Tasikmalaya – Desa Setiawaras menjadi pusat perhatian pada akhir Jul 2025. Sebuah gerakan pengabdian masyarakat bertajuk “Mengabdi Bersama Masyarakat Melalui Langkah Nyata Mahasiswa dalam Pendidikan, Pengembangan Potensi Lokal, dan Penguatan Nilai Sosial” dilaksanakan selama enam hari penuh, dari 24 hingga 29 Juli oleh mahasiswa Politeknik Triguna Tasikmalaya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Departemen Luar Kampus BEM Politeknik Triguna yang diketuai oleh Hasan Mawaridi, dan dipimpin langsung oleh Muhammad Hikam F. Para mahasiswa mengabdikan diri di Kampung Cigadoan, RT 001 RW 004, Desa Setiawaras, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya. Program ini merupakan penerapan langsung dari Tri Dharma Perguruan Tinggi—khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat—dengan tujuan memberdayakan potensi lokal melalui edukasi, inovasi, dan kolaborasi sosial.
“Desa Setiawaras punya banyak potensi, dari hasil tani, ternak, sampai semangat warganya. Tapi kami masih perlu bimbingan agar lebih maju dalam pemasaran dan pengembangan produk,” ungkap Asep Gusnawan, S.IP, Kepala Desa Setiawaras.
Desa ini tercatat sebagai salah satu wilayah terluas di Tasikmalaya dengan cakupan 1.800 hektare, terdiri dari 71 RT, 26 RW, dan 13 dusun. Warganya sebagian besar berprofesi sebagai petani, peternak, pedagang, dan wiraswasta. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah sistem pemasaran yang belum stabil dan kurangnya akses ke pasar digital.
Mahasiswa hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dalam sesi diskusi, banyak peserta menyoroti perlunya strategi pemasaran yang adil dan merata, termasuk packaging, label halal, pembuatan QRIS, hingga pemanfaatan e-commerce seperti Shopee.
“Pertanyaan mereka sangat konkret—soal harga hasil tani yang fluktuatif, soal keadilan distribusi produk, dan akses pasar online. Ini menjadi catatan penting bagi kami,” ujar salah satu perwakilan dosen Politeknik Triguna Tasikmalaya pada Jumat (24/7/2025).
Beragam kegiatan dijalankan selama program ini, mulai dari seminar pendidikan, gotong royong, pengajaran di sekolah dasar dan madrasah, pengajian, riset ke UMKM ayam petelur, hingga eksplorasi wisata alam Curug Nini dan Goa Ranggawaulung. Tak ketinggalan, kegiatan bakti sosial, diskusi warga, dan olahraga bersama karang taruna mempererat relasi mahasiswa dengan masyarakat.
Kepala desa menyampaikan harapannya bahwa inisiatif mahasiswa ini bisa menjadi model yang diikuti oleh warga untuk mengembangkan potensi lokal, khususnya dalam hal pemasaran. Ia juga menaruh harapan besar pada tokoh masyarakat untuk turut aktif melanjutkan semangat yang telah dibawa para mahasiswa.
Dengan semangat kolaborasi ini, Desa Setiawaras perlahan mulai membuka jalan menuju pemberdayaan ekonomi yang lebih mandiri dan inklusif, berangkat dari kesadaran dan semangat warganya sendiri.
