Mojokerto bukan sekadar kota sejarah. Ia adalah pusat ekonomi regional yang tumbuh dari keringat petani, deru mesin pabrik, dan derap kaki pedagang pasar. Sejak zaman kolonial, Mojokerto memainkan peran vital dalam jalur ekonomi Jawa Timur — dari penghasil gula utama, simpul logistik, hingga kota dagang yang menyambung pelabuhan Surabaya dengan pedalaman Jawa.
Awal Ekonomi Mojokerto: Gula, Padi, dan Perkebunan
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan sistem ekonomi kolonial berbasis ekspor hasil bumi. Mojokerto, dengan tanah vulkanik subur dari Gunung Penanggungan, menjadi wilayah unggulan untuk komoditas tebu, tembakau, dan padi.
Di sinilah kemudian berdiri pabrik-pabrik gula besar seperti:
- PG Gempolkrep
- PG Tjoekir (Tjukir)
- PG Krembung (pinggiran Mojokerto)
Pabrik-pabrik ini bukan hanya industri, melainkan pusat kekuasaan ekonomi yang terhubung langsung dengan perkebunan rakyat. Ratusan rombongan lori gula ditarik ke stasiun dan pelabuhan, menandai Mojokerto sebagai produsen gula penting di Hindia Belanda.
“Pabrik gula adalah jantung ekonomi Mojokerto pada awal abad ke-20. Kota ini berdetak bersama musim panen tebu,”
— Dr. Helius Sjamsuddin, sejarawan ekonomi kolonial.
Jalur Rel dan Mobilitas Komoditas
Pembangunan rel kereta api pada tahun 1880-an memperkuat posisi Mojokerto sebagai kota logistik. Jalur Surabaya–Madiun dan cabang ke Jombang menghubungkan kota ini dengan pusat-pusat produksi dan pelabuhan ekspor.
Hasil bumi dari Ngoro, Bangsal, dan Mojosari dikumpulkan di gudang-gudang sekitar stasiun. Dari sini, komoditas dikirim dengan kereta api menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Infrastruktur ini membuat Mojokerto menjadi kota dagang yang menghubungkan pedalaman agraris dengan kota pelabuhan industri.
Pasar dan Perdagangan Rakyat: Lapisan Ekonomi Lokal
Selain industri besar, Mojokerto juga tumbuh dari aktivitas perdagangan rakyat. Pasar-pasar tradisional seperti:
- Pasar Tanjung Anyar
- Pasar Prajurit Kulon
- Pasar Benpas
menjadi nadi ekonomi harian. Di sana, para pedagang kecil, buruh angkut, dan pelaku UMKM membangun ekosistem ekonomi kota yang hidup dan terus bertumbuh.
Produk khas seperti onde-onde, batik Majapahit, dan hasil olahan pertanian menjadi identitas Mojokerto sebagai kota niaga berbasis tradisi.
Mojokerto di Era Kemerdekaan: Dari Kota Gula ke Industri Modern
Setelah kemerdekaan, nasionalisasi pabrik gula membawa Mojokerto ke babak baru. PG Gempolkrep dan PG Tjoekir diambil alih pemerintah dan menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Meskipun menghadapi pasang surut produksi, pabrik-pabrik ini tetap menjadi sumber lapangan kerja bagi ribuan warga.
Seiring waktu, kawasan Ngoro Industrial Park (NIP) di pinggiran kota muncul sebagai wajah baru Mojokerto: sentra manufaktur, logistik, dan ekspor.
Kini, Mojokerto tidak lagi hanya kota gula, tetapi juga kota industri ringan dan agribisnis yang terhubung dengan pasar nasional dan ASEAN.
Akar Perdagangan, Identitas Kota yang Tetap Melekat
Meski modernisasi terus berjalan, identitas Mojokerto sebagai kota perdagangan tetap hidup. Tradisi negosiasi, semangat kerja keras, dan keuletan rakyatnya menjadi fondasi ekonomi kota ini.
Setiap pagi, ribuan orang menuju pasar, pabrik, dan peron stasiun — mencerminkan denyut ekonomi yang tidak pernah berhenti. Dari masa kolonial hingga era digital, roh dagang Mojokerto tetap menyala.
“Ekonomi Mojokerto adalah kombinasi antara industri dan gotong royong. Itulah yang menjadikan kota ini mandiri,”
— Ratri Puspitasari, pengamat ekonomi lokal.
Pabrik gula, jalan rel, dan pasar tradisional bukan hanya simbol ekonomi Mojokerto, tetapi juga penanda jati dirinya sebagai kota pekerja. Di sini, sejarah dan ekonomi bertemu — membentuk wajah kota yang terus bergerak maju tanpa kehilangan akar.
Mojokerto bukan sekadar kota penyangga Surabaya. Ia adalah simpul ekonomi yang tumbuh dari rakyat dan untuk rakyat — dari masa penjajahan hingga Indonesia merdeka.
