Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan keyakinannya bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025 akan bertahan dalam jangka panjang. Ia menyebut bahwa kedua belah pihak sudah mengalami kelelahan dalam konflik berkepanjangan ini.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa “sudah waktunya” bagi kedua kubu untuk mengakhiri kekerasan. “Saya percaya ini adalah awal dari sesuatu yang lebih baik. Kedua pihak sudah lelah—terutama rakyatnya,” ucap Trump di hadapan wartawan.
Trump juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Indonesia, atas peran aktif dalam proses diplomasi yang mendukung tercapainya gencatan senjata tersebut. Ia menyebut keterlibatan negara-negara seperti Qatar, Mesir, Arab Saudi, Yordania, Turki, dan Indonesia sebagai faktor kunci dalam meredakan ketegangan.
“Kita tidak akan sampai di titik ini tanpa dorongan dan mediasi dari negara-negara sahabat seperti Indonesia dan Qatar. Dunia Muslim telah menunjukkan komitmen terhadap perdamaian,” ujarnya.
Gencatan senjata ini diprakarsai melalui kerja sama diplomatik multi-negara setelah eskalasi kekerasan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dalam waktu dua minggu terakhir. Amerika Serikat disebut memainkan peran penekan terhadap Israel, sementara Qatar dan Turki menjadi saluran komunikasi ke Hamas.
Meski begitu, sejumlah pengamat menyatakan kehati-hatian, mengingat rekam jejak panjang kegagalan gencatan senjata di kawasan tersebut. Beberapa pihak memperingatkan bahwa tanpa upaya lanjut untuk menyelesaikan akar konflik seperti status Yerusalem dan blokade Gaza, perdamaian bisa kembali rapuh.
Namun, pernyataan Trump yang menyoroti kelelahan kedua pihak dinilai mencerminkan realitas medan konflik serta tekanan publik internasional yang meningkat terhadap aksi kekerasan di Palestina.
Dengan harapan baru ini, dunia menanti apakah komitmen damai akan benar-benar dijaga atau kembali runtuh dalam ketegangan yang berulang.
