Pyongyang – Korea Utara kembali menyita perhatian dunia dengan menggelar parade militer besar-besaran di pusat ibu kota Pyongyang, Jumat malam waktu setempat. Dalam parade tersebut, pemerintah memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) generasi terbaru sebagai bentuk demonstrasi kekuatan militer mereka.
Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati 80 tahun berdirinya Partai Buruh Korea, partai yang memimpin negara komunis tertutup itu sejak era Kim Il Sung. Parade dihadiri langsung oleh pemimpin tertinggi Kim Jong-un, serta perwakilan resmi dari Rusia dan China, dua sekutu utama Pyongyang.
Menurut laporan media pemerintah KCNA, rudal yang ditampilkan disebut memiliki jangkauan antar-benua dan dilengkapi dengan teknologi penghindar radar yang lebih canggih. Ini diyakini sebagai respons terhadap latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang baru-baru ini digelar di perairan sekitar Semenanjung Korea.
“Senjata-senjata yang ditampilkan malam ini adalah simbol dari tekad kami untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa,” ujar narator parade dalam siaran televisi nasional Korea Utara.
Partisipasi delegasi tinggi dari Rusia dan China menimbulkan reaksi dari negara-negara Barat. Banyak pengamat menilai kehadiran mereka sebagai sinyal dukungan politik atas posisi Korea Utara di tengah ketegangan geopolitik global.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut parade ini sebagai “provokatif” dan memperingatkan bahwa langkah seperti itu hanya akan memperkeruh upaya diplomasi nuklir yang sudah lama mandek. Sementara itu, Korea Selatan menyatakan akan memperkuat kerja sama pertahanan dengan Washington dan Tokyo sebagai respons.
Para analis militer menilai bahwa rudal baru yang ditampilkan dalam parade ini berpotensi meningkatkan kapabilitas serangan jarak jauh Korea Utara ke wilayah Amerika Serikat atau sekutunya. Namun, belum ada konfirmasi independen mengenai kemampuan teknis senjata tersebut.
Di tengah ketegangan global yang meningkat, unjuk kekuatan ini kembali menggarisbawahi posisi Korea Utara sebagai aktor yang tidak bisa diabaikan dalam dinamika keamanan Asia Timur.
