Surabaya – “Ilmu langit kini menyentuh layar gawai.” Gambaran itu terasa dalam pelaksanaan Sinau Falak Online yang kembali digelar Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur selama lima hari berturut-turut. Kegiatan yang berlangsung pada [12 Mei 2026] hingga [16 Mei 2026] ini menjadi ruang belajar unik bagi ratusan kader falak dari berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri untuk mendalami ilmu hisab rukyat sekaligus pemrograman berbasis teknologi digital.
Program pelatihan daring tersebut berlangsung setiap malam pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting dengan mengangkat tema “Pemrograman Hisab WhatsApp Bot dan Fiqih Hisab Rukyat”. Peserta tercatat berasal dari sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur wilayah Kutai, Sulawesi, hingga peserta internasional dari Brunei Darussalam. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari penguatan kapasitas kader falak agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan pijakan keilmuan klasik.
Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur, Syamsul Ma’arif, menegaskan pentingnya menjaga tradisi rukyatul hilal di lingkungan Nahdlatul Ulama, sembari mengembangkan kemampuan hisab melalui pendekatan teknologi modern.
“Rukyatul hilal bil fi’li tetap kita jaga sebagai penentu. Namun hisab sebagai pengawal rukyat wajib kita kuasai, bahkan dikembangkan dengan teknologi agar lebih cepat melayani umat sampai tingkat ranting,” ujar Gus Syamsul saat membuka kegiatan pada [12 Mei 2026].
Pelatihan ini memadukan pembelajaran fiqih hisab rukyat dengan praktik digital. Materi keagamaan disampaikan oleh tim LBM PWNU Jawa Timur, meliputi dasar hukum rukyat bil fi’li, posisi hisab haqiqi tahkiki, hingga pembahasan kriteria imkanur rukyah MABIMS dan citra hilal sebagai dasar istbat pemerintah. Sementara pada sesi teknologi, peserta diperkenalkan pada pengembangan WhatsApp Bot untuk kebutuhan hisab yang dibimbing instruktur internal LFNU Jatim.
Antusiasme peserta terlihat selama proses pembelajaran berlangsung. Tidak hanya menerima teori, para peserta juga diminta mempraktikkan penyusunan skrip sederhana guna menghitung ijtima’, tinggi hilal, hingga elongasi bulan. Seluruh hasil perhitungan kemudian diintegrasikan ke dalam sistem WhatsApp Bot sehingga informasi hisab dapat diakses lebih cepat oleh masyarakat.
“Ini pertama kali saya belajar falak sambil ngoding. Harapannya setelah pulang, kader di daerah bisa buat layanan hisab mandiri lewat WhatsApp,” ujar salah satu peserta asal Kalimantan Timur.
Peserta dari Brunei Darussalam juga memberikan respons positif terhadap pola pembelajaran yang dianggap relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, pendekatan yang menggabungkan dasar fiqih dengan teknologi digital menjadi metode dakwah ilmu yang efektif sekaligus mudah diterapkan.
“Materi fiqihnya kuat, tapi tetap nyambung dengan kebutuhan zaman. Ini model dakwah ilmu yang kami butuhkan,” tutur peserta asal Brunei tersebut.
Melalui pelatihan ini, Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur menargetkan lahirnya kader-kader falak yang tidak hanya memahami teori astronomi Islam, tetapi juga memiliki keterampilan digital hingga level MWCNU dan ranting. Ke depan, bot hisab hasil pengembangan peserta diharapkan dapat menjadi layanan publik untuk membantu masyarakat memperoleh informasi dasar terkait awal bulan Hijriah secara cepat dan terukur.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan ditutup pada [16 Mei 2026] melalui presentasi proyek mini WhatsApp Bot karya peserta serta pembagian sertifikat elektronik. Meski demikian, LFNU PWNU Jatim menegaskan bahwa seluruh hasil hisab yang dihasilkan tetap memerlukan proses konsultasi dan tashih melalui mekanisme resmi lembaga sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat.
