Jakarta – Suasana hangat penuh semangat persaudaraan terasa dalam acara penutupan World Peace Forum (WPF) ke-9 yang digelar di Hotel Sahid Jakarta.
Presiden Timor Leste, José Ramos Horta, hadir langsung untuk menyampaikan pidato inspiratif mengenai nilai kasih dan kemanusiaan sebelum akhirnya menerima penghargaan Benevolence Award sebagai simbol dedikasi terhadap perdamaian global.
Ramos Horta yang dikenal sebagai tokoh peraih Nobel Perdamaian 1996 itu menegaskan pentingnya dialog dan empati dalam membangun dunia yang bebas dari kekerasan.
Forum yang berlangsung sejak awal pekan ini menjadi ruang bagi para tokoh lintas agama, akademisi, dan pemimpin negara untuk berbagi pandangan mengenai upaya meredam konflik global dan memperkuat nilai kemanusiaan.
“Perdamaian tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari keberanian untuk memahami satu sama lain,” ujar Ramos Horta di sela sambutannya pada Selasa malam (11/11/2025).
Usai sesi penutupan, Ramos Horta turut menghadiri Farewell Dinner WPF ke-9 yang digelar di Balai Kota Jakarta.
Jamuan tersebut dipimpin oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menyambut hangat seluruh delegasi dari berbagai negara. Momen kebersamaan itu menjadi simbol eratnya persaudaraan antarbangsa yang diusung forum internasional tersebut.
World Peace Forum (WPF) ke-9 tahun 2025 diselenggarakan oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bekerja sama dengan Cheng Ho Multicultural Education Trust (Malaysia), Muhammadiyah, dan Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam (GFWI).
Sejak pertama kali diadakan pada 2006, forum ini menjadi wadah dialog lintas peradaban untuk mencari solusi atas konflik dan ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Keterlibatan organisasi besar seperti Muhammadiyah memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah yang berperan penting dalam mengusung diplomasi perdamaian. Forum ini juga menegaskan semangat wasatiyyah, atau jalan tengah Islam, sebagai pendekatan dalam membangun harmoni antarumat manusia.
Rangkaian kegiatan WPF ke-9 kali ini menampilkan berbagai diskusi strategis tentang rekonsiliasi, solidaritas kemanusiaan, dan penguatan kerja sama lintas agama.
Banyak peserta menyebut bahwa hasil forum ini diharapkan menjadi fondasi untuk langkah nyata menuju tatanan dunia yang damai dan berkeadilan.
Dengan penghargaan yang diterimanya, Ramos Horta menutup pertemuan internasional tersebut dengan pesan mendalam agar setiap bangsa menumbuhkan kasih dalam tindakan nyata. “Dunia membutuhkan lebih banyak jembatan, bukan tembok,” pungkasnya dengan penuh makna.
