Cahaya lampu pagi di koridor kampus belum sempurna menyala. Lantai masih basah disapu pel, kursi-kursi kelas belum disentuh. Sebagian besar mahasiswa masih di rumah, dosen mungkin baru membuka laptopnya, tapi di balik lorong dan gerbang, dua sosok sudah bekerja: satpam dan petugas kebersihan kampus.
Mereka datang saat kampus masih sepi. Pagi hari, bahkan sebelum burung berkicau, mereka sudah menyiapkan ruang bagi kegiatan kita: kuliah, seminar, diskusi, sampai rapat dosen.
Menjaga Kampus Tetap Aman
Pak Joko, satpam berusia 50-an, sudah berdiri di gerbang sejak pukul 05.30. Dengan rompi reflektif dan senyum ramah, ia mengarahkan kendaraan mahasiswa ke area parkir. Sesekali ia membantu tamu mencari ruang kantor jurusan atau membantu mahasiswa yang terlihat kebingungan.
“Kalau pagi, saya biasa bantu atur parkir dan jagain anak-anak yang baru datang,” ujarnya. “Shift saya sampai siang, nanti digantikan teman untuk shift malam.”
Tugas satpam tak sekadar berjaga. Mereka juga menengahi konflik kecil mahasiswa, membantu saat kendaraan mogok, hingga menjadi penolong darurat ketika hujan deras mengguyur saat jam pulang. “Pernah ada mahasiswa kehujanan, saya pinjamkan jas hujan kampus,” tambah Pak Joko.
Di balik postur tegap dan tugas yang terlihat biasa, mereka menghadapi risiko: cuaca ekstrem, jam kerja panjang, bahkan potensi keamanan yang sewaktu-waktu bisa berubah. Tapi, seperti kata Pak Joko, “Kalau kampus aman, mahasiswa tenang belajar. Itu jadi kebanggaan kami.”
Membuat Kelas Jadi Nyaman
Sementara di dalam gedung, suara pel menggesek lantai memecah keheningan pagi. Maria, ibu dua anak, sudah mulai mengepel aula dan membersihkan toilet sejak pukul 06.00. “Kalau aula ada seminar, kita harus lembur. Kadang sampai malam,” katanya sambil tersenyum lelah.
Cleaning service tidak hanya menyapu dan mengepel. Mereka membersihkan toilet, menata ruang seminar, membuang sampah, bahkan mengecek AC dan kabel saat ada acara besar.
Pak Budi, rekan Maria, biasa bekerja shift sore. “Kalau acara sampai malam, ya kami tunggu sampai selesai. Kadang bersih-bersih mulai jam 9 malam,” ujarnya. Ia pernah menyalakan senter untuk bantu mahasiswa keluar dari ruang yang tiba-tiba mati lampu.
Mereka tak banyak bicara. Tapi hasil kerja mereka terlihat jelas: lantai bersih, kursi rapi, toilet wangi. Kampus nyaman bukan karena teknologi saja, tapi karena tangan mereka bekerja dalam diam.
Di Balik Lelah dan Diam
Pekerjaan ini menuntut tenaga dan kesabaran. Banyak dari mereka bekerja lewat outsourcing, dengan jam kerja panjang dan gaji pas-pasan. Kadang ada yang diremehkan, dianggap ‘cuma petugas’. Tapi mereka tetap datang setiap hari.
“Kalau lelah pasti, tapi saya pikir ini doa juga,” kata Maria. “Saya bersih-bersih agar orang bisa belajar dengan tenang. Anak-anak saya bangga.”
Sebagian mahasiswa bahkan tidak menyadari kehadiran mereka. Tapi ketika toilet kotor atau kelas berantakan, barulah semua orang sadar pentingnya mereka.
Suara Mahasiswa dan Dosen
Nisa, mahasiswa baru, bercerita, “Pertama kali ke kampus, saya bingung cari ruang. Satpam kampus langsung bantu, padahal saya belum kenal siapa-siapa.”
Pak Arif, dosen Ilmu Sosial, juga mengaku sering terkesan dengan kerja petugas kebersihan. “Ruang kelas selalu bersih. Saya tahu itu bukan karena keajaiban, tapi kerja keras.”
Riko, mahasiswa tingkat akhir, menyimpulkan dengan tepat, “Mereka bukan dosen, bukan juga rektor. Tapi tanpa mereka, kampus ini enggak akan nyaman.”
Sekadar Terima Kasih Bisa Berarti
Mereka memang tak masuk daftar dosen pengajar atau staf akademik. Tapi tanpa mereka, kampus bukan tempat belajar yang nyaman.
Jadi, mulai hari ini, yuk kita biasakan menyapa satpam di gerbang. Tersenyum pada ibu yang mengepel koridor. Ucapkan terima kasih.
Karena kampus yang hidup dan nyaman bukan hanya milik kita, tapi juga hasil kerja mereka yang diam-diam menjaga setiap sudutnya.
