Mojokerto – Demonstrasi mahasiswa di depan Kantor DPRD Kabupaten Mojokerto, Selasa (25/3/2025), berlangsung penuh simbol dan sindiran tajam. Salah satu peserta aksi mencuri perhatian publik dengan mengenakan topeng babi—simbol yang sengaja dipilih untuk menggambarkan ketamakan dan keserakahan dalam kekuasaan.
Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap revisi Undang-Undang TNI yang dinilai memberi ruang terlalu besar bagi militer dalam urusan sipil. Mahasiswa menilai UU tersebut tidak hanya mengancam demokrasi, tetapi juga mencerminkan ambisi kekuasaan yang berlebihan dari para pemimpin nasional saat ini.
“Topeng babi ini bukan sekadar properti, tapi simbol dari kerakusan para elite. Kami menilai UU TNI adalah bentuk keserakahan penguasa yang ingin memperluas kuasanya di luar batas,” ujar salah satu mahasiswa pengunjuk rasa yang enggan disebutkan namanya.
Ia menyebutkan bahwa kritik tersebut juga ditujukan kepada Prabowo Subianto, yang menurut mereka menjadi representasi dari pendekatan militeristik dalam kepemimpinan. Mahasiswa menyuarakan kekhawatiran bahwa arah pemerintahan ke depan akan semakin otoriter jika kontrol sipil atas militer melemah.
Aksi ini berlangsung damai namun sarat dengan ekspresi simbolik. Selain topeng babi, sejumlah mahasiswa membawa poster bertuliskan “Rakyat Bukan Musuh Negara” dan “TNI Kembali ke Barak”. Mereka juga menyuarakan orasi melaui pengeras suara megaphon.
Demonstran meminta agar DPRD Mojokerto turut menyampaikan aspirasi masyarakat ke pemerintah pusat dan menolak revisi UU TNI yang sedang bergulir. Mereka juga menyerukan pentingnya menjaga netralitas TNI dalam ranah politik dan pemerintahan sipil.
“Kami tidak menolak TNI sebagai institusi pertahanan, tapi kami menolak jika fungsinya diperluas tanpa batas yang jelas. Ini soal menjaga demokrasi dan membatasi kekuasaan agar tidak disalahgunakan,” kata orator lain dalam demonstrasi.
Hingga aksi berakhir, aparat kepolisian terlihat berjaga untuk mengamankan situasi. Tidak terjadi bentrok antara mahasiswa dan petugas, meskipun beberapa warga sempat berkumpul menyaksikan aksi yang tergolong unik tersebut.
Aksi teatrikal bertopeng babi ini menjadi penanda kuat bahwa kritik publik terhadap pemerintah tak hanya disampaikan melalui kata-kata, tapi juga simbol yang menggugah kesadaran kolektif.
