Bondowoso – Seperti “luka panjang yang dibiarkan menganga”, ribuan pohon kopi muda di kawasan Ijen ditemukan dalam kondisi tercabik dan ditebang tanpa ampun. Aksi pengrusakan masif ini mengguncang perkebunan kopi milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 5, sekaligus memunculkan dugaan kuat bahwa tindakan tersebut bukan sekadar kenakalan spontan, melainkan perbuatan terencana.
Pengungkapan kasus ini bermula ketika Polres Bondowoso bersama pihak PTPN melakukan olah tempat kejadian perkara di dua titik berbeda di Desa Kaligedang, yakni Dusun Kalisengon dan Kaligedang, pada Rabu (5/11/2025). Pemeriksaan menunjukkan skala kerusakan yang mengkhawatirkan. Di Blok Kalisengon tercatat 19.683 batang kopi ditebang, sementara di area Kaligedang ada 507 batang lainnya mengalami nasib serupa. Seluruh tanaman tersebut berumur sekitar satu tahun dan berada pada fase awal produktivitas.
“Kondisinya ditebang menggunakan alat tajam. Jelas ada unsur kesengajaan,” tegas Kepala Seksi Humas Polres Bondowoso, Iptu Bobby Dwi Siswanto, yang membenarkan temuan tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan betapa seriusnya dugaan pengrusakan ini. Polisi juga memasang garis pembatas di area perkebunan dan melakukan pendataan detail terhadap setiap tanaman yang rusak. Olah TKP dipimpin Kabag Ops Kompol R. Heru Wahyudi, didukung tim Satreskrim, Inafis, serta Polsek Sempol yang memastikan proses pemeriksaan berlangsung menyeluruh.
Berdasarkan hasil pendataan, kerugian materiil ditaksir mencapai lebih dari Rp558 juta. Polisi mencurigai adanya motif yang lebih besar, terkait persoalan kepentingan atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) PTPN I di kawasan tersebut. “Kami tidak menutup kemungkinan ada motif ekonomi dan konflik agraria,” tambah Bobby, menegaskan bahwa arah penyelidikan sedang mengarah pada dugaan keterlibatan pihak luar.
Manager Regional 5 PTPN I, Samuel Nababan, menyatakan bahwa perusahaan menyerahkan sepenuhnya penegakan hukum kepada kepolisian. “Kami berharap pelakunya segera tertangkap, karena dampaknya bukan hanya kerugian ekonomi, tapi juga menghambat produksi dan program peremajaan tanaman kopi di Ijen,” ujarnya dalam kesempatan berbeda.
Ia menuturkan bahwa ribuan tanaman yang rusak adalah hasil penanaman tahun lalu sebagai bagian dari revitalisasi lahan produktif. “Kerusakan ini memukul moral pekerja dan petani binaan kami. Satu tahun kerja keras hilang dalam semalam,” kata Samuel, menegaskan dampak psikologis dan operasional yang ditimbulkan.
Kasus ini menambah panjang daftar polemik agraria di kawasan Ijen, wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra kopi arabika unggulan Bondowoso. Polres Bondowoso memastikan penyelidikan tidak akan berhenti sampai pelaku ditemukan. “Ini menyangkut aset negara, jadi kami tidak main-main. Siapa pun yang terbukti terlibat, akan kami proses sesuai hukum,” tegas Bobby. Kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti dari dua lokasi untuk mempercepat pengungkapan.
Di tengah kekhawatiran masyarakat dan pemangku kepentingan perkebunan, aparat berharap penyelidikan cepat mengurai motif dan aktor intelektual di balik aksi brutal ini, agar ketegangan agraria di Ijen tak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
