Surabaya – Semangat perjuangan arek-arek Suroboyo akan kembali dihidupkan melalui Parade Surabaya Juang (PSJ) 2026. Mengusung tema “Suroboyo Wani”, perhelatan tahunan ini tidak sekadar menghadirkan barisan peserta dan atraksi seni, tetapi juga menyuguhkan kisah heroik para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu cerita menarik yang diangkat adalah perjuangan Soegiarto, pemain Persebaya era 1930-an yang rela meninggalkan lapangan sepak bola demi ikut berjuang membela Tanah Air.
Parade Surabaya Juang 2026 dijadwalkan berlangsung pada 1 November 2026 mulai pukul 14.30 WIB. Pemerintah Kota Surabaya telah menyiapkan sejumlah pertunjukan teatrikal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Dalam pementasan pembukaan di kawasan Tugu Pahlawan, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi akan memerankan Kolonel Sungkono, tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan Kota Surabaya. Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, akan tampil sebagai sosok Ibu Pertiwi yang menyampaikan doa dan pesan perjuangan kepada para pejuang.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi, menjelaskan bahwa parade tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk memperkenalkan kembali sejarah perjuangan kepada masyarakat. Melalui pertunjukan yang dikemas secara menarik, nilai-nilai kepahlawanan diharapkan lebih mudah dipahami, terutama oleh kalangan generasi muda.
“Pada teatrikal pembukaan di kawasan Tugu Pahlawan, Wali Kota Eri Cahyadi akan memerankan Kolonel Sungkono, tokoh yang memimpin pertahanan Kota Surabaya. Sementara itu, Ketua TP PKK Surabaya berperan sebagai Ibu Pertiwi yang menyampaikan doa dan amanat perjuangan kepada para pejuang sebelum menghadapi pertempuran,” ungkap Herry, Rabu (28/10/2026).
Selain menampilkan tokoh-tokoh perjuangan, PSJ tahun ini juga memberikan perhatian khusus terhadap kisah Soegiarto, pemain sepak bola Persebaya pada era 1930-an. Sosok tersebut menjadi bagian dari cerita sejarah yang menggambarkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan berbagai kalangan masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya menekuni dunia olahraga.
Kisah Soegiarto diangkat sebagai gambaran keberanian seseorang dalam mengesampingkan kepentingan pribadi demi membela bangsa. Keputusan meninggalkan aktivitas sepak bola untuk turut berjuang menunjukkan bahwa semangat nasionalisme dapat tumbuh dari berbagai latar belakang profesi dan kehidupan.
“Perjuangan Soegiarto menunjukkan bahwa kecintaan terhadap tanah air bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Setiap orang memiliki peran dalam perjuangan, sesuai dengan kemampuan dan keadaan pada masanya,” jelas Herry.
Tidak hanya berpusat di kawasan Tugu Pahlawan, rangkaian pertunjukan juga akan tersebar di sejumlah titik sepanjang jalur parade. Di sekitar perempatan gedung eks-Siola, misalnya, masyarakat dapat menyaksikan adegan teatrikal yang mengangkat perjuangan Tentara Genie Pelajar (TGP).
Selain itu, kisah pertempuran di kawasan Jalan Tunjungan turut menjadi bagian dari pertunjukan. Sementara di depan Hotel Majapahit, akan digelar prosesi penghormatan terhadap bendera Merah Putih sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Penyelenggaraan Parade Surabaya Juang 2026 melibatkan sekitar 2.150 peserta dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), TNI, Polri, anggota Paskibraka, komunitas pecinta sejarah, organisasi kepemudaan, serta berbagai kelompok masyarakat lainnya. Keterlibatan lintas generasi dan organisasi tersebut diharapkan mampu memperkuat semangat kebersamaan dalam merawat warisan sejarah Kota Surabaya.
Herry menjelaskan, perjalanan parade akan dimulai dari kawasan Tugu Pahlawan di Jalan Pahlawan. Peserta kemudian bergerak melewati sejumlah ruas jalan utama di pusat kota sebelum mencapai titik akhir di kawasan Balai Pemuda atau Alun-Alun Surabaya, Jalan Gubernur Suryo.
Dengan panjang lintasan sekitar 2,5 kilometer, masyarakat memiliki kesempatan menyaksikan beragam atraksi dan pertunjukan sejarah di beberapa lokasi yang telah disiapkan panitia. Rute tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang kembali sejumlah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Surabaya.
Menurut Herry, tema “Suroboyo Wani” memiliki makna lebih luas daripada sekadar keberanian menghadapi musuh di medan pertempuran. Nilai keberanian tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui semangat belajar, bekerja, berkarya, meraih prestasi, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai sarana pembelajaran sejarah bagi anak-anak. Dengan menyaksikan pertunjukan secara langsung, generasi muda diharapkan dapat mengenal perjuangan para pendahulu sekaligus memahami pentingnya menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.
“Mari datang bersama keluarga dan saksikan Parade Surabaya Juang 2026. Kami berharap kegiatan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus menanamkan semangat keberanian, persatuan dan cinta tanah air kepada generasi penerus,” pungkasnya.
Melalui Parade Surabaya Juang 2026, Pemerintah Kota Surabaya berharap sejarah perjuangan tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi tetap hidup dalam ingatan dan tindakan masyarakat. Kisah Kolonel Sungkono, perjuangan para pelajar, hingga pengorbanan Soegiarto menjadi pengingat bahwa keberanian dan kecintaan terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai peran. Semangat itulah yang ingin diwariskan kepada generasi penerus melalui tema “Suroboyo Wani”.
