Bontang – “Mencegah lebih baik daripada mengobati” menjadi gambaran yang tepat dalam upaya memerangi penyalahgunaan narkoba. Di tengah semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi generasi muda, pendidikan mengenai bahaya narkotika dinilai perlu dimulai sejak usia sekolah dasar agar anak-anak memiliki bekal kuat untuk menolak pengaruh negatif sejak dini.
Anggota Komisi B DPRD Kota Bontang, Suharno, menegaskan bahwa langkah pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak boleh menunggu anak memasuki usia remaja. Menurutnya, pendidikan tentang bahaya narkotika harus diberikan sejak jenjang sekolah dasar sebagai bagian dari upaya membangun karakter sekaligus memperkuat daya tahan anak terhadap berbagai ancaman sosial. Ia menilai anak-anak merupakan aset bangsa yang harus mendapatkan perlindungan maksimal melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Saya berharap anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang kuat, tangguh, cerdas, memiliki karakter, jati diri, dan akhlak mulia. Mereka adalah aset bangsa yang harus kita jaga bersama,” ujarnya saat dihubungi melalui aplikasi WhatsApp, Kamis (23/7/2026).
Suharno menjelaskan bahwa pemahaman mengenai bahaya narkoba sebaiknya ditanamkan sejak usia dini karena masa anak-anak merupakan periode penting dalam pembentukan karakter dan pola pikir. Dengan mengenali risiko penyalahgunaan narkotika lebih awal, anak-anak diharapkan memiliki kemampuan untuk menolak ajakan maupun pengaruh yang dapat merugikan masa depan mereka.
“Saya berpendapat pendidikan mengenai bahaya narkoba harus diajarkan sejak dini, bahkan sejak sekolah dasar. Semakin cepat anak memahami bahayanya, semakin kuat pula benteng mereka untuk menolak ajakan yang salah,” katanya.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah daerah, sekolah, Badan Narkotika Nasional (BNN), aparat kepolisian, tokoh agama, hingga keluarga memiliki peran yang sama penting dalam memberikan edukasi yang konsisten kepada anak-anak. Sinergi tersebut dinilai akan menciptakan lingkungan yang lebih aman sekaligus memperkuat kesadaran generasi muda terhadap bahaya narkoba.
“Pemerintah, sekolah, Badan Narkotika Nasional, kepolisian, tokoh agama, dan keluarga harus bekerja sama memberikan pemahaman kepada anak-anak. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan setelah anak menjadi korban,” tegasnya.
Suharno juga mengingatkan bahwa jaringan peredaran narkoba kini semakin aktif menyasar kalangan muda. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pendidikan karakter dan keberanian mengambil keputusan yang benar perlu terus ditanamkan sejak dini. Ia berharap anak-anak memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak terhadap narkoba serta mampu memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan positif.
“Karena itu kita tidak boleh lengah. Anak-anak perlu dibekali keberanian untuk mengatakan tidak terhadap narkoba dan memilih pergaulan yang sehat,” ucap Suharno.
Selain penyuluhan mengenai bahaya narkoba, ia juga mendorong sekolah agar secara rutin memberikan pendidikan kesehatan mental, pembinaan karakter, pendidikan moral, serta pemahaman mengenai risiko pergaulan bebas. Menurutnya, pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan akan menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tangguh menghadapi tantangan zaman.
“Kalau pendidikan moral, akhlak, bahaya narkoba, dan bahaya pergaulan bebas diberikan secara berkesinambungan, saya yakin anak-anak Indonesia akan memiliki bekal yang kuat menghadapi tantangan masa depan. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang,” pungkasnya.
Melalui penguatan edukasi sejak sekolah dasar dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat berjalan lebih efektif. Langkah tersebut tidak hanya melindungi anak-anak dari ancaman narkotika, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi bangsa. (ADV).
