Kairo – Di tengah deru algoritma dan kecerdasan buatan yang kian mendominasi peradaban modern, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak dunia kembali menengok nurani.
Dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir, Menag mengurai gagasan ekoteologi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI), Senin malam waktu setempat.
Dalam forum yang dihadiri tokoh lintas negara itu, Menag membuka paparan dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto sekaligus apresiasi kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungan penuh terhadap penyelenggaraan konferensi.
Acara ini digelar di Kairo sebagai bagian dari dialog global mengenai agama, kemanusiaan, dan tantangan teknologi mutakhir.
Menag menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, tanggung jawab manusia tidak berhenti pada upaya mencari nafkah atau mengejar kemajuan material. Tanggung jawab itu memuat dimensi moral, amanah sosial, serta kesadaran untuk memakmurkan bumi secara berkelanjutan.
Dari titik inilah, ia menegaskan pentingnya ekoteologi sebagai cara pandang yang menautkan relasi manusia dan lingkungan dalam bingkai etika dan amanah Ilahi.
“Dalam kerangka inilah kami menegaskan ekoteologi sebagai pemahaman bahwa hubungan manusia dan alam harus dilandasi tanggung jawab etis, bukan eksploitasi,” tegas Menag dalam pernyataannya yang dirilis usai acara.
Menurutnya, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Tuhan yang harus dijaga keseimbangannya. Setiap aktivitas dan profesi yang merusak harmoni alam pada hakikatnya menyimpang dari tujuan ibadah dan pembangunan peradaban.
Pandangan ini, kata Menag, sejalan dengan gagasan Menteri Wakaf Mesir bahwa membangun peradaban merupakan kewajiban keagamaan.
Menag juga mengutip pemikiran cendekiawan Aljazair Malik bin Nabi, yang menekankan bahwa peradaban bukan sekadar akumulasi materi, melainkan bangunan kemanusiaan dan moral.
Ikatan antara manusia, tanah, dan waktu tidak akan menghasilkan kemajuan tanpa dorongan nilai spiritual yang mengendalikan naluri dan memberi makna pada kerja.
“Peradaban tidak bangkit dengan meniru teknologi yang sudah jadi, tetapi dengan memperbaiki manusianya dan relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja,” ujar Menag.
Memasuki isu kecerdasan buatan, Menag menilai tantangan utama era AI bukanlah kecanggihan algoritma, melainkan bagaimana menjaga sisi kemanusiaan agar tidak tergerus.
Dunia, katanya, tidak hanya memerlukan profesi yang cerdas, tetapi juga beretika dan bernurani.
“Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan hidup sebagai energi moral yang membimbing perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” pesannya.
Ia menambahkan, di Indonesia pemahaman tersebut diwujudkan melalui penguatan pendidikan keagamaan yang terhubung dengan nilai profesionalisme serta etika kerja di lembaga negara dan masyarakat.
Otoritas agama di era AI, menurut Menag, bukan otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral yang memadukan teks, akal, realitas, dan tujuan syariat.
Menutup paparannya, Menag menegaskan bahwa dunia hari ini tidak kekurangan ahli, tetapi kekurangan nilai yang menuntun keahlian.
Tantangan global ke depan menuntut keseimbangan antara kecerdasan akal dan keteguhan akhlak agar kemajuan teknologi tetap berpihak pada martabat manusia.
