Jombang – Kehangatan persaudaraan menyelimuti halaman SMA Darul Ulum 2, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kabupaten Jombang. Di bawah suasana malam yang penuh kekhidmatan, ratusan ulama, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga Nahdlatul Ulama (NU) duduk bersama menikmati tradisi Liwetan Akbar. Bukan sekadar makan bersama, kegiatan tersebut menjadi momentum merawat silaturahmi sekaligus mengenang perjalanan panjang pesantren yang telah berdiri sejak 1885.
Kegiatan Silaturahmi dan Liwetan Akbar yang digelar pada Kamis (29/10/2026) malam itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Sekitar 500 undangan menghadiri acara yang mempertemukan kalangan pesantren, unsur pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat. Selain mempererat hubungan persaudaraan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang mengenalkan kembali sejarah berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso kepada generasi penerus.
Sejumlah ulama dan tokoh pesantren terlihat hadir, di antaranya KH Rohmatul Akbar atau Gus Bang, Yai Kholil, Gus Mamik, Gus Zuem, Gus Afifudin, Yai Solahudin dari Denanyar, Yai Hasan selaku Rais Syuriyah, serta KH Fahmi selaku Ketua Tanfidziyah.
Kehadiran para tokoh tersebut menambah kekhidmatan acara yang berlangsung dalam suasana sederhana, tetapi sarat nilai kebersamaan.
Dari unsur pemerintahan, hadir Asisten I Pemerintah Kabupaten Jombang, Drs. H. Purwanto, M.K.P., yang mewakili Bupati Jombang Warsubi. Turut hadir Yai Ilham selaku Kepala Kantor Kementerian Haji, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang H. Muhajir, perwakilan Kejaksaan dan Polres Jombang, serta unsur Fatayat, Banser, dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Purwanto menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Liwetan Akbar yang dinilai mampu mempererat hubungan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan silaturahmi semacam ini memiliki nilai positif karena mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam suasana kekeluargaan.
Dukungan serupa disampaikan Gus Fahmi Abdullah dari Tebuireng. Ia memandang tradisi kebersamaan yang telah tumbuh di lingkungan pesantren perlu terus dipelihara sebagai bagian dari upaya menjaga kerukunan dan memperkuat persaudaraan.
Suasana acara semakin bermakna ketika Yai Kholil selaku shohibul bait menyampaikan mauidhoh hasanah di hadapan para undangan.
Dalam tausiyahnya, Yai Kholil mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran para tamu yang datang silih berganti ke lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum sejak Kamis (22/10/2026) hingga Kamis (29/10/2026).
Bagi keluarga besar pesantren, kehadiran para tamu tersebut bukan hanya bentuk penghormatan dan silaturahmi, melainkan juga dipandang sebagai keberkahan yang patut disyukuri.
“Rasulullah SAW dawuh, tamu itu datang membawa rezeki dan pulang membawa doa. Itulah yang kami harapkan, bukan yang lain-lain,” tutur Yai Kholil.
Melalui pesan tersebut, Yai Kholil menekankan pentingnya memuliakan tamu dan menjaga hubungan baik antarsesama. Ia berharap setiap kunjungan membawa manfaat serta memperkuat ikatan persaudaraan di lingkungan pesantren.
Dalam kesempatan yang sama, Yai Kholil juga memohon doa dan dukungan seluruh hadirin agar Pondok Pesantren Darul Ulum senantiasa diberikan keberkahan dan mampu meneruskan perjuangan para pendirinya.
Ia kemudian mengajak para undangan mengenang kembali sejarah berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang telah melewati perjalanan panjang selama lebih dari satu abad.
Pesantren tersebut dirintis sejak 1885 oleh Mbah Yai Tamim Irsyad bersama menantunya, KH Kholil Al Juraimi.
Perjalanan panjang Darul Ulum menjadi bagian dari sejarah perkembangan pendidikan Islam di Kabupaten Jombang. Melalui pengajaran agama dan pembinaan santri, pesantren terus menjalankan perannya dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, akhlak, serta kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Yai Kholil mengingatkan bahwa perjuangan para pendiri pesantren tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata. Nilai pengabdian, keikhlasan, dan ketekunan yang diwariskan perlu diteruskan oleh generasi berikutnya.
Menurutnya, keberlangsungan pesantren membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk para pengasuh, santri, alumni, dan masyarakat yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Darul Ulum.
Dalam tausiyah tersebut, Yai Kholil juga menyinggung kontribusi ulama dan kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Ia mengingatkan kembali peran Nahdlatul Ulama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk lahirnya Resolusi Jihad yang berkaitan erat dengan perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Sejarah tersebut menjadi bagian penting dari semangat peringatan Hari Santri Nasional, yang tidak hanya dimaknai sebagai penghormatan terhadap kehidupan pesantren, tetapi juga pengingat atas kontribusi santri dan ulama bagi bangsa.
Selain mengulas sejarah pesantren, Yai Kholil mengajak masyarakat memahami makna tradisi liwetan yang menjadi inti kegiatan malam itu.
Liwetan merupakan tradisi makan bersama yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, para peserta menikmati hidangan secara bersama-sama tanpa menonjolkan perbedaan kedudukan sosial.
Tradisi tersebut mengandung nilai kesederhanaan, kebersamaan, kesetaraan, serta semangat berbagi.
Di lingkungan pesantren, liwetan juga menjadi sarana memperkuat hubungan antarsesama melalui kegiatan yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan.
Pelaksanaan tahlil, istighosah, dan doa bersama menjadikan kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan suasana kekeluargaan, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.
Melalui tradisi itu, masyarakat diajak memahami bahwa persaudaraan dapat dibangun melalui hal-hal sederhana, termasuk duduk bersama, berbagi makanan, dan saling mendoakan.
Kebersamaan yang terbangun dalam Liwetan Akbar juga memperlihatkan eratnya hubungan antara pesantren dan berbagai unsur masyarakat.
Para ulama, pejabat, aparat keamanan, tokoh organisasi, dan warga NU berbaur dalam suasana yang tidak dibatasi oleh formalitas jabatan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan yang memperkuat komunikasi sekaligus menjaga tradisi silaturahmi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren.
Menjelang akhir acara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tiga kiai, salah satunya Gus Afifudin.
Para undangan mengikuti doa dengan khidmat sebelum melanjutkan ramah tamah dan menikmati hidangan liwetan yang telah disiapkan panitia.
Suasana semakin meriah ketika panitia menghadirkan pembagian hadiah atau doorprize bagi para peserta.
Sekitar 350 lembar kupon undian disiapkan dan dibagikan secara gratis kepada para undangan yang hadir.
Hadiah yang disediakan cukup beragam, mulai dari sarung, jam dinding, kaos bertema Hari Santri, hingga uang tunai senilai Rp100 ribu.
Pembagian hadiah tersebut menjadi pelengkap kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Para undangan tidak hanya memperoleh kesempatan bersilaturahmi, tetapi juga menikmati suasana kebersamaan yang dikemas secara sederhana.
Peringatan Hari Santri melalui Liwetan Akbar ini sekaligus menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan agama.
Pesantren juga menjadi pusat pembinaan umat, penjaga tradisi, serta ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki semangat persaudaraan.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso berupaya menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri sejak 1885.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi liwetan menjadi salah satu cara merawat hubungan sosial dan memperkuat ikatan antara generasi pesantren dengan masyarakat.
Liwetan Akbar dalam rangka Hari Santri Nasional 2026 pun menjadi pengingat bahwa keberkahan sebuah pertemuan tidak semata-mata diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari persaudaraan, doa, dan semangat kebersamaan yang terus dijaga.
Dari halaman SMA Darul Ulum 2 Rejoso, pesan kesederhanaan dan persatuan kembali digaungkan. Tradisi yang diwariskan para pendahulu itu diharapkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas pesantren sekaligus memperkuat hubungan ulama, pemerintah, dan masyarakat Kabupaten Jombang.
