Bontang – Membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan membekali anak-anak melalui prestasi akademik. Di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang, pendidikan moral dan akhlak dinilai menjadi fondasi utama agar generasi muda memiliki karakter kuat serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kehidupan.
Momentum Hari Anak Nasional dimanfaatkan Anggota Komisi B DPRD Kota Bontang, Suharno, untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan karakter. Menurutnya, penguatan moral dan akhlak harus kembali menjadi prioritas, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, sebagai langkah preventif menghadapi meningkatnya persoalan kenakalan remaja. Ia menilai pembentukan karakter sejak usia dini menjadi investasi penting dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.
“Selamat Hari Anak Nasional. Saya berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang memiliki jati diri, kuat, tangguh, cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Mereka adalah calon pemimpin bangsa yang harus kita siapkan sejak sekarang,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Suharno mengatakan tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, hingga perubahan pola pergaulan menjadi faktor yang menuntut penguatan pendidikan karakter secara lebih serius. Karena itu, ia menilai pendidikan di sekolah tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus membentuk kepribadian peserta didik agar mampu membedakan perilaku yang baik dan yang buruk.
“Menurut saya, pendidikan moral dan akhlak harus kembali diperkuat di sekolah. Anak-anak jangan hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan, etika, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta tanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak akan memberikan hasil maksimal apabila hanya disampaikan dalam bentuk teori di ruang kelas. Menurutnya, sekolah perlu menghadirkan budaya yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, dan saling menghormati sehingga peserta didik dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekolah perlu membiasakan anak untuk disiplin, jujur, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama. Pendidikan karakter harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mata pelajaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Suharno menilai keberhasilan membangun karakter anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan. Peran keluarga, terutama orang tua, menjadi faktor utama dalam membentuk kepribadian anak sejak usia dini. Ia menekankan bahwa rumah merupakan tempat pertama anak belajar mengenai nilai, etika, dan tanggung jawab sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas.
“Orang tua memiliki peran paling besar. Pendidikan pertama adalah di rumah. Kalau keluarga, sekolah, dan masyarakat berjalan bersama, saya yakin kenakalan remaja dapat ditekan,” ungkap Suharno.
Menurutnya, sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pengawasan sekaligus memberikan teladan yang positif sehingga anak-anak tidak mudah terpengaruh oleh perilaku menyimpang maupun lingkungan yang negatif.
Suharno juga mengingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan memiliki komitmen yang sama untuk memberikan perhatian, pendampingan, dan pendidikan karakter secara berkelanjutan agar anak-anak mampu berkembang menjadi pribadi yang berintegritas serta siap menghadapi masa depan.
“Anak-anak harus mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan teladan yang baik. Dengan begitu mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berkualitas dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju,” pungkasnya.
Penguatan pendidikan moral dan akhlak dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam menekan berbagai persoalan sosial yang melibatkan remaja. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, pembentukan karakter diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, serta akhlak mulia sebagai bekal membangun masa depan bangsa.(ADV) .
