Aceh Tamiang – Gelombang air dahsyat yang datang seperti mimpi buruk itu meluluhlantakkan Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, pada Kamis (27/11/2025). Banjir bandang hebat menyapu bersih pemukiman warga, meninggalkan reruntuhan dan satu-satunya bangunan yang berdiri: masjid. Sebanyak 280 rumah hilang total, seolah tak pernah ada, menyisakan kisah duka yang membekas.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ini menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah Aceh, dengan total sekitar 2.800 rumah terdampak. Di Desa Sekumur sendiri, seluruh permukiman warga hilang tersapu arus air setinggi 7 hingga 10 meter. Total korban meninggal mencapai 57 jiwa, 23 orang masih hilang, dan 18 lainnya terluka.
“Rumah warga hilang terbawa banjir dengan ketinggian air diperkirakan mencapai 7 hingga 10 meter,” ungkap Hendra, salah seorang warga selamat. “Desa Sekumur lenyap dalam sekejap, hanya tersisa masjid.”
Proses pencarian korban terus dilakukan oleh tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat. Sebagian besar warga kini mengungsi ke dataran lebih tinggi, menanti bantuan dan kabar dari anggota keluarga mereka yang masih dinyatakan hilang.
Sebanyak 56 fasilitas umum dilaporkan rusak, termasuk 17 fasilitas kesehatan, 9 kantor pemerintahan, serta satu jembatan vital yang terputus. Situasi ini membuat distribusi bantuan menjadi terhambat, terutama ke wilayah terdampak paling parah seperti Sekerak.
Desa Sekumur dihuni oleh sekitar 280 kepala keluarga, dengan jumlah penduduk lebih dari seribu jiwa. Kini, mereka kehilangan rumah, harta benda, dan akses terhadap kebutuhan dasar. Kondisi di lokasi pengungsian pun memprihatinkan, dengan terbatasnya pasokan air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, serta layanan kesehatan darurat.
Bencana ini menjadi pengingat keras akan besarnya risiko hidrometeorologis, terutama di wilayah dengan curah hujan ekstrem dan tata ruang yang belum tertata optimal. Pemerintah pusat dan daerah diminta untuk segera melakukan evaluasi mitigasi bencana, termasuk pemulihan lingkungan di sekitar aliran sungai.
Penderitaan yang dialami warga Aceh Tamiang menjadi tanggung jawab bersama seluruh bangsa. Selain bantuan kemanusiaan, perlu juga upaya jangka panjang untuk mencegah agar tragedi seperti hilangnya Desa Sekumur tak lagi terulang.
