Sampang – “Cahaya tanpa suara” menjadi jalan baru bagi puluhan penyandang tunarungu di Kabupaten Sampang untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Melalui Pelatihan Mushaf Qur’an Isyarat, mereka mendapat kesempatan mempelajari huruf hijaiyah dan membaca ayat suci menggunakan bahasa isyarat yang disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas pendengaran.
Kegiatan yang digelar Komunitas Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kabupaten Sampang itu berlangsung di Aula Balai Latihan Kerja (BLK) Sampang pada Sabtu (8/8/2026). Mengangkat tema “Membuka Pintu Cahaya Al-Qur’an Tanpa Suara”, pelatihan tersebut diikuti puluhan penyandang disabilitas setempat. Sejumlah pihak turut hadir, di antaranya pemateri Mushaf Isyarat Qur’an dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI Ustadzah Maskurun, Wakil Bupati Sampang Ahmad Mahfudz, Camat Sampang, unsur Disperinaker, serta Baznas.
Ustadzah Maskurun menjelaskan, pelatihan tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman sekaligus keterampilan membaca Al-Qur’an melalui bahasa isyarat. Metode itu diharapkan dapat mempermudah penyandang tunarungu mengenali huruf hijaiyah dan menggunakannya dalam proses belajar membaca Al-Qur’an.
“Pelatihan ini sangat penting, karena banyak yang ingin membaca Alqur’an tapi tidak bisa belajar, jadi melalui isyarat Hijaiyah tangan ini semoga bisa cepat untuk membaca Alqur’an,” jelasnya. Seperti dikuti dari salsabilafm.com.
Menurut Maskurun, pembelajaran Al-Qur’an melalui isyarat menjadi terobosan penting karena tidak semua metode belajar konvensional dapat diakses secara mudah oleh penyandang tunarungu. Karena itu, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat dinilai dibutuhkan agar program serupa dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak peserta.
Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak penyandang disabilitas dalam memperoleh pendidikan agama. Bagi penyandang tunarungu, keterbatasan dalam mendengar tidak semestinya menjadi penghalang untuk belajar, memahami, dan mendalami kandungan Al-Qur’an sebagaimana umat Islam lainnya.
“Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan dapat membuka wawasan saudara-saudara tunarungu agar semakin dekat dengan Al-Qur’an, serta tumbuh menjadi generasi Qurani yang meneladani jalan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan akses pendidikan yang lebih inklusif. Wakil Bupati Sampang Ahmad Mahfudz menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan pelatihan sekaligus menegaskan kesiapan pemerintah untuk membantu menyediakan fasilitas bagi kegiatan penyandang disabilitas.
“Secara pribadi saya bahagia dan bersyukur bisa memfasilitasi temen-temen tunarungu dan saudara saudara disabilitas di kabupaten Sampang. Kami mempersilahkan untuk memberikan ruangan, bangunan, atau tempat dalam kegiatan pelatihan ini,” ujarnya.
Komitmen tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyediaan tempat, tetapi dapat mendorong semakin terbukanya ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti berbagai kegiatan pendidikan, sosial, maupun keagamaan. Pemerintah Kabupaten Sampang menilai seluruh warga perlu mendapatkan kesempatan yang setara tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang masing-masing.
Ahmad Mahfudz juga memberikan motivasi kepada peserta agar tidak merasa rendah diri karena kondisi yang mereka miliki. Menurutnya, perbedaan kemampuan bukan alasan seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi di tengah masyarakat.
“Saya yakin teman-teman semua mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Jangan pernah berkecil hati dengan apa yang ada pada diri sendiri, mungkin di satu sisi kita memiliki kekurangan, tetapi di sisi lain akan ada kelebihan,” pesannya.
Pelatihan Mushaf Qur’an Isyarat tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya menghadirkan metode pendidikan agama yang dapat menjangkau kelompok dengan kebutuhan khusus. Dengan pendekatan bahasa isyarat, penyandang tunarungu di Sampang memperoleh sarana pembelajaran yang lebih sesuai sehingga proses mengenal huruf hijaiyah hingga membaca Al-Qur’an menjadi lebih mudah diikuti.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi semakin luasnya pembelajaran Al-Qur’an yang ramah disabilitas di Kabupaten Sampang. Dukungan masyarakat, komunitas, lembaga keagamaan, dan pemerintah daerah menjadi bagian penting agar akses terhadap pendidikan Al-Qur’an dapat dirasakan secara setara oleh seluruh umat, termasuk penyandang tunarungu.
