Jakarta – Program unggulan pemerintah “Makan Bergizi Gratis” (MBG) kembali menuai sorotan tajam setelah lebih dari 5.000 siswa dilaporkan mengalami keracunan massal. Data ini disampaikan langsung oleh Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, yang menyebut insiden ini sebagai peringatan serius bagi sistem distribusi dan pengawasan makanan di sekolah.
“Kami sudah mendata dan menyimpulkan bahwa korban sudah melewati angka 5.000 orang,” ujar Qodari dalam konferensi pers pada Senin (22/09/2025). Ia juga menambahkan bahwa korban paling banyak berasal dari satu wilayah tertentu, meskipun belum disebutkan secara rinci.
Insiden keracunan ini diduga terjadi akibat kelalaian dalam distribusi makanan dan lemahnya kontrol kualitas oleh pihak penyedia makanan. Para korban sebagian besar adalah siswa SD dan SMP yang mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan demam setelah mengonsumsi makanan MBG yang didistribusikan di sekolah mereka.
Pemerintah pusat segera melibatkan BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk melakukan investigasi menyeluruh. Uji laboratorium dilakukan terhadap sampel makanan yang didistribusikan, untuk menelusuri kandungan mikrobiologi, zat kimia berbahaya, serta bahan makanan yang tidak layak konsumsi.
Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah, terutama di daerah terpencil dan kurang mampu. Namun, pelaksanaan di lapangan dinilai masih jauh dari standar yang aman. Tidak sedikit sekolah yang belum memiliki fasilitas pengolahan makanan yang layak atau sistem pengawasan yang ketat.
Dampak dari kasus ini mulai dirasakan luas. Orang tua siswa mendesak pemerintah bertanggung jawab dan meminta perbaikan sistem segera. Beberapa pihak menyuarakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan, termasuk audit ketat terhadap kontraktor lokal yang menangani pengadaan MBG.
Menanggapi hal ini, pemerintah menyatakan komitmennya untuk memperbaiki prosedur distribusi makanan, meningkatkan pengawasan di lapangan, serta memperketat standar operasional program MBG. Selain itu, pendataan ulang terhadap sekolah penerima dan penyedia layanan makanan juga sedang diproses.
Dengan data terbaru ini, masyarakat berharap agar program MBG tidak hanya dikembangkan secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitas dan keamanan, demi melindungi generasi muda Indonesia.
