarakat. Banyak di antaranya menyambut dengan optimisme, menyebut kebijakan ini sebagai angin segar bagi keluarga yang selama ini kesulitan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Dengan hadirnya program kuliah gratis ini, Pemprov Kaltim berharap tidak ada lagi anak daerah yang terhambat menggapai pendidikan tinggi karena persoalan biaya. Komitmen ini akan menjadi fondasi kuat bagi percepatan pembangunan manusia di Benua Etam.
