Muslim itu seperti singa. Ia diciptakan dengan keberanian, kekuatan, dan keagungan yang tak perlu diajarkan. Ia tangguh secara alamiah. Namun hari ini, singa itu tidak lagi mengaum. Ia dikurung dalam penjara yang tidak terlihat, dibatasi oleh tembok yang bahkan tidak nyata: pemikirannya sendiri.
Penjajahan fisik yang menimpa umat Islam hari ini adalah bayangan dari penjajahan yang lebih dalam: penjajahan pikiran.
Umat Islam tak lagi percaya pada kekuatannya sendiri. Mereka lebih takut pada opini dunia ketimbang hukum Allah. Mereka ragu terhadap sejarah kejayaan umat dan pesimis pada masa depan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
Padahal sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Al-Fattah Al-Awaisi:
“Liberation of mind before liberation of land.”
Pembebasan pikiran harus terjadi sebelum pembebasan tanah.
Hari ini, Baitul Maqdis ditawan. Tapi lebih dalam dari itu, umat ini yang sebenarnya sedang ditawan, oleh narasi global yang menyudutkan, oleh sistem pendidikan yang menjauhkan dari jati diri, oleh media yang membentuk opini bahwa umat ini lemah dan tak berdaya.
Padahal rantai yang menahan umat bukanlah senjata, tapi keyakinan keliru yang ditanam sejak lama. Umat ini butuh mind liberation — pembebasan pemikiran, sebelum bicara soal pembebasan fisik.
Ketika pikiran kembali pada tauhid, pada kemuliaan Islam, dan pada janji Allah, maka langkah kaki pun akan ikut bergerak. Kemenangan akan terasa sangat dekat, karena yang membatasi kita selama ini hanyalah dinding yang kita bangun sendiri di dalam kepala.
Lepaskan rantai di pikiran, dan singa itu akan kembali mengaum.
