Cianjur – Tanah Cianjur kembali bergetar menjelang petang. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 mengguncang wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (1/9/2026), ketika sebagian masyarakat mulai memasuki…
Penulis: Richard
Jakarta— Dukungan World Organization of the Scout Movement (WOSM) terhadap pelaksanaan program Life Leaders di Indonesia meningkat. Tahun ini, dukungan pendanaan atau grant untuk program tersebut…
Jakarta – Aksi yang berdampak tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Mengolah sampah daun atau mempertemukan barang tak terpakai dengan warga yang membutuhkan bisa menjadi…
Workshop ini bertujuan mencetak mahasiswa sebagai agen literasi digital yang kritis dan bijak.
Upacara bendera dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di SMK Igasar Pindad, Kecamatan Cisayong, berlangsung khidmat dan penuh makna.
Bulan pendek ini hanya memiliki 28 atau 29 hari. Namun anehnya, ia jarang terasa sepi. Februari selalu membawa dinamika yang unik. Dari perayaan sederhana hingga momen refleksi pribadi, bulan ini menyimpan cerita yang tak kalah padat dari bulan lain.
Langkah baru sering terasa ringan di awal Januari. Kita membuat resolusi. Kita menyusun target. Kita berjanji menjadi versi terbaik diri sendiri. Namun memasuki pertengahan Februari, semangat itu mulai diuji oleh rutinitas yang kembali padat dan nyata.
Bulan kedua dalam kalender sering terasa biasa saja. Tak ada gegap gempita seperti Januari. Tak pula seramai akhir tahun. Namun bagi banyak orang dewasa, Februari menyimpan makna yang lebih dalam. Ia menjadi ruang sunyi untuk mengingat, menilai, dan memahami perjalanan hidup.
Setelah Januari yang penuh adaptasi, kebingungan, dan tantangan, kini langkah-langkah kecil mulai menemukan alurnya. Meskipun tidak sempurna, tapi sudah terasa: hidup ini mulai jalan lagi.
Banyak orang memulai Januari dengan optimisme tinggi. Namun tak semua hal berjalan mulus. Resolusi bisa gagal, semangat bisa turun, atau realita hidup tak sesuai harapan.