Jombang – Bahasa isyarat bukan sekadar gerakan tangan, melainkan jembatan komunikasi yang membuka pintu kesetaraan bagi penyandang disabilitas tuli. Berangkat dari semangat tersebut, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Squad Nusantara Jawa Timur menggagas gerakan memasyarakatkan bahasa isyarat sebagai langkah nyata menghapus hambatan komunikasi sekaligus mendorong terwujudnya pelayanan publik yang lebih inklusif dan ramah disabilitas.
Gagasan tersebut diinisiasi pengurus DPW Squad Nusantara Jawa Timur Bidang Sosial, Gus Yayak dan Edy Sukiswo, melalui kerja sama dengan Yayasan Dharma Edu Visitama yang menaungi Sekolah Luar Biasa (SLB) Bakti Asih Surabaya. Program ini dirancang untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai bahasa isyarat, sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi dengan penyandang disabilitas tuli, khususnya dalam pelayanan kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, dan berbagai layanan sosial.
Inisiatif tersebut muncul dari keprihatinan terhadap hambatan komunikasi yang masih dihadapi sebagian penyandang disabilitas tuli ketika berinteraksi dengan masyarakat umum maupun petugas pelayanan.
Keterbatasan kemampuan berbahasa isyarat di lingkungan masyarakat dapat menyebabkan informasi penting sulit tersampaikan. Dalam pelayanan publik, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketepatan penyampaian kebutuhan, pemahaman prosedur, hingga akses terhadap hak-hak dasar warga negara.
Misalnya, ketika seseorang membutuhkan pelayanan kesehatan, komunikasi yang tidak berjalan baik dapat menyulitkan penyampaian keluhan maupun pemahaman terhadap penjelasan tenaga medis. Persoalan serupa juga dapat muncul saat mengurus dokumen kependudukan, mengakses pendidikan, atau memperoleh pelayanan administrasi lainnya.
Pengurus DPW Squad Nusantara Jawa Timur Bidang Sosial, Edy Sukiswo, menilai kemampuan berbahasa isyarat perlu diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas. Menurutnya, keterampilan tersebut tidak seharusnya hanya dikuasai tenaga pendidik khusus atau keluarga penyandang disabilitas tuli.
“Program ini kami gagas agar bahasa isyarat semakin dikenal, dipahami, dan bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Tujuannya sederhana tetapi memiliki manfaat besar, yakni membantu mengatasi hambatan komunikasi sehingga masyarakat penyandang disabilitas tuli tetap bisa menyampaikan kebutuhan, memperoleh informasi, serta mendapatkan pelayanan sebagaimana masyarakat lainnya,” ungkap Edy Sukiswo kepada awak media.
Edy menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran sosial mengenai pentingnya kesetaraan dalam berkomunikasi.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa penyandang disabilitas tuli memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi, menyampaikan pendapat, dan mendapatkan pelayanan tanpa diskriminasi.
Karena itu, pengenalan bahasa isyarat diharapkan dapat menjangkau berbagai kalangan, mulai dari aparatur pemerintahan, tenaga kesehatan, petugas administrasi, pelaku usaha, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum.
Semakin banyak pihak yang memiliki kemampuan dasar berbahasa isyarat, semakin besar pula peluang mengurangi hambatan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mendukung pelaksanaan gerakan tersebut, SLB Bakti Asih Surabaya menyiapkan program pelatihan bahasa isyarat secara intensif selama tiga hari.
Pelatihan dirancang dengan materi pembelajaran bertahap yang mencakup pengenalan tingkat dasar, menengah, hingga materi lanjutan. Peserta juga akan memperoleh buku panduan praktis dan kamus bahasa isyarat sebagai bahan pendukung pembelajaran.
Penyediaan referensi tersebut dimaksudkan agar peserta dapat terus mengembangkan kemampuan secara mandiri setelah mengikuti pelatihan.
Agar pembelajaran berlangsung lebih efektif, setiap kelas dibatasi maksimal 15 peserta dengan pendampingan tiga tenaga pengajar.
Pembatasan jumlah peserta tersebut memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih interaktif, terutama ketika peserta mempraktikkan penggunaan bahasa isyarat secara langsung.
Menariknya, metode pelatihan tidak hanya berfokus pada teori dan pengenalan gerakan. Peserta juga diberikan kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung bersama siswa penyandang disabilitas tuli.
Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan memperoleh pengalaman nyata dalam memahami pola komunikasi, penggunaan ekspresi, serta penerapan bahasa isyarat dalam interaksi sehari-hari.
Pendekatan ini menjadi penting karena kemampuan berkomunikasi tidak cukup hanya menghafal gerakan tangan, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap konteks dan kebutuhan lawan bicara.
Pada akhir pelatihan, peserta dijadwalkan mengikuti ujian untuk mengukur pemahaman serta penguasaan materi yang telah diberikan.
Peserta yang memenuhi standar kelulusan akan memperoleh sertifikat sebagai bukti telah menyelesaikan program pelatihan.
Selain menyiapkan program pendidikan bahasa isyarat, SLB Bakti Asih Surabaya juga telah membangun kerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Surabaya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tenaga kesehatan ketika memberikan pelayanan kepada pasien penyandang disabilitas tuli.
Dalam pelayanan medis, komunikasi menjadi bagian penting karena tenaga kesehatan perlu memperoleh informasi mengenai keluhan, riwayat kesehatan, maupun kondisi pasien secara tepat.
Kemampuan dasar bahasa isyarat diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan komunikasi, meskipun pelayanan medis yang kompleks tetap memerlukan dukungan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Tidak hanya menyasar fasilitas kesehatan, SLB Bakti Asih juga menjalin kerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA).
Kerja sama tersebut ditujukan untuk mendukung pelayanan administrasi dan keagamaan bagi penyandang disabilitas tuli, termasuk mereka yang hendak melangsungkan pernikahan.
Ketersediaan layanan komunikasi yang mudah diakses menjadi penting agar setiap warga dapat memahami prosedur, persyaratan, serta informasi yang berkaitan dengan kepentingannya.
Berbagai bentuk kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan bahasa isyarat tidak terbatas pada lingkungan pendidikan khusus. Keterampilan komunikasi ini juga memiliki peran dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang berorientasi pada kesetaraan.
DPW Squad Nusantara Jawa Timur Bidang Sosial berharap gerakan memasyarakatkan bahasa isyarat dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan unsur masyarakat.
Sasaran program tidak hanya terbatas pada sekolah atau komunitas penyandang disabilitas, tetapi juga diarahkan menjangkau lingkungan pemerintahan dan masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Mulai dari RT dan RW, pemerintah desa dan kelurahan, kecamatan, instansi pelayanan publik, fasilitas kesehatan, hingga sektor swasta diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan gerakan tersebut.
Gus Yayak dan Edy Sukiswo juga berharap model pelatihan yang disiapkan bersama SLB Bakti Asih Surabaya dapat diterapkan di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Perluasan program dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun lingkungan sosial yang lebih terbuka terhadap kebutuhan komunikasi penyandang disabilitas tuli.
Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta pelatihan atau sertifikat yang diterbitkan. Penerapan keterampilan dalam pelayanan sehari-hari menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.
Selain itu, keterlibatan komunitas tuli dalam pengembangan materi dan pelaksanaan kegiatan juga menjadi aspek penting agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan serta pengalaman komunikasi penggunanya.
Pada akhirnya, gerakan memasyarakatkan bahasa isyarat yang digagas DPW Squad Nusantara Jawa Timur bersama SLB Bakti Asih Surabaya diharapkan menjadi langkah memperluas akses komunikasi dan pelayanan publik yang setara.
Sebab, masyarakat inklusif bukan hanya masyarakat yang mengakui keberadaan penyandang disabilitas, melainkan juga mampu menyediakan kesempatan yang adil bagi setiap orang untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial tanpa hambatan yang tidak semestinya.
