Yogyakarta – Di tengah dinamika urban yang terus berkembang di kawasan Kotagede, sekelompok mahasiswa Kebidanan Angkatan 12 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta mengangkat isu yang kerap luput dari perhatian: kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi (unmet need). Melalui praktik lapangan bertajuk “Pemberdayaan Keluarga untuk Tren Unmet Need”, para mahasiswa turun langsung ke masyarakat untuk menggugah kesadaran, mengedukasi, dan memotret realita yang tersembunyi di balik data statistik.
Kegiatan ini dilangsungkan selama dua pekan, mulai dari [Senin (2/6/2025)] hingga [Sabtu (14/6/2025)], berlokasi di Kantor BKKBN Wilayah Kotagede, Yogyakarta. Dalam rentang waktu tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, melainkan turut menginisiasi aksi nyata dalam bentuk edukasi masyarakat, wawancara mendalam, dan kolaborasi lintas sektor.
Proyek ini merupakan bagian dari tugas praktik lapangan mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat. Secara konseptual, pemberdayaan keluarga difokuskan pada peningkatan kapasitas dan pengetahuan perempuan usia subur agar mampu membuat keputusan yang tepat dalam hal perencanaan keluarga, terutama terkait penggunaan alat kontrasepsi.
Beragam kegiatan dilakukan secara sistematis. Di antaranya adalah pelaksanaan in-depth interview pada [Senin dan Selasa (9–10/6/2025)] yang menyasar informan dari berbagai latar belakang. Wawancara ini bertujuan menggali pemahaman dan pengalaman personal terkait unmet need, serta mengidentifikasi hambatan sosial dan budaya dalam akses terhadap layanan kontrasepsi.
Mahasiswa juga memberikan edukasi langsung kepada warga, terutama kalangan ibu rumah tangga. Edukasi dilakukan secara partisipatif, membahas konsekuensi dari tidak terpenuhinya kebutuhan kontrasepsi, dan pentingnya dukungan keluarga dalam mewujudkan kesejahteraan reproduktif.
“Alhamdulillah, berkat kerja sama dengan adik-adik sekalian, kami menjadi lebih sadar bahwa suatu daerah yang terlihat baik-baik saja pun sebenarnya menyimpan banyak cerita. InsyaAllah, ada hal-hal baru yang juga baru kami pelajari dalam edukasi yang adik-adik pilih ini,” ujar Ketua PCA ‘Aisyiyah Kotagede saat kegiatan berlangsung.
Pernyataan tersebut menggambarkan respons positif dari komunitas lokal terhadap keterlibatan mahasiswa. Selain PCA ‘Aisyiyah, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa kader kesehatan wilayah serta dosen pembimbing dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang turut memantau dan memberikan dukungan akademik.
Menurut salah satu dosen pembimbing, kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa di lapangan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam upaya penguatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga. Ia menekankan bahwa isu unmet need tidak boleh direduksi menjadi masalah teknis semata, melainkan perlu dilihat dalam konteks struktural dan kultural yang lebih luas.
Mahasiswa pun mencatat adanya korelasi antara keterbatasan informasi dan norma sosial yang mengekang perempuan dalam hal pemilihan alat kontrasepsi. Beberapa informan menyampaikan bahwa mereka tidak menggunakan kontrasepsi bukan karena menolak, melainkan karena tidak memiliki akses, atau bahkan karena suami melarang.
“Selama ini saya hanya ikut kata suami. Kalau beliau bilang tidak perlu KB, ya saya ikut saja,” ungkap salah satu informan yang diwawancarai secara anonim.
Fenomena tersebut mencerminkan pentingnya strategi pemberdayaan yang menyasar seluruh unit keluarga, bukan hanya perempuan. Oleh sebab itu, kegiatan ini juga mengedepankan pendekatan komunikasi yang inklusif dan berempati, agar seluruh pihak merasa terlibat dan memahami urgensi persoalan.
Di sisi lain, mahasiswa juga melakukan analisis data dan pemetaan wilayah untuk mengetahui titik-titik rawan unmet need. Informasi ini nantinya akan digunakan sebagai bahan advokasi kepada pemangku kebijakan lokal, sekaligus menjadi referensi akademik bagi pengembangan kurikulum berbasis praktik sosial.
Selama praktik berlangsung, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan distribusi tugas dan memperdalam interaksi dengan warga. Masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab mulai dari fasilitasi diskusi kelompok, pendokumentasian, hingga penyusunan laporan hasil kegiatan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana pembelajaran di kampus dapat dijembatani dengan realitas sosial yang kompleks. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai teori, tetapi juga ditantang untuk menguji sensitivitas sosial, kemampuan komunikasi, dan etika profesi dalam lingkungan nyata.
BKKBN Wilayah Kotagede sendiri menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan siap membuka ruang kolaborasi berkelanjutan. Salah satu staf BKKBN menyebutkan bahwa keberadaan mahasiswa membantu memperluas jangkauan edukasi yang selama ini terkendala sumber daya.
“Kami sangat terbantu. Edukasi yang dilakukan teman-teman mahasiswa memiliki pendekatan yang lebih segar, dekat dengan masyarakat, dan komunikatif,” ujarnya.
Keberhasilan kegiatan ini juga tak lepas dari peran Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dalam mendorong integrasi antara nilai-nilai akademik dan aksi sosial. Kampus ini memang dikenal dengan pendekatan pendidikan berbasis nilai keislaman dan kemanusiaan, yang tercermin dalam setiap program pengabdiannya.
Sebagai penutup, mahasiswa berharap bahwa kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan skalanya. Edukasi mengenai unmet need tidak hanya penting dalam kerangka kesehatan reproduksi, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mewujudkan masyarakat yang berdaya, sehat, dan sejahtera.
“Ini bukan akhir dari tugas kami, melainkan awal dari komitmen untuk terus mendampingi masyarakat dengan ilmu dan empati,” ujar salah satu mahasiswa peserta praktik dengan penuh semangat.
Dengan segala dinamika dan pelajaran yang didapat, praktik lapangan ini telah memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa pemberdayaan tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, melainkan tentang membangun kepercayaan, menciptakan ruang dialog, dan memperkuat kapasitas masyarakat dari dalam.
Penulis: Farah Wardya Ulfa
Mahasiswa Program Studi Kebidanan Program Magister
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
