Jakarta – Sungguh seperti tonggak emas bagi Indonesia, Danantara terang-terangan meraih pinjaman bergulir senilai US$10 miliar (sekitar Rp162 triliun) dari 12 bank asing. Fasilitas ini diibaratkan sebagai “payung keuangan”, siap dicairkan saat dibutuhkan—tanpa jaminan apa pun—menjadi fasilitas pinjaman revolver terbesar di Asia Tenggara untuk lembaga SWF. Ironisnya kepercayaan itu diberikan tanpa agunan, hanya berdasarkan reputasi dan prospek lembaga itu.
Dalam keterangannya usai peresmian Wisma Danantara pada Senin (30/6/2025), CEO Rosan Roeslani menegaskan bahwa pendanaan itu adalah bentuk nyata kepercayaan global terhadap Danantara, yang baru diluncurkan pada Februari 2025 dan kini mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$900 miliar.
Menurut sejumlah sumber, fasilitas pinjaman tersebut bukanlah dana yang dicairkan sekaligus. Danantara berencana menarik dana awal sebesar US$3 miliar dari total kredit senilai US$10 miliar tersebut. Dana tersebut akan digunakan untuk pendanaan proyek pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride milik Chandra Asri Pacific, serta investasi bersama sovereign wealth fund asal Qatar dan Tiongkok.
Panitia pinjaman menunjuk empat bank utama sebagai penyelenggara: DBS, HSBC, Natixis, dan Standard Chartered. Keseluruhan pinjaman diberikan tanpa jaminan dari pemerintah, menandakan status keuangan Danantara yang sangat kredibel di mata investor global.
“Kami meyakini seluruh investasi harus menghasilkan return. Itu adalah tanggung jawab besar yang kami emban,” ujar Rosan menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan dan keuntungan menjadi dasar pengelolaan Danantara.
Fasilitas ini juga menjadi tonggak pertama Danantara masuk ke pasar pembiayaan swasta global, menyamai langkah Temasek dari Singapura atau Khazanah dari Malaysia. Dengan tenor tiga tahun dan bunga yang kompetitif, pinjaman ini memberikan fleksibilitas besar dalam pembiayaan proyek strategis.
Ke depan, Danantara memfokuskan investasi pada sektor mineral, energi, dan petrokimia, termasuk hilirisasi nikel dan kerja sama dengan Pertamina untuk proyek energi terbarukan. Dengan pendanaan dari Qatar Investment Authority, China Investment Corporation, dan bank asing, Danantara telah mengantongi lebih dari US$17 miliar hingga Juli 2025.
Keberhasilan Danantara memperoleh fasilitas pinjaman revolver ini membuka jalan baru dalam pembiayaan pembangunan nasional. Namun, tantangan besar terletak pada tata kelola dan akuntabilitas, agar tidak terjerembap dalam skandal seperti 1MDB.
