Mojokerto – Hamparan pohon pisang kini menjadi salah satu wajah baru Pondok Pesantren Segoro Agung di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sebanyak 1.500 pohon pisang yang terdiri atas varietas Cavendish, Ambon, dan Raja dikembangkan sebagai bagian dari program kemandirian santri sekaligus dukungan terhadap Program Pertahanan Pangan Nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Segoro Agung, KH. Bimo Agus Sunarno, mengatakan bahwa pengembangan tanaman pisang bukan sekadar kegiatan pertanian, melainkan sarana pendidikan yang mengajarkan santri untuk mandiri, produktif, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
“Kami ingin para santri belajar bahwa kemandirian dibangun dari kerja nyata. Budidaya 1.500 pohon pisang ini bukan hanya menghasilkan buah, tetapi juga menumbuhkan semangat bekerja, berwirausaha, dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional,” kata KH. Bimo Agus Sunarno.
Menurutnya, pemilihan varietas Pisang Cavendish, Pisang Ambon, dan Pisang Raja dilakukan karena memiliki nilai ekonomi yang baik serta peluang pasar yang terus berkembang. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan pesantren sekaligus menjadi laboratorium pembelajaran bagi para santri.
“Pesantren harus menjadi pelopor kemandirian. Santri tidak cukup hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat. Pertanian adalah salah satu jalan untuk membangun ekonomi umat,” ujarnya.
Program budidaya pisang menjadi bagian dari pengembangan sektor pertanian yang dijalankan Pondok Pesantren Segoro Agung. Para santri dilibatkan dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen. Melalui proses tersebut, mereka memperoleh pengalaman langsung mengenai tata kelola pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
KH. Bimo menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, pesantren memiliki peran strategis untuk melahirkan generasi yang tidak hanya berakhlak mulia, tetapi juga mampu menciptakan ketahanan ekonomi melalui sektor pertanian.
“Harapan kami, santri menjadi generasi yang mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja, serta menjadi bagian dari terwujudnya Indonesia Emas 2045. Ketahanan pangan harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk dari pesantren,” tuturnya.
Selain mengembangkan budidaya pisang, Pondok Pesantren Segoro Agung juga dikenal dengan program pendidikan gratis bagi golongan tertentu dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Melalui semangat Santri Berdaya dan Mandiri, pesantren terus berupaya membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
