Malang – Galon bekas tak selalu berakhir menjadi sampah. Di tangan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), barang bekas tersebut dimanfaatkan menjadi media budidaya akuaponik skala rumah tangga yang menghasilkan ikan lele untuk kemudian dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh 19 mahasiswa Kelompok 15 Pengabdian Kepada Masyarakat Bakti Akademisi untuk Negeri (PKM BAHARI) 2026 FPIK UB di Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, di bawah bimbingan Ibu Desy Arisandi, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP).
Kegiatan bertajuk “Budidaya Ikan Lele dalam Galon dan Diversifikasi Pengolahannya” tersebut difokuskan pada pelatihan teknik budidaya ikan lele menggunakan media galon serta diversifikasi produk olahannya, seperti nugget lele. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan ruang dan sumber daya yang tersedia.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Kader Posyandu, pelaku UMKM, ibu-ibu PKK, serta Karang Taruna Desa Pakisjajar. Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan teknik budidaya lele skala rumah tangga menggunakan media galon dan sistem akuaponik. Peserta kemudian diajak memahami pemanfaatan hasil budidaya melalui diversifikasi olahan lele, salah satunya menjadi nugget lele. Materi tersebut disampaikan oleh mahasiswa Kelompok 15, Dimas Pratama Putra dan Abdul Aziiz Rantisi.
Dalam pelatihan diversifikasi olahan lele, peserta tidak hanya diperkenalkan pada pembuatan nugget lele, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai potensi gizi ikan lele, cara penyimpanan makanan setengah matang, pengemasan yang baik, serta strategi pemasaran yang tepat sasaran. Nugget lele juga diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pangan tambahan berbasis bahan pangan lokal yang berpotensi mendukung kegiatan Posyandu melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan dan pemasangan media akuaponik berbasis galon beserta alat pendukung budidayanya. Mahasiswa Kelompok 15 turut mendampingi warga dalam pemasangan instalasi akuaponik di rumah penerima manfaat, sehingga masyarakat dapat langsung melihat penerapan teknologi tersebut dalam skala rumah tangga.
Melalui kegiatan ini, pemanfaatan hasil budidaya lele tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah. Keterlibatan Kader Posyandu, UMKM, PKK, dan Karang Taruna diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha olahan lele di Desa Pakisjajar.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat, SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi mahasiswa dan transfer pengetahuan kepada masyarakat, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan potensi ekonomi lokal, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa yang mandiri dan berdaya saing.
