Ada sebuah pemandangan di Tenggarong yang mungkin terasa tidak biasa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya.
Bayangkan sebuah jalan di depan Museum Mulawarman berubah menjadi ruang makan raksasa. Tidak ada meja makan mewah. Tidak ada kursi VIP yang diberi tanda khusus. Yang terlihat justru hamparan terpal dan kain putih yang membentang panjang, dipenuhi berbagai hidangan khas Kutai.
Nasi kuning tersaji rapi. Gence ruan dengan aroma ikan dan bumbu yang menggoda memenuhi udara. Ada semur, aneka jajanan tradisional, hingga putu labu yang masih mengepulkan uap.
Lalu, di antara ribuan orang yang duduk bersila, ada sosok dari lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara. Di sebelahnya bisa saja duduk warga biasa. Tidak ada jarak yang mencolok. Tidak ada meja khusus yang membuat seorang pejabat atau bangsawan harus berada beberapa meter dari masyarakat.
Semua duduk di tempat yang sama. Semua menikmati hidangan yang tersedia.
Pemandangan seperti inilah yang membuat beseprah terasa begitu istimewa. Tradisi makan bersama masyarakat Kutai ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua di Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Bagi sebagian orang, beseprah mungkin terlihat seperti kegiatan sarapan bersama dalam jumlah besar. Tetapi jika melihat lebih dekat, ada pesan sosial dan budaya yang jauh lebih dalam.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, beseprah seperti mengajak kita berhenti sejenak. Menaruh ponsel. Duduk di atas tikar. Lalu makan bersama orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Dari Tikar Panjang hingga Filosofi “Duduk Sama Rendah”
Kalau sekarang sarapan bersama keluarga saja terkadang sulit dilakukan, masyarakat Kutai memiliki tradisi yang justru mengumpulkan begitu banyak orang untuk makan bersama.
Pagi hari yang biasanya diisi dengan kesibukan berubah menjadi ruang perjumpaan. Orang datang dari berbagai latar belakang. Ada masyarakat biasa, tokoh adat, pejabat, tamu undangan, hingga lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Mereka kemudian duduk bersama di atas tikar. Tidak perlu pakaian mewah untuk membuat seseorang terlihat lebih tinggi. Tidak ada kursi yang membuat satu orang tampak lebih berkuasa. Semuanya berada di lantai yang sama.
Dalam tradisi masyarakat Kutai, beseprah dikenal sebagai kegiatan makan bersama dengan cara duduk bersila di atas tikar. Dari sinilah kekuatan simboliknya terasa.
Makan bersama menjadi cara untuk mempertemukan manusia tanpa terlalu mempersoalkan status sosial.
Tradisi ini juga sering dikaitkan dengan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, beseprah telah berlangsung sejak masa awal Kesultanan Kutai Kartanegara, termasuk dikaitkan dengan masa pemerintahan Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Pada masa itu, tradisi menjamu rakyat menjadi salah satu cara membangun kedekatan antara lingkungan kerajaan dan masyarakat.
Yang menarik bukan hanya makanan yang disajikan, tetapi siapa yang duduk bersama siapa.
Dalam kehidupan kerajaan yang mengenal struktur sosial dan tata krama yang kuat, momen makan bersama di atas tikar menghadirkan suasana berbeda. Rakyat dapat berada lebih dekat dengan pemimpinnya.
Percakapan bisa berlangsung lebih santai dan hubungan sosial menjadi lebih cair.
Filosofi yang kemudian terasa kuat adalah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan indah. Dalam beseprah, maknanya benar-benar diwujudkan melalui cara duduk. Semua orang duduk di bawah. Semua orang menyantap makanan. Semua orang berinteraksi.
Tidak ada manusia yang bisa makan sambil berdiri di atas orang lain.
Sesederhana itu. Namun justru dari kesederhanaan tersebut muncul pesan tentang kerendahan hati dan kebersamaan.
Di zaman ketika status sosial terkadang ditunjukkan lewat kendaraan, pakaian, jabatan, jumlah pengikut media sosial, bahkan tempat seseorang makan, beseprah menawarkan pemandangan yang berbeda.
Di atas tikar, semua terlihat lebih manusiawi.
Bukan Cuma Sarapan, Beseprah Jadi Ruang Bertemu dan Berbagi Cerita
Ada satu hal yang sering luput ketika orang membicarakan beseprah. Tradisi ini bukan cuma tentang makanan.
Kalau hanya ingin membuat orang kenyang, tentu tidak perlu menggelar kegiatan sepanjang jalan dan mengundang begitu banyak masyarakat.
Ada fungsi sosial yang jauh lebih besar.
Makan bersama menciptakan kesempatan untuk bertemu. Orang yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaannya bisa kembali bercengkerama dengan tetangga.
Pejabat bisa melihat masyarakat dari jarak yang lebih dekat. Tokoh masyarakat dapat berbincang dengan warga. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal pun bisa duduk bersebelahan tanpa merasa canggung.
Inilah salah satu kekuatan budaya yang sering terlupakan. Makanan ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi.
Tidak harus ada forum resmi. Tidak harus ada podium. Tidak harus ada mikrofon.
Kadang, percakapan paling jujur justru muncul ketika seseorang sedang makan bersama. Sambil menyendok nasi, orang bisa bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang kampung. Tentang kondisi lingkungan.
Bahkan mungkin tentang persoalan yang sedang mereka hadapi.
Dalam suasana seperti itu, jarak antara masyarakat dan pemimpin menjadi lebih cair.
Bukan berarti semua persoalan otomatis selesai hanya karena makan bersama. Namun setidaknya ada ruang untuk saling mendengar.
Kemampuan untuk mendengar merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Hal ini pula yang membuat beseprah tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Kita sekarang hidup dalam dunia yang serba cepat. Komunikasi bisa dilakukan dalam hitungan detik. Pesan dapat dikirim tanpa harus bertemu. Rapat bisa dilakukan lewat layar. Teman yang tinggal ribuan kilometer bisa diajak berbicara melalui video call.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi, yakni kehadiran fisik manusia di ruang yang sama.
Beseprah menghadirkan kembali pengalaman tersebut.
Orang duduk berdekatan. Makan makanan yang sama. Mendengar suara orang lain secara langsung. Dan sesekali tertawa bersama.
Pengalaman sederhana seperti ini justru semakin berharga ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi layar.
Ribuan Porsi, Persiapan Panjang, dan Kuliner yang Bikin Beseprah Makin Istimewa
Kalau dilihat dari luar, beseprah mungkin tampak sederhana. Tikar dibentangkan. Makanan disusun. Orang datang. Kemudian makan bersama.
Tetapi siapa pun yang pernah terlibat dalam kegiatan berskala besar pasti tahu bahwa persiapannya tidak sesederhana itu.
Apalagi ketika beseprah menjadi bagian dari rangkaian acara budaya seperti Erau.
Makanan dalam jumlah besar harus disiapkan. Bahan harus tersedia. Masakan harus matang tepat waktu. Penyajian harus tertata.
Semua itu harus dilakukan sejak pagi, bahkan sebelum sebagian besar masyarakat memulai aktivitasnya.
Di sinilah semangat gotong royong kembali terlihat. Ada warga yang membantu menyiapkan makanan. Ada yang mengatur tempat. Ada yang memastikan hidangan tersusun dengan baik. Ada pula yang membantu menjaga agar acara berjalan tertib.
Menu yang hadir juga menjadi bagian menarik dari pengalaman beseprah.
Berbagai makanan khas daerah dapat ditemukan, mulai dari nasi kuning, nasi kebuli, gence ruan, semur, aneka lauk, ubi goreng, hingga berbagai kue tradisional.
Ada serabai. Ada untuk-untuk. Ada roti gembong. Ada pula jajanan tradisional lain yang membuat sajian sepanjang jalan terasa seperti etalase kuliner khas Kutai.
Bagi wisatawan, pengalaman seperti ini tentu punya daya tarik tersendiri.
Mereka tidak hanya datang melihat pertunjukan budaya. Mereka bisa ikut merasakan langsung salah satu tradisi masyarakat setempat.
Di sisi lain, kegiatan seperti ini juga dapat memberikan ruang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam penyediaan makanan dan kebutuhan acara.
Budaya akhirnya tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan di museum.
Budaya hidup karena dipraktikkan. Budaya bertahan karena ada masyarakat yang terus menjalankannya.
Beseprah adalah salah satu contoh bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hadir dalam kehidupan modern.
Beseprah di Tengah Zaman Digital: Tradisi Lama dengan Pesan yang Makin Relevan
Ada ironi kecil yang menarik.
Di zaman sekarang, manusia punya semakin banyak cara untuk terhubung, tetapi tidak selalu semakin dekat.
Kita punya ratusan kontak di ponsel, tetapi mungkin hanya beberapa orang yang benar-benar kita ajak berbicara dari hati ke hati.
Kita bisa makan sambil menonton video. Bisa mengobrol sambil melihat layar. Bisa berkumpul dalam satu ruangan tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya.
Di tengah kondisi seperti itu, beseprah terasa seperti pengingat sederhana.
Mari duduk dulu. Mari makan bersama. Mari bicara.
Tidak perlu konsep rumit. Tidak perlu teknologi canggih. Cukup tikar, makanan, dan kemauan untuk hadir bersama.
Inilah alasan mengapa beseprah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai seremoni tahunan dalam rangkaian Erau.
Ada nilai sosial yang bisa dibawa ke kehidupan sehari-hari.
Kita tidak harus menunggu Erau untuk makan bersama. Kita bisa memulainya dari rumah. Meluangkan waktu sarapan bersama keluarga.
Mengajak tetangga makan bersama. Mengadakan acara kampung tanpa membedakan siapa yang memiliki jabatan dan siapa yang bukan.
Atau sekadar duduk bersama teman tanpa sibuk memegang ponsel.
Karena pada akhirnya, inti beseprah bukan sekadar nasi kuning atau gence ruan. Bukan pula soal panjangnya tikar yang dibentangkan di jalan.
Pesan terbesarnya ada pada manusia yang duduk di atas tikar tersebut.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda. Tetapi ketika makanan mulai dihidangkan, semuanya punya kebutuhan yang sama yakni makan, berbicara, dan menikmati kebersamaan.
Di situlah beseprah menjadi lebih dari sekadar tradisi.
Ia adalah pengingat bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Bahwa jabatan tidak membuat seseorang lebih tinggi sebagai manusia.
Hubungan sosial kadang bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: duduk bersebelahan dan berbagi makanan.
Mungkin itu pula yang membuat tradisi beseprah tetap menarik untuk dilihat di tengah modernisasi.
Ketika dunia semakin sibuk mengejar kecepatan, beseprah justru mengajarkan kita untuk berhenti sebentar.
Duduk. Menatap orang di sebelah kita. Mengobrol. Lalu makan bersama.
Karena bisa jadi, yang sebenarnya kita butuhkan bukan meja makan yang lebih mewah, melainkan kesempatan untuk duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan sesama manusia.
Penulis : Riyawan, S. HUT (Pemerhati sosial dan Budaya)
