Malang – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menjadi salah satu narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sustainable Sanitation and Stunting Prevention” yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya, Malang, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan akademisi, pemerintah, dan pengelola sumber daya air untuk membahas tantangan serta strategi penguatan sanitasi berkelanjutan dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Dalam paparannya yang berjudul “Mikroplastik di DAS Brantas dan Tantangannya bagi Sanitasi serta Pencegahan Stunting: Dari Isu Lingkungan Menuju Isu Kesehatan Masyarakat”, Prof. Andi menyoroti meningkatnya perhatian global terhadap pencemaran mikroplastik yang kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, tetapi juga memiliki implikasi terhadap kesehatan manusia.
Menurut Prof. Andi, Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sebagai salah satu sumber daya air strategis di Jawa Timur menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia, termasuk masuknya sampah plastik dan terbentuknya mikroplastik di lingkungan perairan. Partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut berpotensi terdistribusi luas melalui badan air, sedimen, maupun organisme perairan, sehingga meningkatkan risiko paparan terhadap manusia melalui berbagai jalur lingkungan.
“Mikroplastik tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mewujudkan sanitasi berkelanjutan dan pencegahan stunting,” jelas Prof. Andi.
Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting selama ini lebih banyak dikaitkan dengan aspek pemenuhan gizi dan layanan kesehatan. Namun, kualitas lingkungan, akses terhadap air bersih, serta kondisi sanitasi juga merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, pengendalian pencemaran, termasuk mikroplastik, perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan kesehatan masyarakat yang lebih komprehensif.
Diskusi yang turut menghadirkan perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan Perum Jasa Tirta I tersebut memperkuat pemahaman bahwa tantangan sanitasi tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin dan lintas lembaga untuk menjaga kualitas sumber daya air, memperbaiki sistem pengelolaan limbah, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memperkuat riset dan inovasi berbasis bukti ilmiah.
Forum diskusi ini mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, pengelola sumber daya air, dan organisasi masyarakat sipil yang memiliki perhatian terhadap isu sanitasi dan kualitas lingkungan. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Perum Jasa Tirta I, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Lingkungan Hidup dari berbagai daerah di wilayah Malang Raya, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur, serta sejumlah organisasi lingkungan seperti ECOTON, Alamku Hijau, Kaliku Lestari Nusantara, dan Sabers Pungli. Kehadiran para peserta memperkuat semangat kolaborasi multipihak dalam mendorong pengelolaan sanitasi dan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.
Melalui paparan ini, FPIK UB menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Isu mikroplastik menunjukkan bahwa pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan dapat berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Partisipasi Prof. Andi dalam forum ini menjadi wujud kontribusi FPIK UB dalam menghadirkan perspektif ilmiah terhadap berbagai isu lingkungan yang berkembang, sekaligus mendorong lahirnya solusi kolaboratif untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, lingkungan yang lebih bersih, dan pembangunan yang berkelanjutan.
