Tangsel – “Alam sebagai teman belajar” menjadi napas dalam workshop ecoprint yang mewarnai Open Trip Volume 1 di Ekowisata Keranggan, Tangerang Selatan. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (8/8/2026), pukul 12.30 hingga 18.00 WIB itu menjadi ruang baru bagi Abang None Tangerang Selatan untuk keluar dari rutinitas kegiatan dalam ruangan dan menjajal pengalaman belajar langsung di tengah alam.
Workshop tersebut terselenggara melalui kolaborasi Abang None Tangerang Selatan dengan Tjokronesia. Dalam kegiatan ini, Ketua Umum Tjokronesia bertindak sebagai mentor workshop ecoprint dengan membawa konsep pembelajaran dari Kurikulum Fotosintesis. Ecoprint merupakan salah satu materi dalam pilar pengembangan kreativitas yang dirancang untuk mengasah kemampuan peserta dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Jadi, itu salah satu produk dari Kurikulum Fotosintesis, tepatnya pada pilar kreativitas. Kita bekerja sama dalam penyelenggaraan Ecoprint kemarin bersama Abang None Tangerang Selatan, di Ekowisata Keranggan, Tangerang Selatan,” ujar Ketua Umum Tjokronesia.
Kolaborasi tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan pengalaman berbeda bagi Abang None Tangerang Selatan. Selama ini, sebagian besar aktivitas organisasi tersebut lebih banyak berlangsung di ruang formal atau indoor. Karena itu, kegiatan di Ekowisata Keranggan dirancang untuk memberikan pengalaman outdoor sekaligus menghubungkan aktivitas kepemudaan dengan pembelajaran berbasis lingkungan.
“Kenapa kerja sama dengan Abang None Tangsel? Karena memang Abang None Tangsel ini selama ini giatnya ada di lokus-lokus formal, ruangan gitu. Artinya, dia di indoor, ya. Tapi jarang sekali di outdoor gitu. Jarang sekali, hampir tidak pernah malah. Makanya kemudian meng-hire Tjokronesia Education untuk mewujudkan itu,” katanya.
Menurutnya, sebelum kegiatan digelar, pihak Abang None Tangsel mencari aktivitas dalam Kurikulum Fotosintesis yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mampu meninggalkan pengalaman berkesan dan melibatkan alam secara langsung. Dari sejumlah pilihan pembelajaran yang ditawarkan Ecoprintesia, ecoprint akhirnya dipilih karena prosesnya relatif sederhana dan dapat memanfaatkan berbagai bahan yang mudah ditemukan.
Melalui ecoprint, peserta diajak memahami bahwa kreativitas tidak harus lahir dari bahan baru atau perlengkapan yang rumit. Daun, bunga, dan material organik yang kerap dianggap sebagai sampah justru dapat menjadi sumber warna serta motif alami pada kain. Proses tersebut sekaligus memperkenalkan hubungan antara kreativitas, lingkungan, dan prinsip keberlanjutan.

“Nah, tujuan dari pembelajaran Ecoprint itu mendorong kecerdasan kreativitas, tapi yang bermuara atau bersumber dari alam. Artinya, kita menjadikan alam sebagai teman belajar,” ungkapnya.
Pembelajaran tersebut juga diarahkan agar peserta melihat ecoprint dari perspektif ekonomi kreatif. Produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai hasil praktik atau pengalaman belajar, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Potensi itu dinilai relevan bagi generasi muda yang ingin mengeksplorasi usaha kreatif dengan pendekatan ramah lingkungan.
“Terus kemudian, selain itu, Ecoprint juga mempunyai potensi ekonomi, gitu. Artinya, bukan hanya belajar saja, tapi juga bisa membuka peluang untuk ekonomi, membuka peluang ekonomi kreatif. Apalagi untuk anak muda, karena sangat banyak sekali peluang-peluang itu,” ujarnya.
Nilai keberlanjutan menjadi bagian penting lainnya dalam workshop. Dedaunan yang jatuh maupun bunga yang berguguran selama ini lazim dipandang sebagai limbah yang harus dibersihkan. Dalam ecoprint, material tersebut justru memperoleh fungsi baru sebagai sumber pigmen dan pembentuk motif pada tekstil.
Keunikan bahan alami itu turut memberikan karakter tersendiri pada setiap karya. Bentuk daun, bunga, hingga pigmen yang berpindah ke kain menghasilkan pola yang tidak sepenuhnya dapat dibuat seragam. Kondisi tersebut membuat setiap produk memiliki tingkat orisinalitas tinggi sekaligus memperkenalkan alternatif penggunaan pewarna alami dalam kegiatan kreatif.
“Harapannya supaya kita punya kesadaran bahwa sampah organik, limbah-limbah itu bisa kita gunakan kembali untuk kreativitas, untuk keberlanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan cara pandang terhadap sampah menjadi salah satu pesan yang ingin dibangun melalui pembelajaran tersebut. Material yang sebelumnya dinilai tidak berguna dapat dikonversi menjadi karya yang memiliki fungsi, nilai estetika, bahkan peluang ekonomi.
Ketua Ikatan Abang None Tangerang Selatan, Chairul, juga mengungkapkan bahwa aktivitas Abang None selama ini memang lebih dominan dilaksanakan di dalam ruangan. Kolaborasi dengan Tjokronesia melalui Open Trip Volume 1 kemudian membuka kesempatan untuk menghadirkan kegiatan luar ruang dengan pengalaman yang berbeda bagi peserta.
Kehadiran outdoor activity di Ekowisata Keranggan sekaligus memperluas bentuk program kepemudaan yang dapat dikembangkan Abang None Tangsel. Peserta tidak hanya berkumpul dalam sebuah agenda, tetapi terlibat dalam aktivitas yang mempertemukan unsur kreativitas, lingkungan, pengalaman wisata, dan kesadaran terhadap keberlanjutan.
Zani turut menyampaikan rasa senang dan terima kasih atas terlaksananya kegiatan tersebut. Ia berharap kolaborasi yang terbangun tidak berhenti pada Open Trip Volume 1, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan semacam ini dapat menjadi inovasi yang ikonik dalam pengembangan program kerja kepemudaan di Tangerang Selatan.
Bagi Tjokronesia, ecoprint sendiri baru merupakan satu bagian dari pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Fotosintesis. Bahkan, materi tersebut baru menjadi salah satu bentuk pembelajaran dalam pilar pengembangan kreativitas sehingga masih terdapat berbagai aktivitas lain yang berpotensi dikolaborasikan bersama komunitas maupun lembaga.
“Harapannya ke depan, kalau misalnya ada komunitas, kemitraan, kelembagaan, bisnis, dan lain-lain yang ingin bekerja sama dengan kami, kami membuka peluang itu. Karena kita harus bersama-sama mewujudkan sustainability,” ujar Ketua Umum Tjokronesia.
Open Trip Volume 1 di Ekowisata Keranggan akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan luar ruang bagi Abang None Tangerang Selatan. Lewat ecoprint, kolaborasi tersebut mempertemukan kreativitas anak muda, potensi ekonomi kreatif, dan pemanfaatan material alami dalam satu pengalaman belajar. Kerja sama ini juga membuka peluang lahirnya program kepemudaan berkelanjutan yang menjadikan alam bukan sekadar lokasi kegiatan, tetapi sumber pengetahuan dan kreativitas.
