Langkah awal monumental itu dimulai dari bawah tanah Kalimantan Timur. Ketika gas raksasa ditemukan di Muara Badak pada awal 1972, tak banyak yang tahu bahwa temuan itu akan mengubah nasib sebuah kampung kecil bernama Bontang. Tak hanya menemukan potensi, Indonesia kemudian menjual mimpinya dalam bentuk kontrak LNG jangka panjang—bahkan sebelum kilangnya dibangun.
Pada akhir 1971 dan awal 1972, dua penemuan gas besar mengguncang sektor energi nasional. Lapangan Arun di Aceh oleh Mobil Oil dan Lapangan Badak oleh Huffco (kini VICO Indonesia) menjadi simbol kekayaan energi baru Indonesia. Penemuan ini membuat Pertamina menetapkan arah baru: membangun kilang LNG untuk ekspor, salah satunya di Bontang.
Langkah selanjutnya lebih revolusioner. Pada 5 Desember 1973, lima perusahaan besar Jepang—Chubu Electric, Kansai Electric, Kyushu Electric, Nippon Steel, dan Osaka Gas—menandatangani Kontrak Penjualan LNG 20 tahun. Kontrak ini legendaris karena disepakati sebelum kilang LNG berdiri. Inilah yang dikenal sebagai “Kontrak 1973”, tonggak awal industri LNG Indonesia.
“Ini langkah yang sangat berani dan strategis. Menjual sebelum punya produk adalah bentuk kepercayaan pada visi,” ujar analis energi dari OPEX PMC, dalam ulasan sejarah Badak LNG.
Bontang dipilih karena lokasinya dekat lapangan Sanga-Sanga dan Muara Badak. Skema pasokan gas dirancang bertahap, dengan Mahakam (Total Indonesie/INPEX) bergabung pada 1982 lewat lapangan Bekapai dan Handil, meningkatkan volume dan keandalan suplai.
Pada 26 November 1974, PT Badak NGL resmi berdiri. Konstruksi kilang segera dimulai. Hanya dalam tiga tahun, Train A selesai pada 5 Juli 1977. Pabrik diresmikan pada 1 Agustus, dan kargo perdana berlayar ke Jepang pada 9 Agustus menggunakan LNG Aquarius. Inilah momen lahirnya ekspor LNG Indonesia.
Bagi Bontang, fase pra-kilang ini sangat krusial. Ia memvalidasi proyek secara ekonomi lebih dulu, mendatangkan devisa dan membuka akses pendanaan. Selain itu, arsitektur pasokan dibangun matang sejak awal. Kota yang dulunya hanya kampung nelayan, berubah menjadi pusat industri modern, lengkap dengan pelabuhan, jaringan pipa, dan infrastruktur sosial.
Pada 1982, aliran gas dari lapangan Mahakam makin memperkuat eksistensi Bontang sebagai hub LNG. Kota ini tumbuh bersama dengan proyek energi yang menjadi kebanggaan nasional.
Dari kontrak tanpa pabrik hingga kargo pertama yang menyeberang ke Jepang, semua dimulai dari keberanian bermimpi besar. Fase awal ini bukan hanya pondasi industri, tapi juga transformasi total wajah Bontang.
