Semarang – Seperti embun yang jatuh di pagi hari, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional yang akan digelar di Provinsi Jawa Tengah pada September mendatang diharapkan membawa kesejukan sekaligus keberkahan bagi umat dan daerah. Ajang ini bukan sekadar lomba membaca Al-Qur’an, tetapi peristiwa kebudayaan dan keagamaan yang sarat makna sejarah, sosial, dan kebangsaan.
MTQ Nasional di Jawa Tengah menjadi pengulangan sejarah setelah terakhir kali digelar pada 1979 di Kota Semarang. Penunjukan ini menegaskan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu episentrum penting dalam perjalanan MTQ di Indonesia. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1968 di Makassar, MTQ tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun relasi harmonis antara negara dan umat Islam pascaperistiwa politik besar 1966. MTQ hadir sebagai ruang temu, dialog simbolik, dan sarana rekonsiliasi sosial.
Seiring waktu, hubungan negara dan umat Islam mengalami pasang surut, khususnya pada era Orde Baru. Namun memasuki akhir 1980-an hingga awal 1990-an, terjadi kebangkitan ekspresi Islam di ruang publik yang oleh banyak akademisi disebut sebagai Islamic Turn. Fenomena ini ditandai dengan lahirnya institusi ekonomi dan media berbasis Islam, serta semakin diterimanya aktivitas keislaman dalam birokrasi pemerintahan.
“MTQ hari ini memiliki makna yang berbeda karena iklim politik yang relatif akomodatif terhadap kepentingan umat Islam,” ujar Wahid Abdulrahman, Wakil Ketua TPPD Jawa Tengah, dalam tulisannya. Ia menilai MTQ bukan hanya sarana melahirkan qori dan qoriah terbaik, tetapi juga instrumen diplomasi kebudayaan yang meneguhkan citra Indonesia sebagai negara Muslim moderat di tingkat global.
Sebagai tuan rumah, reputasi Jawa Tengah menjadi taruhan. Target menjadi juara umum dianggap wajar, terlebih status tuan rumah kerap memberi keuntungan psikologis dan teknis. Untuk itu, optimalisasi waktu persiapan mutlak dilakukan, termasuk penguatan sinergi dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota guna meningkatkan kualitas kaderisasi peserta.
Selain prestasi, tantangan lain adalah kemampuan memberikan pelayanan terbaik kepada ribuan peserta dari seluruh Nusantara. Kepuasan kafilah menjadi indikator utama kesuksesan penyelenggaraan. Kesiapan infrastruktur dasar, fasilitas penunjang, hingga sumber daya manusia pendukung menjadi kunci dalam mengelola agenda besar yang berlangsung hampir sepuluh hari.
Dampak ekonomi juga tak terelakkan. Sektor akomodasi, transportasi, dan konsumsi dipastikan bergerak. Lebih jauh, MTQ dapat menjadi etalase nasional bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah Jawa Tengah. Beragam produk lokal berpeluang dikenal luas, sejalan dengan visi pengembangan ekonomi syariah dan pariwisata berkelanjutan yang menjadi arah pembangunan Jawa Tengah 2027.
MTQ juga berpotensi menjadi ruang edukasi dan lingkungan. Khazanah pesantren, manuskrip kitab kuning, hingga gagasan “Green MTQ” yang ramah lingkungan dapat disuarakan sebagai bentuk pembumian nilai Islam rahmatan lil alamin. Penggunaan material ramah lingkungan dan kegiatan bertema ekoteologi dapat memperkaya makna penyelenggaraan.
Pada akhirnya, MTQ bukan hajat satu institusi, melainkan milik seluruh masyarakat Jawa Tengah. Kolaborasi pemerintah, Kemenag, LPTQ, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, media, dan sektor swasta menjadi kunci. Dari sinilah diharapkan MTQ benar-benar menjadi berkah kolektif, memperkuat rasa memiliki, serta menumbuhkan semangat guyub rukun demi kemajuan dan kesejahteraan Jawa Tengah.
