Gyeongju – Seperti pulang dari perantauan dengan buah tangan penuh makna, Presiden Prabowo Subianto kembali dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, membawa komitmen investasi besar yang akan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
Dalam suhu dingin akhir Oktober di Hwabaek International Convention Centre (HICO), Prabowo tidak hanya menyampaikan seruan solidaritas Asia Pasifik, tetapi juga menjalin kemitraan strategis yang akan mendorong hilirisasi industri dan pengembangan teknologi kendaraan listrik di tanah air.
Di hadapan para pemimpin negara anggota APEC, Prabowo menyerukan pentingnya membangun kembali kepercayaan global di tengah ketegangan ekonomi.
Seruan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari agenda besar Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri global. Dalam forum bilateral bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi dari sejumlah raksasa industri Korea seperti Lotte Chemical, EcoPro, POSCO, dan Hyundai Motor Group.
Menteri Investasi dan Kepala Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa EcoPro berkomitmen menanamkan investasi sebesar US$2 miliar untuk memperluas produksi material baterai EV di Indonesia.
Sementara itu, proyek New Ethylene Project (LINE Project) milik Lotte Chemical Indonesia dengan nilai US$3,9 miliar akan memperkuat kapasitas petrokimia nasional.
Proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari 13.000 tenaga kerja serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri. Menariknya, Danantara ditawari kepemilikan saham minoritas sebesar 35 persen di proyek tersebut, memperkuat kontrol strategis nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan bahwa proyek petrokimia ini berada di tahap akhir dan akan diresmikan pada 6 November 2025.
Ia menekankan pentingnya peran Danantara sebagai penghubung antara pemerintah dan investor global, memastikan kedaulatan dalam pembiayaan proyek-proyek besar yang menjadi prioritas nasional.
Dalam pertemuan terpisah dengan pimpinan Hyundai Motor Group, dibahas pula peluang pengembangan mobil nasional berbasis energi bersih. Hyundai menyatakan kesiapan untuk menjalin kemitraan lebih lanjut, termasuk dalam hal transfer teknologi dan pengembangan SDM Indonesia.
Selain itu, kerja sama dengan EcoPro dan POSCO di bidang hilirisasi logam semakin mempertegas arah Indonesia yang tak lagi hanya mengekspor nikel atau bijih besi, tetapi akan menjadi pusat produksi komponen utama industri otomotif dan energi terbarukan.
Di sisi perdagangan, Indonesia menyiapkan negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat untuk penghapusan tarif komoditas strategis seperti sawit, karet, dan kakao.
Presiden Prabowo menyampaikan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia ke depan harus mengedepankan keadilan, ketenangan, dan inklusivitas.
“Pertumbuhan yang eksklusif adalah pertumbuhan yang memecah belah. Perpecahan menyebabkan ketidakstabilan, dan ketidakstabilan tidak akan kondusif bagi perdamaian dan kesejahteraan,” ujarnya.
Baginya, diplomasi ekonomi bukan sekadar transaksi, tetapi bagian dari strategi membangun masa depan bangsa yang mandiri dan berdaulat.
Kepulangan Prabowo dari KTT APEC 2025 bukan hanya membawa wacana, tapi janji nyata dalam bentuk investasi, kerja sama teknologi, dan perluasan kapasitas industri strategis nasional.
Dari petrokimia di Cilegon hingga kendaraan listrik dan logam strategis, semua mengarah pada satu visi: menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang berdiri tegak di panggung global.
