Sumatra – Bencana alam yang melanda wilayah Sumatra dalam sepekan terakhir menjadi tragedi nasional. Hingga Ahad (7/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 916 orang meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang melanda 52 kabupaten/kota di tiga provinsi. Ratusan lainnya masih hilang, sementara ribuan orang lainnya mengalami luka dan kehilangan tempat tinggal.
Laporan BNPB menyebut bahwa 274 warga dinyatakan hilang dan sekitar 4.200 orang luka-luka. Bencana ini juga merusak lebih dari 105.900 rumah, menghancurkan 405 jembatan, serta melumpuhkan puluhan fasilitas umum seperti rumah ibadah, sekolah, dan pusat kesehatan. Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak terberat, khususnya di Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara.
“Kami terus berupaya keras mengevakuasi korban dan menjangkau wilayah terpencil meskipun banyak akses jalan terputus,” ungkap seorang relawan dari tim SAR yang tengah bertugas di Aceh Timur.
Upaya pencarian korban dan penyaluran bantuan logistik terhambat oleh medan berat dan infrastruktur yang rusak. Banyak warga terpaksa berjalan meniti puing dan batang kayu demi mencapai titik bantuan. Krisis ini diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang masih berlanjut hingga hari ini.
Para pakar menyebut bencana ini sebagai kombinasi dari cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan. Deforestasi, penggundulan hutan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang disebut memperparah dampak longsor dan banjir bandang yang terjadi secara masif di wilayah hulu.
Bencana ini dinilai sebagai salah satu yang paling mematikan dalam dekade terakhir. Pemerintah pusat telah mengerahkan bantuan darurat, termasuk personel TNI, BNPB, dan relawan kemanusiaan. Namun, kebutuhan terhadap tenda, makanan, air bersih, dan obat-obatan masih sangat tinggi.
Tragedi ini menjadi peringatan serius bahwa Indonesia, sebagai negara rawan bencana, perlu membenahi sistem mitigasi risiko dan memperkuat kesiapsiagaan di level daerah. Sementara itu, duka mendalam menyelimuti keluarga korban dan warga terdampak yang masih berjuang di tengah puing dan genangan air.
