Jember – Panggung Auditorium LPP RRI Jember menjelma menjadi “rumah bersama” bagi beragam warna seni dan budaya pada Rabu (9/9/2026). Melalui RRI Fest 2026, seniman, komunitas, hingga masyarakat berbaur dalam satu ruang untuk merayakan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal Kabupaten Jember kepada khalayak yang lebih luas.
RRI Fest 2026 digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI). Meski berada dalam momentum ulang tahun lembaga penyiaran tersebut, kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. RRI Jember memberikan ruang besar bagi berbagai kesenian dan kearifan lokal untuk tampil, sehingga festival menjadi wadah pertemuan antara pelaku seni, komunitas, pendengar, penonton, serta masyarakat umum.
Kepala LPP RRI Jember, Anak Agung Gde Ngurah, menjelaskan bahwa kekayaan budaya daerah memang sengaja ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dalam pelaksanaan festival tahun ini. Langkah tersebut diharapkan mampu membuat beragam kesenian yang berkembang di Jember semakin dikenal masyarakat.
“Kita ingin menampilkan seluruh kearifan lokal, seni budaya kearifan lokal yang ada di Jember. Jadi biar lebih dikenal,” ujarnya.
Selain menjadi ruang promosi budaya, RRI Fest 2026 juga dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antara RRI dengan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan lembaga penyiaran tersebut. Pertemuan dengan pendengar, komunitas, penonton, serta para pengisi acara diharapkan tidak berakhir setelah festival selesai, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan melalui kegiatan-kegiatan berikutnya.
Semangat untuk membangun jejaring tersebut turut dirasakan Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) RRI Jember. Ketua FKP RRI Jember, Danu Hartatik, menilai keterlibatan banyak komunitas menjadi gambaran bahwa RRI dapat berfungsi sebagai ruang terbuka bagi masyarakat yang ingin menghasilkan karya sekaligus mengembangkan kreativitas.
Jumlah kelompok yang terlibat dalam RRI Fest 2026 pun menunjukkan beragamnya warna pertunjukan yang dihadirkan. Sedikitnya lima grup campursari, 21 grup pop dangdut, dan 10 grup keroncong ikut meramaikan rangkaian kegiatan. Kehadiran puluhan kelompok tersebut membuat festival tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga titik temu berbagai komunitas seni di Jember.
“Harapan saya lebih meningkatkan kerjasama antara FKP dengan RRI juga dengan masyarakat,” katanya.
Ragam pertunjukan yang disuguhkan juga tidak hanya berpusat pada musik. Sejumlah seni tari ikut tampil, di antaranya Tari Puspawijaya dan Tari Nisakala Seblang. Tari Nisakala Seblang sebelumnya berhasil menjadi juara dalam ajang Tari Tradisi Pemerintah Kabupaten Jember 2026. Selain itu, Tari Lahbako yang dibawakan Komunitas Perempuan Kebayakan Jember turut memperlihatkan identitas budaya daerah di hadapan penonton.
Nuansa seni tradisional semakin kuat dengan hadirnya Orkes Keroncong Kartini Pamori Jember. Penampilan kelompok tersebut melengkapi keberagaman genre musik yang tersaji, mulai dari campursari dan pop dangdut hingga keroncong. Rangkaian penampilan itu sekaligus memperlihatkan bahwa ruang kebudayaan Jember tumbuh melalui berbagai bentuk ekspresi serta lintas komunitas.
RRI Fest 2026 juga membawa manfaat yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Di halaman LPP RRI Jember, penyelenggara menyediakan pasar murah dan pangan murah. Sejumlah kebutuhan pokok, termasuk beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita, disediakan bagi masyarakat dengan jumlah persediaan terbatas.
Perpaduan antara pertunjukan budaya, ruang kolaborasi komunitas, dan kegiatan sosial tersebut menjadi penerapan semangat “Harmoni dalam Aksi, Bersama Membangun Negeri” yang diusung dalam RRI Fest 2026. Festival itu sekaligus memperlihatkan bahwa peran RRI Jember dapat bergerak melampaui penyiaran melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat.
RRI Fest 2026 akhirnya menjadi panggung yang mempertemukan hiburan, pelestarian budaya, dan semangat kebersamaan. Melalui keterlibatan puluhan komunitas dan pelaku seni, RRI Jember membuka ruang agar kekayaan budaya daerah terus mendapat tempat untuk tumbuh, dikenal, dan diwariskan, sekaligus memperkuat hubungan antara lembaga penyiaran publik dengan masyarakat Jember.
