Trenggalek — Pantai Kili-Kili, Kabupaten Trenggalek, tidak hanya dikenal sebagai kawasan pesisir, tetapi kini diperkuat fungsinya sebagai ruang pembelajaran, penelitian, dan konservasi. Universitas Brawijaya (UB) bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek memperkuat kolaborasi melalui Peresmian Laboratorium Lapang Bersama atau Living Laboratory dan pelepasan tukik di Pantai Kili-Kili, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama UB, Pemerintah Kabupaten Trenggalek, dan para pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan laboratorium lapang sekaligus pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati pesisir. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menjadi salah satu unsur akademik yang dilibatkan dalam kolaborasi tersebut.
Peresmian Living Laboratory menjadi langkah penting untuk semakin mendekatkan aktivitas akademik dengan kondisi nyata di lapangan. Kawasan pesisir tidak hanya menjadi objek yang dipelajari dari ruang kuliah dan laboratorium kampus, tetapi dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara langsung.
Konsep tersebut dinilai relevan bagi pengembangan keilmuan perikanan dan kelautan. Kompleksitas ekosistem pesisir membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada teori, melainkan juga melalui pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan serta interaksi dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan kawasan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peresmian Living Laboratory dilanjutkan dengan pelepasan tukik di Pantai Kili-Kili. Kegiatan melibatkan unsur pimpinan Universitas Brawijaya, Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Pokmaswas Taman Kili-Kili, serta berbagai pemangku kepentingan. Daftar undangan juga mencakup perwakilan WWF Indonesia dan BPSPL Denpasar Satuan Kerja Surabaya/Wilayah Kerja Jawa Timur di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pelepasan tukik semakin memperkuat pesan konservasi yang menjadi bagian dari pengembangan laboratorium lapang tersebut. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa perlindungan biodiversitas pesisir membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, kelompok masyarakat pengawas, hingga lembaga yang bergerak di bidang konservasi.
Momentum ini juga beririsan dengan rangkaian Metri Bumi dan Sumber Air yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam rangka Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek. Program tersebut membawa semangat pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya menuju Trenggalek Net Zero Carbon, dengan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di sejumlah kecamatan.
Pertemuan antara agenda konservasi daerah dan pengembangan Living Laboratory membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih jauh dalam menjawab persoalan lingkungan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Bagi FPIK UB, kawasan lapang seperti Pantai Kili-Kili berpotensi menjadi ruang yang mempertemukan pendidikan, riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Kehadiran laboratorium lapang juga dapat memperkuat pembelajaran mahasiswa dengan membawa proses pendidikan lebih dekat pada objek yang dipelajari. Mahasiswa dan peneliti dapat memperoleh pengalaman memahami dinamika ekosistem pesisir secara langsung, sementara hasil kegiatan akademik berpeluang memberikan kontribusi bagi pengelolaan kawasan.
Kolaborasi semacam ini sekaligus memperlihatkan bahwa universitas dapat mengambil peran lebih luas dari sekadar menghasilkan pengetahuan. Kampus dapat menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam menghadirkan pendekatan ilmiah untuk mendukung pengelolaan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Bagi Universitas Brawijaya dan FPIK UB, pengembangan Living Laboratory di Pantai Kili-Kili juga membuka ruang bagi penguatan kolaborasi multidisiplin. Selain FPIK UB, keterlibatan dari UB mencakup Fakultas Kedokteran Hewan, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi, serta UPT Laboratorium Riset Terpadu.
Ke depan, keberadaan Living Laboratory diharapkan menjadi fondasi untuk memperkuat keterhubungan antara kampus, pemerintah, masyarakat, dan kawasan pesisir. Dengan demikian, Pantai Kili-Kili tidak hanya menjadi lokasi kegiatan konservasi, tetapi dapat berkembang sebagai ruang pembelajaran dan penelitian lapang yang memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pelestarian lingkungan.
Inisiatif tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, SDG 13 tentang Climate Action, SDG 14 tentang Life Below Water, serta SDG 17 tentang Partnerships for the Goals.
Melalui peresmian Living Laboratory dan pelepasan tukik, Pantai Kili-Kili diharapkan tidak hanya menjadi tempat konservasi dilakukan, tetapi juga menjadi tempat ilmu pengetahuan dipelajari, diuji, dan diterapkan secara langsung untuk menjaga pesisir Indonesia.
Catatan: Dokumen sumber belum mencantumkan jumlah tukik yang dilepas, nama pejabat yang benar-benar hadir saat pelaksanaan, maupun kutipan sambutan. Informasi tersebut sebaiknya ditambahkan setelah tersedia dokumentasi atau notulensi pelaksanaan agar pemberitaan tetap faktual.
