Jakarta— Dukungan World Organization of the Scout Movement (WOSM) terhadap pelaksanaan program Life Leaders di Indonesia meningkat. Tahun ini, dukungan pendanaan atau grant untuk program tersebut mencapai USD 30 ribu, naik dari USD 20 ribu pada tahun sebelumnya.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Kerja Sama Dalam Negeri dan Luar Negeri, Mayjen TNI (Purn.) Toto Siswanto, dalam Training of Trainers (ToT) Life Leaders 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Toto, peningkatan dukungan tersebut menunjukkan pentingnya posisi Gerakan Pramuka Indonesia dalam pengembangan program-program kepanduan dunia. Indonesia memiliki jumlah anggota Pramuka yang sangat besar sehingga keberhasilan program yang dijalankan di Indonesia berpotensi menghasilkan dampak dalam skala luas.
“Untuk program ini saja, yang tahun lalu angkanya 20 ribu US dollar, tahun ini ada peningkatan menjadi 30 ribu,” kata Toto.
Ia menjelaskan, WOSM memiliki kepentingan agar program-program yang dijalankan oleh National Scout Organizations (NSO) di berbagai negara turut memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Gerakan Pramuka sebagai NSO Indonesia menjadi bagian dari upaya tersebut.
Menurut Toto, kontribusi Indonesia menjadi penting karena skala keanggotaannya. Ia menyebut angka anggota Gerakan Pramuka selama ini kerap berada pada kisaran 25 juta orang. Sementara dalam proses pendataan yang sedang berlangsung, menurutnya, lebih dari 16 juta anggota telah tercatat dan memiliki kartu anggota.
“Kalau nanti proses ini sudah selesai, bisa tembus bahkan di atas 20 juta anggota. Bisa dibayangkan, di seluruh dunia memang benar kita yang terbesar jumlah anggota Pramuka,” ujarnya.
Besarnya jumlah anggota tersebut, kata Toto, merupakan potensi besar untuk menghasilkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Apabila kegiatan sosial anggota Pramuka di seluruh Indonesia dikonversikan dan tercatat sebagai service hours atau jam bakti, jumlahnya dapat mencapai puluhan juta jam.
Hibah Harus Berujung Manfaat
Toto mengingatkan bahwa dukungan pendanaan WOSM harus dikelola secara bertanggung jawab. Penerima program bukan hanya dituntut mampu melaksanakan kegiatan, tetapi juga memastikan setiap kegiatan menghasilkan manfaat serta terdokumentasi dan dilaporkan dengan baik.
“Sekecil apa pun program nanti, penjabaran dari Life Leaders itu, mudah-mudahan dengan didasari pemahaman tadi, sekarang dikembalikan, kita kelola dengan baik. Dan ujungnya, kata kuncinya, bermanfaat,” katanya.
Ia juga meminta anggota Gerakan Pramuka tidak melihat grant tersebut semata-mata sebagai uang yang diberikan pihak luar. Sebagai anggota WOSM, Gerakan Pramuka juga berkontribusi melalui iuran. Dana tersebut bersama sumber pendanaan lain yang dikelola dalam lingkungan WOSM kemudian digunakan untuk mendukung berbagai program kepanduan.
Karena itu, menurut Toto, ada tanggung jawab untuk memastikan dukungan yang diterima kembali oleh Indonesia benar-benar menghasilkan dampak.
Kepercayaan juga menjadi faktor penting. Pengelolaan program yang baik, disertai laporan yang tertib dan dampak yang dapat ditunjukkan, akan membangun trust terhadap Gerakan Pramuka Indonesia.
Toto mencontohkan pelaksanaan Life Leaders pada periode sebelumnya. Ketika program dapat dilaksanakan, dipertanggungjawabkan, dan manfaatnya terlihat, WOSM dapat melihat kesungguhan Indonesia dalam mengelola dukungan yang diberikan.
Aksi Tak Harus Berskala Besar
Life Leaders diarahkan untuk mendorong anggota muda menghasilkan proyek yang menjawab persoalan nyata di lingkungan mereka. Toto menegaskan bahwa proyek tersebut tidak harus berupa kegiatan besar.
Ia mencontohkan kegiatan periode sebelumnya ketika anggota Pramuka di suatu daerah mengolah sampah daun menjadi produk yang bermanfaat. Contoh lainnya berupa kegiatan sosial garage sale yang memungkinkan barang-barang yang sebelumnya tidak terpakai kembali dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, kekuatan Gerakan Pramuka justru terletak pada kemampuan memperbanyak aksi sederhana tersebut. Satu kegiatan mungkin menghasilkan dampak terbatas, tetapi jika dilakukan oleh banyak kelompok di berbagai daerah, akumulasi manfaatnya menjadi sangat besar.
Program-program semacam itu juga memiliki keterkaitan langsung dengan SDGs, baik pada dimensi sosial, ekonomi maupun lingkungan. Toto menyebut kiprah Gerakan Pramuka melalui berbagai program WOSM selama ini pada dasarnya telah berada dalam jalur tersebut.
Tantangan Mencatat Jutaan Jam Bakti
Di tengah besarnya aktivitas Gerakan Pramuka, Toto menyoroti satu persoalan yang masih perlu diperbaiki, yakni pencatatan dan pelaporan kegiatan dalam bentuk service hours.
Menurutnya, jumlah anggota Pramuka Indonesia sangat besar dan aktivitas sosial yang dilakukan juga banyak. Namun, jumlah tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam data kegiatan yang tercatat pada sistem WOSM.
Padahal, apabila aktivitas anggota dapat dilaporkan secara konsisten, Indonesia berpotensi mencatatkan puluhan juta jam bakti.
“Kalau tiap orang anggota Pramuka Indonesia melaporkan kegiatannya, itu dapat jam baktinya bukan hitungan ribu, ratus ribu, tetapi puluhan juta jam bakti,” ujarnya.
Pencatatan tersebut, menurut Toto, tidak boleh dianggap sekadar pekerjaan administratif. Data menjadi bukti terukur mengenai kontribusi anggota Pramuka Indonesia kepada masyarakat sekaligus memperlihatkan jejak kontribusi Indonesia dalam gerakan kepanduan dunia.
Kwarnas sebelumnya juga telah mendorong pelaporan tersebut melalui edaran kepada kwartir daerah yang dilengkapi petunjuk teknis pencatatan kegiatan.
Peserta ToT Menjadi Pengganda Dampak
Melalui ToT Life Leaders 2026, para peserta dipersiapkan untuk membawa pendekatan program tersebut kembali ke daerah masing-masing. Mereka diharapkan tidak berhenti sebagai penerima materi, tetapi menjadi penggerak yang mendampingi anggota muda merancang dan menjalankan proyek di masyarakat.
Toto berharap waktu pelatihan yang relatif singkat dapat digunakan untuk memahami prinsip-prinsip utama Life Leaders. Pengetahuan tersebut kemudian dipadukan dengan pengalaman peserta sebagai pembina dan penggerak kepramukaan untuk memperluas manfaat program di daerah.
Semakin banyak anggota muda yang didampingi dan menjalankan proyek, menurutnya, semakin besar pula kontribusi Gerakan Pramuka terhadap masyarakat. Jika aksi tersebut sekaligus terdokumentasi dalam service hours, dampak jutaan anggota Gerakan Pramuka Indonesia juga dapat terlihat dalam peta kontribusi kepanduan dunia.
ToT Life Leaders 2026 berlangsung di Jakarta pada 26–28 Agustus 2026 dengan mengusung semangat “Indonesian Scout Impact Innovators for Earth.” Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas penggerak Life Leaders agar mampu menerjemahkan agenda global menjadi aksi konkret di komunitas masing-masing.
